Mengenal Kekuatan Loyalitas Bisnis, Dari 2 Legenda Kuliner Berikut Ini

membangun bisnis kuliner

Image dari Drivingimprovedresults.com

Kita sudah sering membahas beberapa bisnis kuliner yang mampu bersaing dan akhirnya mendapati kesuksesan di bidangnya masing-masing. Banyak dari bisnis kuliner tersebut menyimpan rahasia kesuksesan berkat loyalitas para pelanggannya.

Pelanggan setia yang sudah ada bahkan turun temurun, tentu seakan menjadi jaminan bahwa sebuah bisnis kuliner layak dan patut untuk dicoba. Terlepas dari cocok ataupun tidaknya rasa bagi konsumen pendatang baru, hal ini tetaplah menjadi bukti bahwa loyalitas memegang peranan penting dalam keberlangsungan sebuah #bisnis kuliner.

Lebih dalam lagi mari kita belajar tentang kekuatan loyalitas bisnis ini dari dua brand kuliner legendaris yakni Sop Buntut Legenda khas Hotel Borobudur, Jakarta serta Soto Ayam Ambengan Pak Sadi. Kedua bisnis kuliner ini, bisa menjadi inspirasi tentang kekuatan loyalitas para pelanggannya.

Telah Membuka Usaha Sejak Lama

Kilas balik menuju tahun 1978, kala itu seorang Ani Susilowati yang saat ini menjabat sebagai Food & Beverage Director di Bogor Café, Hotel Borobudur Jakarta, masih berstatus pegawai baru dan memegang tugas sebagai waitress di hotel tersebut. Ia menuturkan pada waktu itu salah satu menu kuliner yang sudah banyak dikenal bahkan memiliki pelanggan setia yakni menu sop buntut. Bahkan ia menambahkan, pada waktu itu menu sop buntut belumlah banyak disajikan dalam hotel berkelas di kawasan Jakarta. Mengingat, di tahun itu hotel di Jakarta pun belum terlalu banyak didirikan.

Waktu berjalan hingga tahun 1995, sop buntut khas dari Bogor Cafe memang sudah banyak dikenal oleh konsumen bahkan yang berasal dari luar daerah. Namun satu hal unik, menu tersebut belum di branding alias tidak mempunyai nama khusus yang bisa menonjolkan kuliner nikmat tersebut.

Artikel lain: Kenapa Anda Harus Menjadi Pebisnis Kuliner, Perhatikan Alasan Ini

Pada tahun 1997 barulah tercetus ide untuk menambahkan nama legendaris menjadi Sop Buntut Legendaris sebagai penanda dari menu andalan di Hotel Borobudur, Jakarta. Menyasar kalangan menengah ke atas, menu nikmat yang satu ini tetap terus diburu para loyalisnya meski sempat tidak lagi dibuat ketika Hotel Borobudur mengalami perombakan pada medio tahun 1996.

Pun demikian dengan kuliner legendaris kedua yakni Soto Ayam Ambengan Pak Sadi, jalan cerita perkembangan bisnis juga sudah dimulai sejak lama tepatnya tahun 1960. Waktu itu pria lulusan kelas 5 SD ini, penjual soto ayam khas Lamongan berbekal resep turun temurun. Baru setelahnya pada tahun 1971, dia memberanikan diri untuk membuka usaha warung makan nasi soto ayam di Jakarta tepatnya di Jalan Ambengan, nama ini pulalah yang terus digunakan hingga saat ini.

Sempat berpindah tempat hingga 4 kali, usaha kuliner yang memusatkan jualannya di kawasan Jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru Jakarta ini, tetap mampu menarik minat para pencintanya yang ternyata tidak hanya dari kalangan ekonomi pas-pasan namun hingga mereka yang berstatus ber-uang.

Pelajaran Bisnis yang Bisa Diambil

Dari kedua historis pendirian bisnis di atas, kita bisa melihat beberapa kesamaan dan juga pelajaran bisnis yang sangat berharga. Yang pertama adalah terkait dengan loyalitas pelanggan. Pada kasus Sop Buntut Legendaris, meski sempat terhenti produksinya karena ada renovasi hotel, ternyata setelah ditawarkan kembali, menu tersebut tetap ramai dan terus dibicarakan dari mulut ke mulut.




Demikian juga dengan kuliner Soto Ayam Ambengan, dari waktu ke waktu dan sempat pindah lokasi usaha, tempat makan pinggir jalan yang satu ini juga terus mampu berkembang dikarenakan loyalitas konsumennya. Lalu apa yang bisa dipelajari? Kekuatan dari loyalitas pelanggan yang telah menjadi penikmat kuliner sejak lama akhirnya bisa mempertahankan agar bisnis tersebut terus dibutuhkan. Ditambah dengan strategi marketing word of mouth alias dari mulut ke mulut, kedua bisnis tersebut menyebar bahkan hingga ke luar daerah Jakarta.

Baca juga: Mau Sukses Berbisnis Kuliner? Coba Terapkan Dulu 5 Tips Dari Danis Puntoadi Berikut Ini

Selain itu ketika ditanya dari pihak pengembang menyatakan, keduanya sama-sama memiliki ciri khas pada kuliner yang dihidangkan. Menu Sop Buntut Legenda, mempunyai kekhasan pada bahan buntut sapi-nya yang langsung diimpor dari Australia. Sedangkan untuk Soto Ayam Pak Sadi, bumbu rahasia koya yang dibuat dari kombinasi bawang putih dan kerupuk udang, adalah hal pembeda yang membuat rasa soto ayam miliknya selalu dikangenin pelanggan.

Dan yang unik, ternyata kedua kuliner tersebut sama-sama tidak mengawali bisnis dengan menggunakan branding terlebih dahulu. Baru setelah sukses, nama brand baik itu Sop Buntut Legenda maupun Soto Ayam Ambengan baru diciptakan.

Beberapa pelajaran bisnis di atas bisa kita terapkan terutama bagi yang menjalankan bisnis kuliner. Semoga bisa menjadi masukan yang berharga dan mendorong bisnis Anda lebih sukses lagi.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud