Angkie Yudistia, Wanita Tuna Rungu Inspiratif Pendobrak Keterbatasan

Angkie Yudistia, Wanita Tuna Rungu Inspiratif Pendobrak Keterbatasan

angkie yudistia

Keterbatasan memang acapkali menjadi batu sandungan bagi beberapa penyandang disabilitas untuk mewujudkan impian. Rasa minder dan perlakuan diskriminasi orang-orang sekelilingnya inilah yang seringkali membuat orang-orang penyandang cacat atau disabilitas sangat sulit untuk mengembangkan dirinya. Namun bagi Angkie Yudistia, keterbatasan yang dimilikinya tidaklah menjadi halangan baginya untuk meraih cita-cita.

Wanita tuna rugu yang mengalami gangguan pendengaran sejak usia 10 tahun ini telah membuktikan bahwa ia mampu mandiri dan berprestasi lebih yang mungkin saja tidak semua orang normal bisa menggapainya. Lalu seperti apakah kisah dari Angkie Yudistia yang inspiratif ini? Berikut kisahnya.

Melawan Keterbatasan Sejak Kecil

Sebagai penyandang disabilitas, kesulitan mulai dialami wanita kelahiran 5 Juni 1987 saat menjejaki dunia pendidikan. Namun hebatnya meski memiliki keterbatasan, Angkie tak diperlakukan secara berbeda oleh orangtuanya. Setidaknya untuk pilihan sekolah, seluruh jalur #pendidikan Angkie ditempuh di sekolah umum sama seperti anak normal lainnya.

Saat menempuh sekolah dasar, Angkie seringkali menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda karena orang tuanya yang sering ditugaskan di luar kota. Alhasil pendidikan SD Angkie diselesaikan di tiga kota berbeda yaitu Ternate, Bengkulu dan Bogor. Barulah pendidikan sekolah menengahnya (SMP dan SMA) ia tamatkan semua di Bogor.

Bagi seorang penyandang disabilitas, mengikuti pelajaran di sekolah umum pastilah tidak mudah. Maka dari itu  Angkie menyiasatinya dengan belajar lebih giat dan memanggil guru privat untuk membantunya belajar. Meski mengalami gangguan pendengaran, Angkie terus-menerus melatih dirinya melihat gerakan bibir seseorang ketika bicara dengan dibantu menggunakan alat bantu dengar untuk mempermudah dirinya dalam berkomunikasi seperti orang-orang normal.

Artikel lain: Habibie Afsyah, Penyandang Difabel Yang Sukses di Internet Marketing

Kuliah dan Jadi Finalis Abang None

Saat telah lulus dari bangku SMA, dilema masih harus dihadapi Angkie. Seorang dokter menyarankan Angkie untuk tidak melanjutkan kuliah karena stres yang seringkali dialami Angkie dikhawatirkan akan makin memperparah pendengarannya. Namun Angkie menolak saran itu, menurut putri dari pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman tersebut memilih tidak kuliah tetap saja menjadi stres.

Maka kemudian mendaftarlah Angkie di London School of Public Relations, Jakarta dengan mengambil Jurusan Periklanan. Gelar sarjana akhirnya berhasil diraihnya dengan indeks prestasi kumulatif 3,5. Ditempat yang sama, Angkie juga kemudian menyelesaikan program masternya dibidang komunikasi pemasaran lewat jalur akselerasi. Saat kuliah ia juga mulai berani membuka diri dengan mengikuti pemilihan Abang None Jakarta tahun 2008 dan menjadi finalis untuk wilayah Jakarta Barat.

Berkarir dan Terjun Ke Dunia Sosial

Dunia sosial pertama kali dikenal Angkie tahun 2009 saat bergabung dengan Yayasan Tunarungu Sehjira. Saat itulah jiwa sosialnya mulai terketuk. Ketika Angkie menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam acara Asia-Pacific Development Center of Disability di Bangkok, Thailand, Angkie semakin tergugah hatinya saat mendengar bahwa banyak pandangan dan persepsi serta perlakuan orang terhadap kaum difabel.

Pandangan miris yang menyatakan orang-orang dengan keterbatasan seperti dirinya dianggap tak memiliki kemampuan apa-apa, termasuk di dunia kerja membuat Angkie jiwa sosial Angkie semakin terbuka. Angkie sendiri memang pernah mengalaminya saat ia tidak diterima bekerja karena ketidakmampuannya menerima telepon.

Sebelum benar-benar terjun ke dunia sosial, Angkie sebenarnya pernah bekerja dan meniti karier sebagai staf humas di sejumlah perusahaan. Namun, jiwa sosialnya memanggil Angkie lebih keras, membuat dirinya memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan mendekatkan diri pada dunia sosial, terutama terkait orang-orang penyandang disabilitas.

Baca juga: Lizzie Velasquez – Kisah Inspirasional Tahun 2012

Berprestasi dan Kerap Menebar Inspirasi

Kini Angkie bangkit menjadi wanita mandiri dan memberikan inspirasi banyak orang. selain mendirikan perusahaan Thisable Enterprise yang beriorientasi sosial untuk membantu para penyandang disabilitas, Angkie juga menerbitkan dua bukunya yang berjudul Perempuan Tuna Rungu Tanpa Batas dan Setinggi Langit. Thisable Associate sendiri saat ini telah melakukan salah satu program yaitu menjual program corporate social responsibility (CSR) yang terkait dengan orang disable pada perusahaan.

Selain sukses dibidang karir dan edukasi dengan lulus pendidikan hingga S2, wanita yang mempunyai prinsip “Limited but definitely limitless” ini banyak mencatat banyak prestasi non-akademis. Prestasi-prestasi non akademis tersebut antara lain menjadi finalis Abang None 2008 Jakarta Barat, terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, Miss Congeniality, Kartini Next Generation 2013, The Most Powerful Woman of 2012 dari Her World dan sederet penghargaan lainnya. Sangat inspiratif wanita cantik yang satu ini. Get Inspired!

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan