Mempelajari 3 Metode Psikologi Untuk Kian Terkoneksi Dengan Audience Bisnis Anda

psikologi marketing

Image dari Npws.net

Bagi mereka yang menjalankan sebuah bisnis tentu sangat menginginkan adanya keterjalinan yang kuat hubungan antara bisnis Anda dengan para konsumen. Keterikatan inilah yang banyak dicari oleh para pengusaha untuk bisa membawa bisnisnya menuju kesuksesan. Sebagai contoh, ketika kita menjalankan strategi marketing melalui #media sosial, kita tentu sangat ingin konten yang kita unggah lewat akun bisnis media sosial kita mampu mendapatkan like, share ataupun komentar dari para audiens kita.

Namun untuk bisa membuat konten yang menarik bagi pengguna, kita juga harus memikirkan kualitas dari konten tersebut. Lalu bagaimana kita bisa menarik minat pengguna? Salah satunya yakni dengan memikirkan apa yang mereka butuhkan. Oleh karena itu di situlah pentingnya mengetahui psikologis dari konsumen. Dengan mengetahui beberapa strategi psikologis konsumen, kita bisa semakin mendekatkan brand bisnis kita di hati pengguna.

Jika Anda ingin menerapkan strategi semacam ini, berikut ada tiga metode yang bisa Anda coba.

1. Berikan Social Proof

Pada saat ini kita bisa dengan mudah menemui testimoni atau review yang diberikan oleh pengguna terhadap sebuah bisnis atau brand tertentu. Kekuatan dari testimoni inilah yang mampu menjadi magnet untuk mendatangkan lebih banyak pengguna lain. Ketika kita bisa membuktikan bahwa bisnis kita mempunyai review yang baik di mata sebagian konsumen, maka konsumen yang telah puas tersebut bisa menyebarkan pengalaman positif yang mereka alami kepada pengguna lain.

Inilah pentingnya memberikan sosial proof atau bukti sosial. Sebagai contohnya sebuah studi kasus bisnis pernah dijalankan dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mempengaruhi konsumen di sebuah perumahan untuk beralih dari penggunaan ac menuju penggunaan kipas angin.

Artikel lain: Maksimalkan Promosi Toko Online Anda dengan 5 Konsep Psikologi Berikut Ini

Dari studi kasus tersebut ternyata upaya marketing yang lebih berhasil adalah dengan menyampaikan bahwa 77% dari tetangga konsumen tersebut menggunakan kipas angin ketimbang AC. Cara tersebut ternyata lebih efektif daripada kita menyampaikan bahwa dengan menggunakan kipas angin, pengguna bisa lebih berhemat dari sisi pengeluaran keuangan.

Jika dihubungkan dengan membangun keterkaitan atau hubungan yang baik antara brand bisnis dengan audiens online, kita juga bisa melakukan hal serupa yakni dengan memberikan bukti bahwa apa yang bisnis kita suguhkan merupakan hal yang dipandang positif oleh pengguna lain. Kita bisa mencari review ataupun komentar positif tersebut melalui akun media sosial secara langsung, atau bisa juga mengunjungi blog yang mengulas tentang bisnis kita.

Cara lainnya bisa dengan memperkenalkan bisnis lewat situs #e-commerce. Nantinya ketika ada pelanggan yang puas tentu akan memberikan review dan komentar pada situs tersebut. Input tersebutlah yang nantinya bisa kita kumpulkan dan menjadi modal berharga untuk meningkatkan hubungan dengan konsumen.

2. Gunakan Kharisma Sosok Idola

Strategi psikologis berikutnya yang bisa kita terapkan untuk mempererat hubungan antara bisnis Anda dengan konsumen adalah dengan menggunakan jasa dari tokoh ataupun sosok populer. Mungkin istilah yang lebih jamak kita dengar adalah endorsement.




Dengan proses seperti ini kita bisa membangun persepsi di mata konsumen bahwa bisnis kita merupakan bisnis yang sesuai bagi mereka. Alasannya adalah, tokoh populer baik itu artis, olahragawan ataupun dari kalangan apapun, merupakan sosok yang dijadikan panutan dan kebanyakan penggemarnya akan meniru apa yang dilakukan atau dipakai oleh idolanya tersebut.

Selain itu keuntungan menggunakan strategi yang satu ini adalah dapat meningkatkan kesan profesional dari bisnis kita. Karena seperti diketahui, untuk bisa mendapatkan kerjasama dengan tokoh terkenal tentu bukan hal yang mudah. Terutama jika tokoh tersebut memang memiliki basis penggemar yang luar biasa besar.

Baca juga: Bahasa Marketing yang Sangat Ampuh untuk Pemasaran Online

3. Membangun “Kelangkaan” Produk

Pada tahun 1985, pada saat itu perusahaan Coca-cola mengadakan sebuah eksperimen unik untuk mengetahui formula mana yang lebih disukai oleh konsumen, antara formula lama atau formula baru yang sedang dikembangkan. Oleh karena itu mereka mencoba untuk memberikan sampel kepada lebih lebih dari 1000 orang konsumen yang menyukai Coca-cola tanpa memberi tahu bahwa ada formula baru yang sedang diuji cobakan.

Setelah proses pengujian sampel dilakukan, ternyata mayoritas dari tester tersebut lebih menyukai rasa formula baru. Akhirnya diputuskan, pihak produsen Coca-Cola tidak lagi menggunakan formula yang lama. Namun apa yang terjadi? Ternyata justru setelah beberapa minggu dijalankan, banyak masyarakat yang merasa formula lama terasa lebih nikmat ketimbang formula yang baru.

Alasannya adalah, adanya kelangkaan produk yang menyebabkan mayoritas penyuka Coca-Cola akan merasakan rasa kehilangan (fear of missing). Dampak rasa kehilangan inilah yang justru menimbulkan keinginan untuk mencoba terus sebuah produk. Strategi semacam ini memang cukup unik jarang dilakukan. Namun jika berhasil di lakukan, dampak yang akan diperoleh juga sangatlah besar.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud