Microsoft Lawan Software Bajakan, Ini Alasan dan Cara Melawannya

bahaya software bajakan

Image dari Dobelklik.co

Produk bajakan sampai saat ini memang masih menjadi ancaman para seniman dan pekerja kreatif lain. Inilah yang kemudian membuat banyak kebijakan dan peraturan yang muncul terkait produk bajakan ini. Tak hanya dari kisah bisnis biasa, namun pada perusahaan skala besar dan raksasa pun masalah pembajakan ini juga muncul. Dan salah satu perusahaan raksasa yang juga mengalami masalah pembajakan ini adalah #Microsoft.

Sebagai salah satu perusahaan pembuat sistem operasi Personal Computer (PC) yang sudah mendunia, Microsoft tentunya akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi atau memproteksi karyanya. Maka dari itu Microsoft saat ini sedang melakukan perlawanan pada oknum-oknum pembuat software bajakan. Lalu apa alasan Microsoft melakukan ini? dan bagaimana mereka melakukannya? Berikut ulasannya.

Data dan Fakta Produk Bajakan di Indonesia

Berdasarkan sebuah riset dan penelitian yang dilakukan oleh International Data Corporation (IDC) diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dimana jumlah pengguna #software bajakannya sudah mencapai angka 84 persen. Sedangkan menurut penelitian dari  Microsoft di Indonesia, terungkap bahwa persentase PC di Indonesia yang sudah terinfeksi malware telah mencapai angka 63 persen.

Seperti kita ketahui bersama bahwa karya terbaru Microsoft yaitu Windows 10 telah disematkan sebuah fitur atau kemampuan yang mampu mendeteksi serta mematikan software bajakan atau hardware ilegal. Fitur anti software dan hardware bajakan ini sendiri tentunya sudah diperhitungkan dan direncanakan oleh Microsoft.

Artikel lain: Sering Gunakan Software Bajakan? Ini Dampak Buruknya Bagi Bisnis Anda

Penyematan anti software dan hardware ini dibuat olah Microsoft dengan alasan untuk meminimalisir pembajakan terhadap sistem operasi Windows 10 dan software untuk Windows. Fitur keamanan anti bajakan yang ada di Windows 10 ini antara lain Windows Hello, Windows Defender dan SmartScreen.

Menghindari Pengguna dari Serangan Cyber

Selain untuk meminimalisir pembajakan, penerapan software dan hardware anti bajakan ini juga dilakukan dengan alasan membantu pengguna agar tidak menjadi korban serangan cyber, terutama yang mengarah pada transaksi finansial perbankan online.

Menurut penjelasan OEM Director Microsoft Indonesia, Linda Dwiyanti, tindakan hacker pada perbankan online ini memang sudah memprihatinkan. Maka dari itu pihak Microsoft kemudian membuat Windows 10 dengan beberapa fitur keamanan yang terbilang mumpuni termasuk untuk menangkan serangan cyber pada kegiatan finansial perbankan online.

Lakukan Edukasi Bahaya Software Bajakan

Selain menerapkan fitur keamanan anti bajakan, Microsoft juga bergerak dengan melakukan edukasi tentang bahaya penggunaan software bajakan. Menurut Ruben I Hattari, Director of Corporate Affairs Microsoft Indonesia penjelasan mengenai software bajakan ini memang semakin obsolete (usang). Hal ini menurut Ruben dikarenakan oleh tren #teknologi yang sudah berubah dari software ke komputasi awan (cloud).

Dari sini maka tren penggunaan software pun mulai berkurang karena bergeser ke cara online. Meski demikian ternyata penjualan software bajakan secara fisik masih ada. Untungnya usaha edukasi yang dilakukan Microsoft ini juga didukung oleh pemerintah dengan mengeluarkan undang-undang hak cipta baru yang melarang pedagang dan konsumen melakukan transaksi software bajakan.




Baca juga: Pentingnya Memahami dan Mencermati Terms of Service (ToS)

Terapkan Penyesuaian dengan Sebuah Pendekatan

Edukasi mengenai bahaya penggunaan software bajakan yang dilakukan oleh Microsoft sendiri  saat ini disesuaikan dengan pendekatan pada para penggunanya. Cara konkritnya sendiri Microsoft melakukan diskusi dengan sebuah pendekatan bahwa software bajakan itu merusak kreativitas anak bangsa. Mengapa produk bajakan bisa merusak kreativitas anak bangsa? Sebab produk bajakan tidak akan menciptakan sebuah intensif yang bisa pengembang ketika menciptakan software.

Tingkat bahaya dari software bajakan ini sendiri pernah diteliti oleh Microsoft dengan melakukan kerja sama dengan National University of Singapore dan beberapa rekan di Singapura. Dalam penelitian itu Microsoft dan rekanan melakukan pembelian pada beberapa perangkat dan software bajakan untuk kemudian dilakukan uji coba forensik.

Dan hasil yang didapat dari penelitian dan uji coba ini sendiri cukup mencengangkan. Pasalnya diketahui lebih dari 90 persen software bajakan yang dibeli itu ternyata diselipkan malware dan botnet. Malware dan botnet yang berasal dari penggunaan software bajakan ini sendiri tentunya sangat berbahaya, sebab bisa mencuri data-data pribadi Anda.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud