Hafalan Niat Puasa Ramadhan Bahasa Jawa Beserta Artinya

Advertisement-Scroll to Continue

Masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik yaitu terkadang mengucapkan niat puasa Ramadhan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa daerah mengindikasikan adanya pengaruh identitas dan budaya saat menjalani ritus ibadah.

Mengapa disebut kadang-kadang karena perihal mengucapkan niat sangat tergantung pada pilihan individu. Ada yang melafalkan bahasa Jawa dan ada pula yang bahasa Arab. Namun seringpula kombinasi keduanya.

Biasanya masyarakat Jawa melantunkan niat puasa bahasa Jawa sehabis melaksanakan sholat tarawih. Jadi ada lagu puji-pujian bahasa Jawa yang memang lantunannya merupakan niat berpuasa.

Bacaan Niat Buka Puasa Bahasa Jawa dan Artinya

Mari mulai membahas tentang niat buka puasa dalam bahasa Jawa. Tidak semua orang tahu artinya jadi ayo menerjemahkan pula dalam bahasa Indonesia yang semua orang cenderung paham maknanya.

Meskipun masyarakat Jawa mayoritas beretnis Jawa, namun tidak semua orang Nusantara bisa bahasa Jawa. Jadi untuk memahami bacaan niat terkadang jadi sulit kalau tidak ada terjemahan bahasa nasional.

apakah orang Jawa puasa

Berikut adalah lantunan niat buka puasa berbahasa Jawa secara lengkap dengan artinya yang rinci. Nanti pada bab berikutnya akan dibahas pula mengenai manfaat membaca niat berpuasa Ramadhan dalam bahasa Jawa.

“Niat ingsun puoso ing dino ngesuk, sak anekani ferdhune wulan Romadhone ing dalem sak jerone tahun iki, fardhu kerono lillahi Ta’ala“

Artinya:

“Saya niat berpuasa pada hari besok, menjalankan puasa Ramadhan yang wajib pada tahun ini karena Allah Ta’ala”

Jika melihat pada lantunan niat buka puasa Ramadhan bahasa Jawa di atas tampaklah bahwa ucapan dan artinya kurang lebih sama dengan niat dalam bahasa Arab. Sama-sama dalam rangka meneguhkan hati untuk melaksanakan puasa Ramadhan.

tradisi puasa Orang Jawa

Coba bandingkan dengan lafadz niat puasa Ramadhan dalam bahasa Arab, memang jika melihat terjemahannya akan memiliki satu makna yang sama yaitu tentang kesiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.”

Artinya: Aku niat menjalankan puasa pada hari besok untuk melaksanakan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.

Jika melihat pada lantunan niat buka puasa Ramadhan bahasa Jawa di atas tampaklah bahwa ucapan dan artinya kurang lebih sama dengan niat dalam bahasa Arab. Sama-sama dalam rangka meneguhkan hati untuk melaksanakan puasa Ramadhan.

Baca Juga: Arti Teks Marhaban Ya Ramadhan, Keutamaan Mengucapkannya

Kebiasaan Melafalkan Niat Puasa Ramadhan Bahasa Jawa dengan Lagu

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang terbuka terhadap perubahan. Masuknya Islam ke pulau Jawa membuat akulturasi terjadi. Pembelajaran agama menjadi diselingi dengan pendekatan budaya asli.

Termasuk ketika melantunkan niat puasa, pengucapan menggunakan bahasa Jawa. Sampai-sampai ada lagunya tersendiri. Biasanya nyanyian atau lagu berbunyi niat puasa Ramadhan dilantunkan sehabis sholat tarawih berjamaah di mushola terdekat rumah.

niat puasa Ramadhan bahasa Jawa

Lirik lagu kombinasi antara niat puasa dalam bahasa Jawa dengan bahasa Arab seakan semakin menguatkan hati. Ketika esok hari bangun sahur, kemudian siap jalankan puasa seharian.

Momentum Ramadhan menjadi kegiatan menggembirakan di pedesaan Jawa. Seluruh mushola pasti menggelar sholat isya dan tarawih berjamaah. Selain itu pada hari-hari tertentu juga ada bagi-bagi takjil.

Kegiatan bagi takjil atau yang dikenal pula dengan nama “Jaburan” biasanya pelaksanaannya seusai melantunkan niat puasa Ramadhan bahasa Jawa bersama. Jadi nantinya sambil keluar dari mushola, masing-masing jamaah sholat akan mengambil takjil yang sudah dipersiapkan pengurus pada area serambi.

Mengucapkan niat buka puasa sehabis sholat tarawih memberikan semangat tersendiri. Orang Jawa jadi merasa seperti memperoleh energi tambahan untuk berpuasa penuh tanpa bolong satu kali pun. Dari anak-anak hingga orang tua, semua pasti hafal niat puasa dalam bahasa Jawa ini.

Manfaat dan Keutamaan Melafalkan Niat Puasa Ramadhan Bahasa Jawa

Jadi apa sebetulnya yang menjadi nilai plus atau menfaat melafalkan niat puasa dengan bahasa Jawa? Keutamaannya adalah semakin paham terhadap apa yang hendak dilakukan. Bagaimana makna puasa yang sebetulnya merupakan ibadah wajib bagi ummat Islam.

Terlepas dari identitas kebudayaan dan bahasa yang mengikatnya selama ini. Niat puasa Ramadhan adalah rukun dari puasa. Jadi wajib diucapkan atau puasanya akan batal karena tidak sah.

niat puasa bahasa Jawa

Jika seseorang mengucapkan niat puasa namun pakai bahasa Jawa, bukan suatu perkara yang akan mengurangi kualitas ibadah. Terlebih biasanya orang Jawa itu tidak seutuhnya niatnya pakai bahasa Ibu seperti ini. Tapi juga tetap menyertakan bahasa aslinya atau bahasa Arab.

Sehingga manfaat dan keutamaan mengucapkan niat puasa Ramadhan bahasa Jawa lebih kepada efeknya untuk mental dan jiwa. Menjadi lebih siap dan totalitas jalani puasa dalam segala kondisi.

Menilik Kebiasaan Berpuasa Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa sesungguhnya adalah sekelompok masyarakat yang juga memiliki kultur berpuasa. Ada banyak puasa ala Jawa yang masih banyak dipraktekkan, antara lain: puasa mutih, puasa weton dan puasa senen-kemis.

Ketiganya memiliki tata-cara dan tujuan tersendiri. Seperti puasa mutih untuk jalan mendapatkan kemudahan dalam menggapai cita-cita. Kemudian puasa weton untuk memperoleh kesehatan dan keselamatan. Serta puasa senen-kemis adalah puasa pada hari Senin dan Kamis untuk menunjukkan rasa syukur dan menambah nikmat.

Namun dari adanya puasa ala Kejawen yang mereka laksanakan, masyarakat Jawa juga menganggap puasa Ramadhan sebagai kegiatan yang sakral dan wajib mengikutinya.

Puasa sudah menjadi kultur masyarakat Jawa, bahkan sebelum Wali Songo melakukan dakwah. Kegiatan menahan diri dari makan, minum dan segala kegiatan duniawi sudah menjadi laku spiritual asli orang Jawa.

Jadi tak heran bila kewajiban puasa Ramadhan juga dilaksanakan dengan sukarela tanpa suatu keterpaksaan. Iklim Ramadhan sangat terasa membuncah di tiap pedesaan maupun perkotaan di mana masyarakat Jawa tinggal.

puasa bahasa Jawa

Menu Sahur dan Buka Puasa Masyarakat Jawa

Setelah paham mengenai bacaan hafalan niat puasa Ramadhan bahasa Jawa. Kini mari menelusuri apa saja menu sahur dan buka puasa orang Jawa? Apakah sama dengan kebanyakan masyarakat Nusantara pada umumnya?

Ternyata memang tak ada pembedanya. Saat sahur dan berbuka, nasi jadi menu utama andalan. Makan nasi dengan lauk-pauk yang sesuai selera. Namun terkadang pembedanya justru di menu pendamping seperti takjilnya.

Orang Jawa biasanya mengonsumsi takjil yang beragam bentuknya, seperti:

  • Kue dan roti, seperti serabi
  • Minuman olahan, seperti kolak
  • Makanan berat, seperti nasi goreng
  • Masakan berkuah, seperti rica-rica

Serta yang menarik dari orang Jawa yaitu sangat sedikit yang merasa cocok dengan rasa kurma. Jadi tak heran bila pada moment puasa pun jarang ada keluarga masyarakat Jawa yang menyediakan kurma selama bulan Ramadhan.

Mungkin karena kurang cocok dengan lidah Jawa. Sehingga orang Jawa justru lebih senang menggantinya dengan buah lain atau umbi-umbian seperti singkong dan ubi jalar.

Baca Juga: Bacaan Niat Buka Puasa Ganti Ramadhan karena Haid

Ketika mengucapkan niat puasa Ramadhan bahasa Jawa di mushola terdekat rumahnya, orang Jawa pun tidak sungkan mengambil takjil yang telah tersedia.

Biasanya makanan dan minuman takjil atau jaburan ini hasil dari pengumpulan secara gotong-royong. Jadi ada panitia yang mengkoordinir agar tiap KK menyetor takjil.

Advertisement
M Zam

Leave a Comment