Taufiq Effendi ~ Tuna Netra Berprestasi Yang Dapatkan Beasiswa di 8 Negara

Image dari Merdeka.com

Image dari Merdeka.com

Bagi seseorang yang memiliki tekad yang kuat, seberapa sulit keadaannya tentu tidak akan pernah menyerah begitu saja. Apapun halangan dan rintangannya akan tetap maju terus untuk menggapai cita-cita keberhasilannya. Bahkan meski keadaan fisik tidak sempurna pun tidak akan menjadi masalah yang besar bagi orang seperti ini. Faktanya tidak sedikit orang dengan keterbatasan fisik yang mampu menapaki kesuksesan dengan segala kekurangannya.

Seperti halnya Taufiq Effendi, seorang pemuda dengan keterbatasan fisik pada matanya, namun ia mampu mendapatkan beasiswa. Tak tanggung-tanggung, bahkan ia meraih beasiswa dari 8 negara. Sungguh kisah yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua orang-orang dengan fisik yang normal. Bagaimana kisah selengkapnya perjalanan pendidikan Taufiq Effendi, simak di bawah ini.

Mendapatkan Musibah yang Merenggut Matanya

Taufiq Effendi bukanlah seorang tuna netra sejak lahir, namun ia menjadi tuna netra ketika berusia 10 tahun. Kecelakaan yang dialami karena tertabrak kendaraan membuatnya kehilangan penglihatan. Saat itu usianya masih sangat kecil yaitu enam tahun. Semenjak kecelakaan tersebut, membuat matanya menjadi tidak normal dan kemudian membuatnya harus menyandang status sosial baru sebagai seorang tuna netra saat berusia 10 tahun.

Perjalanannya sebagai seorang tuna netra tidaklah mudah. Apalagi ketika itu ia masih kecil, ia banyak mendapatkan olok-olok dari teman sekolahnya. Bahkan lebih dari itu, ia juga mendapatkan diskriminasi pendidikan karena keadaan fisik yang cacat tersebut. Bahkan ia juga pernah mengalami putus sekolah saat itu, karena diskriminasi yang ia dapatkan. Tidak berhenti di dunia #pendidikan saja, diskriminasi berlanjut ia dapatkan dalam dunia pekerjaan. Benar-benar hidup yang tidak mudah bagi Taufiq Effendi.

Artikel lain: Angkie Yudistia, Wanita Tuna Rungu Inspiratif Pendobrak Keterbatasan




Tak Menyerah Untuk Mewujudkan Mimpi

Berbagai keadaan yang menyulitkan di atas, tidak membuat Taufiq kendur untuk meraih mimpi-mimpinya. Keadaan tersebut justru membuat Taufiq semakin mantab dan bertekad bulat untuk tetap berjuang meraih masa depan.

Dengan usaha dan semangat pantang menyerah, akhirnya pemuda asal Bandung Jawa Barat ini berhasil mengukir sebuah prestasi yang luar biasa dalam hidupnya dengan menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta. Dan tidak main-main, ia berhasil menyelesaikan studi nya dalam waktu 3,5 tahun dengan menyandang predikat Cum Laude.

Dan bukan itu saja, ia bahkan juga berhasil menyandang gelar sebagai wisudawan terbaik di fakultasnya. Selain itu, Taufiq Effendi juga berhasil meraih sejumlah beasiswa bergengsi di luar negeri. Pada bulan Januari 2013, Taufiq Effendi bahkan sudah pergi ke negeri Kangguru Australia dengan beasiswa full dari Australian Development Scholarship. Di sana ia mampu menyelesaikan dua Master of Education pada bidang Pengajaran Bahasa Inggris dan satunya lagi pada bidang Evaluasi Pendidikan dari University of New South Wales.

Berdasar pada data dari Global Umaro Education (GLUE) Institute, yaitu lembaga yang memberikan beasiswa bagi orang yang memiliki kekurangan fisik, Taufiq sudah pernah menimba ilmu di berbagai negara seperti di Malaysia, Jepang, Inggris, Skotlandia, Uni Emirat Arab, Belanda dan Amerika Serikat.

Baca juga: Habibie Afsyah, Penyandang Difabel Yang Sukses di Internet Marketing




Mendirikan Lembaga Pendidikan Masyarakat Dengan Keterbatasan Fisik

Dengan berbagai prestasi dan keberhasilan yang telah dicapai oleh Taufiq, nampaknya ia tidak ingin mendapatkannya sendirian. Begitu mulia hatinya yang kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Global Umaro Education (GLUE) Institute.

Salah satu program dari Global Umaro Education (GLUE) Institute adalah memberikan beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris untuk masyarakat yang tidak mampu atau orang yang memiliki keterbatasan fisik. Diharapkan dengan adanya lembaga pendidikan seperti ini, tidak ada lagi diskriminasi terhadap kaum tuna daksa baik dalam bidang pendidikan maupun di dunia kerja.

Sungguh perjalanan yang sangat inspiratif bagi kita semua. Meski dengan keadaan yang sangat kurang, Taufiq Effendi tidak pernah menyerah kepada keadaan. Ia tetap berjuang untuk mencapai cita-cita suksesnya. Tidak itu saja, bahkan Taufiq juga memperjuangkan teman-teman nya yang memiliki keterbatasan fisik untuk bisa mendapatkan pendidikan yang memadai melalui lembaga yang ia dirikan sendiri.




Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud