Radikalisme: Pengertian, Penyebab, Ciri-Ciri, Sejarah, dan Contohnya

Advertisement-Scroll to Continue

Apakah kamu tahu pengertian radikalisme? Seperti kita ketahui, radikalisme merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian serius di seluruh dunia saat ini. Fenomena ini tidak terbatas pada satu negara atau wilayah tertentu, melainkan telah menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan dampak yang signifikan.

Radikalisme, yang seringkali dihubungkan dengan ekstremisme, terutama dalam konteks ideologi politik atau agama, telah memunculkan tantangan besar bagi stabilitas sosial, keamanan, dan perdamaian global.

Artikel ini akan mengulas secara ringkas apa yang dimaksud dengan radikalisme, penyebabnya, serta implikasinya terhadap masyarakat dan dunia internasional.

Pengertian Radikalisme Adalah

Pengertian Radikalisme

Kata Radikalisme berasal dari bahasa Latin, yaitu Radix yang artinya akar. Istilah ini ditujukan untuk hal-hal yang mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok masalah, dan esensi dari berbagai gejala.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada tiga pengertian radikalisme; (1) radikalisme adalah aliran atau paham yang radikal dalam politik, (2) radikalisme adalah aliran atau paham yang menghendaki adanya perubahan sosial dan politik secara drastis, (3) radikalisme adalah aliran politik yang bersikap ekstrim.

Dalam konsep sosial politik, pengertian radikalisme adalah sebuah ideologi atau pandangan yang menekankan perubahan drastis, seringkali melalui tindakan ekstrem atau bahkan kekerasan, untuk mencapai tujuan-tujuan politik, agama, atau sosial tertentu. Individu atau kelompok yang menganut pandangan radikal cenderung menolak status quo atau sistem yang ada, dan mereka memperjuangkan perubahan yang mendalam dalam struktur sosial atau politik.

Terkadang, radikalisme dapat berakar pada ketidakpuasan terhadap ketidakadilan atau ketidaksetaraan dalam masyarakat. Namun, metode yang digunakan oleh kelompok radikal untuk mencapai tujuannya seringkali melibatkan tindakan yang tidak sah atau kekerasan, seperti serangan teroris, revolusi bersenjata, atau tindakan subversif lainnya.

Menurut situs Indonesia.go.id, istilah radikal tidak selalu bermakna negatif tetapi bisa juga bermakna positif, tergantung konteks ruang dan waktu yang melatarbelakangi penggunaan istilah tersebut. Jadi, pada dasarnya radikalisme itu mengacu pada doktrin politik yang dianut oleh pihak-pihak tertentu yang mendukung kebebasan individu dan kolektif.

Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Pengertian Radikalisme Menurut Para Ahli

Pengertian radikalisme dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang dan disiplin ilmu yang digunakan oleh berbagai ahli. Berikut adalah beberapa definisi radikalisme menurut ahli:

1. Clifford Geertz

Menurut Clifford Geertz, seorang antropolog terkenal, pengertian radikalisme adalah perubahan sosial atau politik yang mendasar dan cepat dalam masyarakat. Menurutnya, radikalisme melibatkan perubahan mendalam dalam nilai-nilai, struktur, atau institusi yang ada.

2. Mark Juergensmeyer

Menurut Mark Juergensmeyer, seorang ahli studi agama, pengertian radikalisme  adalah kecenderungan untuk mencari perubahan mendalam dalam sistem sosial, politik, atau agama, biasanya melalui tindakan yang ekstrem atau revolusioner. Ia juga menekankan bahwa radikalisme seringkali melibatkan keyakinan fanatik.

3. Charles Tilly

Menurut Charles Tilly, seorang sosiolog terkenal,  radikalisme  adalah perjuangan untuk menggulingkan struktur kekuasaan yang ada, seringkali melalui konflik fisik atau politik. Ia menyoroti bahwa radikalisme sering muncul dalam konteks ketidakpuasan sosial atau politik.

4. Olivier Roy

Menurut Oliver Roy, seorang pakar dalam studi terorisme dan radikalisme, radikalisme adalah proses di mana individu atau kelompok mengadopsi pandangan-pandangan yang ekstrim atau radikal dan bersedia menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Ia mengaitkan radikalisme dengan alienasi sosial dan ketidakpuasan.

5. George Katsiaficas

Menurut George Katsiaficas, ahli sosiologi politik, pengertian radikalisme  adalah gerakan sosial yang berusaha mengubah masyarakat secara mendasar, seringkali melalui tindakan kolektif dan perubahan politik yang signifikan. Ia menyoroti peran penting pergerakan sosial dalam radikalisme.

6. Asef Bayat

Menurut Asef Bayat, seorang ilmuwan politik, radikalisme  adalah perubahan mendalam dalam pemahaman dan praktik sosial-politik yang melibatkan tindakan kolektif yang menantang norma sosial dan politik yang ada. Ia juga menyoroti peran perubahan budaya dalam radikalisme.

Baca juga: Integrasi Nasional: Pengertian, Syarat, Jenis, dan Faktor Integrasi Nasional

Apa Saja Ciri-ciri Radikalisme?

Radikalisme memiliki beberapa ciri-ciri yang dapat membantu mengidentifikasi perilaku atau pandangan yang bersifat radikal. Ciri-ciri ini dapat beragam tergantung pada konteksnya, apakah itu radikalisme politik, agama, atau sosial.

Mengacu pada pengertian radikalisme di atas, berikut adalah beberapa ciri-cirinya:

1. Penolakan Terhadap Status Quo

Individu atau kelompok yang radikal cenderung menolak sistem atau status quo yang ada. Mereka percaya bahwa perubahan mendalam diperlukan.

2. Kebencian terhadap Pihak Lain

Radikalisme seringkali disertai dengan rasa benci atau permusuhan terhadap kelompok atau individu lain yang dianggap sebagai musuh atau penghalang perubahan.

3. Tindakan Ekstrem atau Kekerasan

Salah satu ciri paling mencolok dari radikalisme adalah keterlibatan dalam tindakan ekstrem atau kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Ini bisa berupa serangan teroris, unjuk rasa kekerasan, atau tindakan subversif lainnya.

Kelompok radikal sering menggunakan media sosial dan propaganda untuk menyebarkan ideologi mereka dan merekrut simpatisan.

4. Ideologi yang Kaku

Radikalisme seringkali didasarkan pada ideologi yang sangat kaku dan tidak berkompromi. Individu atau kelompok radikal mungkin sulit untuk bernegosiasi atau mencapai kesepakatan dengan pihak lain.

5. Penggunaan Retorika Provokatif

Radikalisme seringkali diiringi oleh penggunaan retorika provokatif atau fanatik untuk menggalang dukungan atau memotivasi tindakan-tindakan ekstrem.

6. Pola Pemikiran Biner

Radikalisme sering mengadopsi pemikiran biner, di mana segala sesuatu dilihat sebagai hitam atau putih, tanpa ruang untuk nuansa atau kompromi.

7. Pemahaman Agama atau Ideologi yang Salah

Dalam konteks radikalisme agama, individu atau kelompok bisa memiliki pemahaman yang salah atau ekstrim terhadap agama mereka, sering kali menggunakan agama sebagai justifikasi untuk tindakan kekerasan.

8. Penyelundupan Senjata atau Dana

Dalam beberapa kasus, radikalisme melibatkan kegiatan penyelundupan senjata atau dana untuk mendukung tindakan ekstrem.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua individu atau kelompok yang memiliki ciri-ciri ini akan melakukan tindakan kekerasan. Namun, pengamatan terhadap ciri-ciri radikalisme ini dapat membantu dalam upaya mencegah atau mengatasi radikalisme yang berpotensi berbahaya.

Faktor Penyebab Radikalisme

penyebab radikalisme

Radikalisme adalah fenomena kompleks dan banyak faktor yang dapat menjadi penyebabnya. Faktor-faktor ini dapat berinteraksi satu sama lain, dan kombinasi mereka dapat mempengaruhi individu atau kelompok untuk mengadopsi pandangan atau tindakan yang radikal. Beberapa faktor penyebab radikalisme yang umum meliputi:

1. Ketidakpuasan Sosial atau Politik

Rasa ketidakpuasan terhadap ketidakadilan sosial, ekonomi, atau politik dapat mendorong individu untuk mencari solusi radikal sebagai cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

2. Alienasi dan Marginalisasi

Orang yang merasa diabaikan, terpinggirkan, atau tidak memiliki suara dalam masyarakat dapat menjadi lebih rentan terhadap pandangan radikal karena mereka merasa tidak memiliki alternatif lain.

3. Ekstrimisme Agama

Pemahaman ekstrim terhadap agama atau keyakinan agama yang diinterpretasikan secara radikal dapat mendorong individu atau kelompok untuk melakukan tindakan ekstrem dalam nama agama mereka.

4. Pendidikan dan Propaganda Radikal

Individu yang terpapar pada pendidikan atau propaganda yang mendukung pandangan radikal dapat terpengaruh untuk mengadopsi pandangan ini.

5. Krisis Identitas

Ketidakpastian identitas atau konflik identitas sosial dapat menyebabkan seseorang mencari identitas baru dalam bentuk pandangan atau kelompok radikal.

6. Kekerasan Politik

Adanya konflik politik, perang, atau represi pemerintah dapat menciptakan iklim yang memungkinkan pertumbuhan kelompok-kelompok radikal.

7. Internet dan Media Sosial

Internet dan media sosial memberikan platform untuk menyebarkan pandangan radikal dan merekrut simpatisan. Individu dapat terpapar pada pandangan-pandangan ini secara online.

8. Ketidakstabilan Ekonomi

Ketidakstabilan ekonomi atau pengangguran dapat membuat individu merasa putus asa dan lebih rentan terhadap propaganda radikal yang menawarkan solusi ekstrim.

9. Kurangnya Kesempatan

Kurangnya kesempatan pendidikan, pekerjaan, atau partisipasi politik dapat membuat individu merasa tidak memiliki alternatif selain mengadopsi pandangan radikal.

10. Pengaruh Peer Group

Individu dapat terpengaruh oleh teman-teman atau keluarga yang menganut pandangan radikal atau terlibat dalam aktivitas radikal.

11. Faktor Psikologis

Beberapa individu dapat cenderung mencari sensasi, memiliki kebutuhan untuk kekuasaan, atau memiliki masalah psikologis yang mendorong mereka untuk terlibat dalam tindakan radikal.

12. Pengalaman Traumatis

Pengalaman traumatis seperti konflik bersenjata atau penindasan pribadi dapat mempengaruhi seseorang untuk bergabung dengan kelompok radikal sebagai bentuk balas dendam atau pencarian keadilan.

Sejarah Singkat Paham Radikalisme

Kata Radikalisme berasal dari bahasa Latin, yaitu Radix yang artinya akar. Istilah ini ditujukan untuk hal-hal yang mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok masalah, dan esensi dari berbagai gejala. Pada awalnya, kata “radikal” digunakan untuk merujuk pada konsep perubahan yang mendasar atau mendalam, seringkali dalam konteks politik atau sosial.

Secara historis, kata “radikalisme” digunakan untuk menggambarkan pandangan atau tindakan yang mendorong perubahan drastis dalam struktur sosial atau politik. Penggunaan awal kata ini dapat ditemukan pada abad ke-19 ketika gerakan politik yang sangat revolusioner muncul di berbagai belahan dunia.

Dengan waktu, istilah “radikalisme” telah berkembang menjadi istilah yang lebih luas, digunakan untuk merujuk pada pandangan atau tindakan yang menekankan perubahan drastis dalam berbagai konteks, termasuk agama, sosial, budaya, dan politik. Dalam banyak kasus, “radikalisme” merujuk pada pandangan atau tindakan yang dianggap ekstrem atau bahkan berpotensi berbahaya.

Awal Mula Paham Radikalisme

Menurut Ensiklopedia Britanica, istilah radikalisme dikenal pertamakali setelah Charles James Fox memaparkan tentang paham tersebut pada tahun 1797.

Saat itu, Charles James Fox menyerukan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan di Britania Raya (Inggris). Reformasi tersebut dipakai untuk menjelaskan pergerakan yang mendukung revolusi parlemen di negara tersebut. Pada akhirnya ideologi radikalisme tersebut mulai berkembang dan kemudian berbaur dengan ideologi liberalisme.

Di Prancis sebelum tahun 1848, penggunaan istilah radikal merujuk pada orang-orang yang mendukung hak pilih universal atau republik. Memasuki abad ke-19, istilah radikalisme berubah makna menjadi manusia yang dapat mengendalikan lingkungan sosial dengan tindakan kolektif.

Sedangkan di Amerika, pengertian radikalisme adalah ekstrimisme politik dalam bentuk apapun. Paham komunisme dianggap sebagai radikal kiri, dan fasisme dianggap sebagai radikal kanan. Gerakan-gerakan pemuda Amerika Serika yang mengecam nilai-nilai sosial dan politik tradisional pada saat itu disebut radikal.

Radikalisme seringkali dikaitkan dengan agama tertentu, khususnya Islam. Salah satu contohnya dapat kita lihat dari adanya kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang menginginkan perubahan tatanan dunia dengan cara kekerasan dan teror dengan membawa/ menyebutkan simbol-simbol agama Islam dalam setiap aksi mereka.

Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Contoh Radikalisme yang Pernah Terjadi di Indonesia

Radikalisme tidak selalu bermakna negatif. Namun, istilah ini seringkali ditujukan pada pihak-pihak yang menginginkan perubahan sosial politik dengan cara kekerasan sehingga istilah radikalisme yang bermakna negatif.

Indonesia, sebagai negara yang beragam budaya, agama, dan etnis, telah menghadapi berbagai bentuk radikalisme dalam sejarahnya. Berikut beberapa contoh radikalisme yang pernah terjadi di Indonesia beserta penjelasannya:

1. Gerakan 30 September (G30S/PKI)

G30S/PKI adalah upaya kudeta militer yang dilakukan oleh sekelompok perwira militer yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965. G30S/PKI berusaha menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno.

Kudeta ini gagal dan memicu peristiwa G30S/PKI yang mengakibatkan pembersihan massal terhadap anggota PKI dan pendukungnya. Kekerasan dan pembunuhan massal terjadi di seluruh Indonesia, mengakibatkan jutaan kematian.

2. Konflik Ambon dan Poso

Konflik antar-etnis dan agama di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulawesi Tengah) pada tahun 1999-2000 adalah contoh lain dari radikalisme. Ini melibatkan kelompok-kelompok Islam dan Kristen yang terlibat dalam serangkaian bentrokan dan kekerasan.

Dampak yang terjadi dari konflik ini telah mengakibatkan ribuan kematian, pengungsi, dan kerusakan sosial serta ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut.

3. Gerakan Islam Radikal

Indonesia telah menghadapi beberapa kelompok Islam radikal seperti Jemaah Islamiyah (JI) yang terlibat dalam serangkaian serangan terorisme, termasuk Bom Bali pada tahun 2002 dan serangkaian serangan lainnya.

Serangan-serangan ini menyebabkan kematian dan luka-luka serta mengancam kestabilan keamanan di Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia telah mengambil tindakan keras untuk menanggulangi kelompok-kelompok ini dengan kerjasama internasional.

4. Gerakan Separatis Papua

Beberapa kelompok di Provinsi Papua, seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), telah berjuang untuk kemerdekaan atau otonomi lebih besar dari Indonesia.

Konflik ini telah berlangsung selama beberapa dekade dan menyebabkan ketidakstabilan di Papua. Upaya rekonsiliasi dan penyelesaian konflik terus berlanjut.

5. Gerakan Islam Konservatif

Kelompok-kelompok Islam konservatif di Indonesia, seperti FPI (Front Pembela Islam) dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), telah mempromosikan pandangan radikal terkait agama dan politik.

Meskipun tidak semua kelompok ini terlibat dalam kekerasan, pandangan mereka dapat mempengaruhi politik dan masyarakat Indonesia dalam berbagai cara, termasuk dalam konteks perubahan sosial dan politik.

Bagaimana Cara Menangkal Radikalisme?

Menangkal radikalisme adalah upaya yang kompleks dan melibatkan banyak aspek, termasuk pendidikan, sosial, politik, dan keamanan. Berikut adalah beberapa cara untuk menangkal radikalisme:

1. Pendidikan dan Kesadaran

Membangun pemahaman yang kuat tentang keragaman budaya, agama, dan ideologi serta mengajarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan pluralisme melalui pendidikan adalah kunci dalam mencegah radikalisme. Program pendidikan yang mempromosikan pemahaman antaragama dan antarbudaya dapat membantu meredakan ketegangan.

2. Pemberdayaan Ekonomi

Memberikan kesempatan ekonomi kepada individu dan komunitas yang rentan terhadap radikalisme dapat mengurangi faktor pendorong radikalisme. Program pelatihan kerja, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan dapat membantu mengurangi ketidakpuasan sosial.

3. Keterlibatan Masyarakat

Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembuatan keputusan dan mengatasi masalah sosial dapat membantu membangun ikatan sosial yang kuat. Inisiatif yang melibatkan masyarakat dalam mendiskusikan permasalahan dan mencari solusi bersama dapat memperkuat stabilitas sosial.

4. Pengawasan Media Sosial

Mengawasi dan mengendalikan penyebaran propaganda radikal di media sosial adalah langkah penting dalam mencegah rekrutmen online. Pemerintah, platform media sosial, dan masyarakat sipil dapat bekerja sama untuk melacak dan mengatasi konten radikal.

5. Penegakan Hukum dan Keamanan

Penegakan hukum yang efektif dan keamanan yang kuat sangat penting dalam mengatasi kelompok radikal yang telah bersenjata. Hal ini melibatkan kerjasama antara lembaga keamanan, intelijen, dan hukum dalam mengidentifikasi, menghentikan, dan membawa pelaku radikalisme ke pengadilan.

6. Kerja Sama Internasional

Isu radikalisme sering kali melibatkan aspek internasional. Kerja sama dengan negara-negara lain, baik dalam pertukaran informasi intelijen maupun dalam upaya mencegah rekrutmen lintas batas, dapat sangat efektif dalam mengatasi radikalisme.

7. Dialog Antaragama dan Antarkomunitas

Memfasilitasi dialog yang konstruktif antara berbagai kelompok agama dan komunitas dapat membantu membangun pemahaman dan kerjasama yang lebih baik. Ini dapat mengurangi ketegangan antaragama dan antarkomunitas yang seringkali menjadi pemicu radikalisme.

8. Pendekatan Pencegahan

Menerapkan program pencegahan yang bertujuan untuk mendeteksi dini indikasi radikalisme dan memberikan perawatan atau rehabilitasi kepada individu yang terpengaruh dapat membantu menghindari tindakan ekstrem.

9. Kepemimpinan Berperan

Pemimpin politik, agama, dan masyarakat yang berperan sebagai model peran yang positif dalam masyarakat dapat memengaruhi pendukung mereka untuk menghindari pandangan dan tindakan radikal.

10. Keterbukaan dan Kebebasan Berbicara

Memastikan bahwa masyarakat memiliki akses yang luas ke informasi dan kebebasan untuk berbicara adalah penting. Namun, juga penting untuk menangani penyalahgunaan kebebasan ini dengan bertanggung jawab.

Baca juga: Kesenjangan Sosial: Pengertian, Faktor Penyebab, Dampak, dan Contohnya

Dalam kesimpulan, penting untuk mengakui bahwa radikalisme merupakan fenomena kompleks yang mempengaruhi berbagai aspek masyarakat dan politik. Meskipun ada faktor-faktor yang dapat memicu munculnya radikalisme, seperti ketidakpuasan sosial, ketidakadilan, dan ketegangan politik, penting bagi kita semua untuk berusaha memahami akar permasalahan ini secara mendalam.

Langkah-langkah preventif dan edukatif menjadi kunci untuk mengatasi radikalisme, dengan mempromosikan dialog terbuka, inklusifitas, dan pemahaman antarbudaya. Dengan demikian, bersama-sama kita dapat membangun masyarakat yang lebih damai, toleran, dan menghormati hak-hak asasi manusia bagi setiap individu, tanpa memandang latar belakang atau kepercayaan mereka.

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai pengertian radikalisme, ciri-ciri, serta penyebab radikalisme di berbagai tempat. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.

Advertisement
Asep Irwan

Asep Irwan adalah content writer di Maxmanroe.com. Memiliki minat besar di dunia kepenulisan, blogging, dan media online.

Leave a Comment