Studi Menunjukkan, Pengguna Facebook Masih Setia Dengan “Jempol”nya

Facebook Reaction

Image dari Thedrum.com

Beberapa bulan yang lalu Facebook telah meluncurkan sebuah fitur baru yang melekat pada layanannya yakni tombol Reaction. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tombol Reaction ini mempunyai fungsi layaknya tombol Like namun dengan berbagai variasi ekspresi.

Menurut pihak pengembang, pembuatan tombol Reaction dikhususkan untuk semakin memberi pilihan bagi pengguna yang ingin mengekspresikan perasaan tertentu yang sebelumnya tidak bisa tersalurkan hanya dengan tombol “Jempol”. Namun yang unik, dari hasil sebuah studi menunjukkan bahwa ternyata minat pengguna #Facebook masih sangat minim untuk menggunakan fitur Reaction dan cenderung tetap setia dengan tanda Jempol khas Facebook.

Tombol Emoji Reaction Masih Kalah Pamor

Mengulas kembali tentang tombol emoji Reaction yang dikeluarkan oleh Facebook beberapa waktu lalu, fitur yang satu ini memang bisa menjadi alternatif para pengguna Facebook yang sebelumnya hanya disuguhi tombol Like. Konten Facebook yang tentunya sangat beragam dan membawa pesan-pesan tertentu, membutuhkan alternatif penyampaian reaksi yang lebih beragam. Dari situlah pihak pengembang Facebook memutuskan untuk memberikan tambahan emoji antara lain seperti emoji marah, tertawa, sedih serta terkejut.

Tapi ternyata, dari sebuah studi kasus media sosial yang dijalankan oleh Quintly mengungkap bahwa fitur emoji Reaction tidak atau belum mampu menarik perhatian mayoritas pengguna Facebook. Kebanyakan dari pengguna masih lebih suka menggunakan tombol like untuk mengekspresikan ketertarikan pada sebuah konten di timeline Facebook mereka.

Artikel lain: Facebook Reaction ~ Fitur Terbaru Pengganti Fungsi Tombol Dislike

Dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Quintly, perusahaan tersebut menggunakan data tak kurang dari 130.000 posting Facebook sebagai bahan penelitian. Dari jumlah konten yang sangat besar tersebut, terbukti bahwa penggunaan emoji Reaction tergolong masih sangat minim.

Kebanyakan dari pengguna masih jarang meluangkan waktu untuk memilih emoji dengan karakter seperti apa yang pas untuk memberikan ekspresi pada sebuah konten. Mayoritas dari konten yang telah diteliti menunjukkan bahwa, tombol Like lebih sering digunakan dan kemudian pengguna langsung melakukan scroll pada konten selanjutnya. Jika dihitung dalam prosentase, 97% content yang diteliti mempunyai interaksi berupa pemberian tombol like, komentar serta share. Dan sisanya baru “ditempeli” dengan stiker emoji ekspresi lain seperti tertawa, marah ataupun sedih.

Lebih Banyak Digunakan Untuk Konten Video

Namun di sisi lain ternyata fitur Reaction yang dimunculkan oleh Facebook, lebih banyak ditemui pada jenis konten video. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa konten dalam bentuk video mendapatkan Reaction lebih banyak 40% dibanding dengan konten berupa foto ataupun status. Selain itu data yang didapat juga menunjukkan bahwa pemilihan emoji Reaction yang paling banyak digunakan untuk konten video adalah emoji terkejut atau wow.

Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa fitur Reaction juga diminati oleh pengguna Facebook. Namun karena dirasa kurang praktis karena harus mencari emoji yang pas terlebih dahulu, pengguna awam lebih memilih fitur like yang terasa lebih instan untuk digunakan.

Menunjukkan Perkembangan Positif

Meskipun saat ini fitur emoji Reaction belum terlalu banyak digunakan oleh para penggiat Facebook, namun pihak pengembang yakin bahwa fitur yang satu ini yang masih menunjukkan perkembangan positif dari waktu ke waktu. Pasalnya, saat ini konten yang bertebaran di media sosial Facebook sudah begitu bervariasi. Tidak hanya konten umum dan bersifat personal, konten dengan pesan tertentu juga semakin banyak muncul pada layanan online besutan Mark Zuckerberg tersebut.




Ditinjau lagi dari alasan pembuatan fitur Reaction, pada awalnya dulu pihak pengembang didesak oleh para pengguna untuk membuat sebuah fitur baru yakni tombol dislike. Namun dengan pertimbangan bahwa tombol dislike tersebut mampu menimbulkan kesan negatif serta provokatif, akhirnya diberikan solusi dengan munculnya tombol Reaction yang berisi beberapa ekspresi tertentu untuk merespon sebuah konten.

Baca juga: Facebook, Media Sosial Paling Banyak Digunakan Kaum Muda Indonesia

Disampaikan oleh founder Facebook Mark Zuckerberg, keputusan pembuatan fitur Reaction merupakan upaya perusahaannya untuk terus memberikan layanan terbaik dengan tetap memperhatikan hak-hak pengguna. Pemberian ekspresi yang berbeda, dinilai mark sebagai bentuk penyampaian pendapat yang bersifat positif.

“Kami tidak ingin tombol dislike digunakan untuk menghina atau mengganggu seseorang. Tombol ini justru ditujukan untuk menunjukkan rasa empati,” kata Zuckerberg.



1 comment on this postSubmit yours
  1. masih dibilang lebih efektif “like” karena tidak perlu buka layar baru. di samping itu predikat “likers” sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi orang-orang yang hobi nge-like

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud