Mengenal Uchi ~ Konsep Kekeluargaan dalam Bisnis dan Perusahaan Jepang

Uchi budaya bisnis Jepang

Image dari Vnmanpower.com

Jika bicara tentang Jepang memang kita akan selalu menemukan keunikan di dalamnya. Entah dari budayanya, etos kerjanya dan hal lainnya seringkali membuat kita kagum dibuatnya. Bayangkan saja Jepang yang luluh lantak karena serangan bom atom pasukan sekutu tahun 1945 bisa bangkit kembali dengan cepat menjadi negara terdepan di Asia.

Jepang bersama Tiongkok dan Korea Selatan saat ini memang telah menjadi negara terkuat dan terdepan di Asia. Dengan kemajuan #teknologi yang dimilikinya ketiga negara tersebut telah menjadi macan Asia dalam beberapa generasi. Kemajuan yang dialami oleh ketiga negara ini termasuk Jepang memang tak bisa dilepaskan dari budaya atau etos kerja masyarakatnya yang sangat tinggi.

Masyarakat Jepang yang selalu mengedepankan budaya kerja keras membuat bisnis atau perusahaan yang ada di Jepang memiliki tingkat kestabilan yang baik. Dalam bisnis yang ada di Jepang sendiri dikenal konsep Uchi. Lalu seperti apakah konsep Uchi dalam bisnis di Jepang ini sebenarnya? Berikut ulasannya.



Cara Menempatkan Diri Pada Suatu Lingkungan

Bagi orang Jepang, perusahaan tempat ia bekerja adalah uchi, atau yang memiliki makna (bagian) dalam. Uchi dalam arti lain juga bisa bermakna rumah. Dari sini maka bisa diambil kesimpulan bahwa kata ini adalah sebuah cara atau konsep dari masyarakat Jepang untuk menjadikan perusahaan tempat ia bekerja sebagai bagian dalam dari dirinya serta rumah untuk kehidupannya.

Cara atau konsep uchi sendiri merupakan metode orang Jepang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan. Saat ia berada di suatu lingkungan maka orang-orang Jepang ini akan menempatkan dirinya di suatu titik, dimana ada titik terdekat dari dirinya yang disebut uchi dan titik terjauhnya yang berada di luar disebut dengan soto.

Artikel lain: Inilah Resep Rahasia Di Balik Kesuksesan Orang Jepang

Konsekuensi Konsep Kekeluargaan Uchi

Karena konsep uchi ini membawa orang Jepang pada bagian dari dalam dirinya maka perusahaan  di sana bukan hanya sekedar tempat bekerja, namun juga sudah menjadi rumah. Bagi mereka orang-orang Jepang, perusahaan adalah sebuah keluarga besar. Dari adanya pemahaman ini maka konsep ini membawa konsekuensi pada nama baik perusahaan yang harus mereka jaga dengan baik.

Menjaga nama baik perusahaan ini sendiri dilakukan oleh para pekerja Jepang dengan dua cara yaitu pertama dengan menjaga mutu produk maupun layanan perusahaan. Dan kedua adalah menjaga sikap dari perbuatan tercela yang bisa mencemarkan nama baik perusahaan.

Lebih Menonjolnya Identitas Perusahaan Daripada Identitas Diri

Selain berkaitan dengan menjaga nama baik, konsep kekeluargaan uchi juga sering dikaitkan dengan penggunaan identitas perusahaan yang khas. Daripada mengusung identitas diri mereka akan berjuang dengan sangat keras untuk menjadikan identitas perusahaannya ditempat yang paling tinggi. Ciri khas lainnya yang bisa kita dapati dari konsep kekeluargaan uchi adalah rendahnya tingkat kepindahan karyawan.

Di Jepang, ketika seseorang masuk dan bekerja di sebuah perusahaan, maka  mereka akan berkarir disana sampai pensiun. Sangat jarang ditemui orang-orang Jepang yang berpindah-pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain dengan waktu yang cepat. Fakta ini tentunya akan semakin nyata dan mencolok bila dibandingkan dengan kenyataan di Indonesia.

Konsep Uchi yang Khas di Jepang

Konsep kekeluargaan uchi di Jepang memang sangat khas dan sudah berlangsung dalam sejarah perjalanan bisnis Jepang. Seperti kita tahu bahwa umumnya bisnis di Jepang diawali dari bisnis keluarga. Hal ini terbukti dari nama perusahaan serta brand produk dari bisnis di Jepang yang selalu menggunakan nama keluarga pendiri perusahaan.

Sebut saja nama Honda, Suzuki, Mazda (Matsuda), dan lain-lain yang merupakan nama orang. Di Jepang sendiri sampai saat ini masih bisa dijumpai beberapa perusahaan kecil-menengah yang dikelola dengan basis bisnis keluarga.

Baca juga: Yaokikai ~ Mengutip Inspirasi Dari “Gudangnya” Para Pengusaha Bangkrut Asal Jepang

Meski terlihat sangat menguntungkan, namun dalam pengaruh yang lebih luas, konsep uchi juga memunculkan masalah. Hal ini sendiri terjadi saat konsep uchi berada di luar Jepang. Saat berada di luar Jepang konsep uchi menjadi kabur maknanya. Saat di luar para direksi perusahaan Jepang diduga tak siap untuk memasukkan orang-orang lokal ke dalam lingkaran kekeluargaan merek. Meskipun ada yang masuk, orang-orang luar ini umumnya akan merasakan adanya diskriminasi.

Yang lebih mencengangkan lagi saat perusahaan Jepang berada di luar mereka merasa keheranan melihat rendahnya rasa memiliki pada karyawan yang direkrut dari luar. Selain itu para direksi perusahaan Jepang ini juga merasa aneh adanya serikat pekerja yang tak jarang memperlakukan perusahaan sebagai musuh.





Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud