Beranda Bisnis 5 Kesalahan Pemasaran Online yang Sering Dilakukan Marketer Pemula

5 Kesalahan Pemasaran Online yang Sering Dilakukan Marketer Pemula

Beberapa waktu belakangan, trend online marketing dengan membuat toko online semakin meningkat. Perlahan tapi pasti berbagai jenis usaha kecil hingga menengah mulai merambah ke dunia digital. Fenomena ini pun berpengaruh pada intensitas interaksi antara pelanggan dan penjual.

Kesalahan Pemasaran Online

Makin terbiasanya masyarakat dengan dunia digital membuat interaksi dengan konsumen ikut beralih ke berbagai platform digital, seperti melalu messanger hingga media sosial. Interaksi ini bukan hanya sekadar chit-chat basa-basi yang tanpa tujuan. Jika dicermati lagi, akan selalu ada promosi yang terselip di dalamnya.

Berjualan online dinilai sebagai cara menghasilkan uang dari internet yang cukup menjanjikan. Namun, langkah pemasaran yang dilakukan secara digital juga tidak bisa dilakukan asal-asalan. Sehingga, awareness akan produk yang dipromosikan bisa terkonversi ke penjualan yang menghasilkan.

Layaknya marketing yang dilakukan secara konvensional, online marketing pun harus dijalankan secara efektif. Walau begitu, masih sering ditemukan kesalahan online marketing yang terjadi di kalangan marketer pemula. Kesalahan ini berdampak pada hasil yang tidak berbanding lurus dengan usaha pemasaran yang dilakukan.

Sebelum bisnis Anda berjalan lebih jauh dengan strategi-strategi yang tidak begitu menghasilkan, berikut 5 kesalahan yang sering dilakukan oleh para marketer pemula yang harus Anda hindari.

1. Tidak Menggunakan Hosting dan Top Level Domain (TLD)

Jika Anda memanfaatkan website sebagai toko online, dua hal utama yang tidak boleh ketinggalan untuk Anda perhatikan adalah hosting dan domain. Hosting berfungsi sebagai “rumah” tempat Anda menaruh seluruh data terkait produk yang Anda jual dengan. Tidak hanya sekedar menyimpan, namun juga mengamankan data-data yang ada di dalamnya.

Hosting & Top Level Domain

Dengan menggunakan hosting, Anda bisa memanfaatkan fitur yang diberikan seperti layanan support yang cepat dan available 24/7 serta backup data harian dan mingguan secara berkala. Selain itu, jika Anda perlu melakukan migrasi hosting, layanan support bisa membantu prosesnya hingga selesai.

Maka, akan sangat merepotkan apabila tidak menggunakan hosting untuk membangun website toko online yang Anda pasarkan, terutama dari segi backup data. Selain itu, dari segi keamanan data dan akses juga belum tentu aman.

Baca juga: 3 Cara Memanfaatkan Blog untuk Mendapatkan Uang dari Internet

Selain hosting, pemilihan nama domain juga perlu dipertimbangkan secara matang. Pada dasarnya, nama toko online bisa saja berupa sub-domain seperti namadomain.blogspot.com. Namun, nama website dengan subdomain seperti itu terlihat tidak profesional dan terdengar kurang kredibel.

Akan lebih baik apabila Anda menggunakan Top Level Domain (TLD) seperti .com maupun berbagai macam jenis TLD lain. Dengan menggunakan TLD, nama website Anda akan terlihat lebih profesional. Nama website yang dikelola akan lebih mudah diingat dan kepercayaan pelanggan pun ikut meningkat.

2. Tidak Mengoptimasi Konten dengan SEO

Menggunakan hosting dan domain saja tidak cukup untuk website Anda. Website tersebut harus diisi dengan konten blog secara rutin. Konten tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan produk-produk yang Anda jual secara deskriptif. Adanya konten dapat mempengaruhi index Google yang memudahkan calon pelanggan menemukan website Anda.

SEO untuk UKM

Maka, agar Google memprioritaskan website Anda, konten yang ada di dalam website perlu dioptimasi menggunakan SEO (Search Engine Optimization). Tanpa adanya SEO, kumpulan konten di dalamnya akan sulit terindex dan jumlah visitor susah ditingkatkan. Hal ini tentu akan berpengaruh pada jumlah pelanggan yang tertarik untuk mencoba produk Anda.

Optimasi konten website menggunakan SEO bisa mendatangkan pengunjung yang mencari keywords tertentu yang berhubungan dengan usaha Anda. Selain keywords, elemen-elemen SEO lain seperti meta description, jumlah kata, backlink, hingga user experience juga perlu diperhatikan. 

3. Menjual Tanpa Melakukan “Story Telling”

Suatu cerita yang baik akan menjual. Maka dari itu, jangan sampai membuat konten digital marketing yang tidak menjual dengan memberikan cerita yang membosankan. Cerita yang baik akan bisa meningkatkan kredibilitas dan juga membangun kepercayaan.

Stories sell. Ya, sebuah cerita akan mampu membantu Anda dalam menaikkan angka penjualan produk. Itu mengapa faktor story telling tidak boleh Anda lewatkan. Untuk itu, antarkan calon pelanggan kepada produk yang Anda jual dengan cerita yang mempengaruhi sisi emosional mereka.

Salah satu contoh konten story telling yang menjual dan bisa dicontoh adalah Jouska. Jouska adalah jasa financial planner yang cukup terkenal di kalangan millenial, terutama para pengguna Instagram. Konten yang disuguhkan berupa cerita-cerita seputar kliennya yang mengalami krisis finansial secara mendadak.

Story Telling

Viralnya kasus-kasus yang diangkat oleh Jouska di Instagram ternyata sukses “mengusik” sisi emosional dari pembacanya.  Cerita atau story telling yang dibagikan mampu menumbuhkan urgensi para pembaca untuk lebih tertib lagi dalam perencanaan keuangan. 

Baca juga: 5 Referensi Website untuk Belajar Coding Secara Online

Dari sana, Jouska pun berhasil membuat masyarakat lebih aware untuk menggunakan financial planner agar keuangannya tetap terjaga dengan aman. Tumbuhnya urgensi yang tadinya tidak disadari masyarakat inilah yang menjadi kekuatan dari story telling. Kekuatan konten tersebut memang tidak boleh disepelekan!

4. Target Konsumen yang Tidak Sesuai

Jika Anda masih baru dalam dunia bisnis, pemasaran atau marketing memang menjadi salah satu modal utama yang Anda perlukan. Walau begitu, sebagus apapun strategi marketing yang Anda miliki, apabila konsumen yang menjadi target Anda tidak sesuai dengan produk yang dijual, strategi tersebut tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan pada penjualan.

Maka, Anda harus melakukan survey pasar terlebih dulu sebelum akhirnya memasarkan produk Anda kepada para calon pelanggan. Dengan melakukan survey market seperti segmen umur, jenis kelamin, pendapatan, wilayah, dan lainnya, strategi yang Anda terapkan diharapkan bisa bekerja secara maksimal.

5. Asal-asalan Upload di Media Sosial

Berinteraksi melalui media sosial telah terbukti menjadi opsi yang cukup efektif untuk meningkatkan engagement Anda dengan para pelanggan. Tingginya aktivitas masyarakat dalam penggunaan mobile device menjadi salah satu faktornya. Maka, tidak heran jika para marketer ikut gencar memasarkan produknya melalui platform digital tersebut.

Upload di Media Sosial

Namun, akan menjadi sia-sia apabila Anda asal-asalan dalam mengupload konten di media sosial. Sama seperti konten di website, Anda perlu melakukan pengelolaan yang baik untuk konten yang Anda unggah di media sosial. Pengelolaan seperti perencanaan isi konten, penataan feed hingga jadwal publish, semuanya harus dilakukan secara matang.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Bisnis Anda Harus Memiliki Website Sendiri

Untuk itu, manfaatkan tools seperti Planoly, Buffer, Hootsuite, dan lain-lain untuk mengelola konten media sosial Anda. Tools seperti Planoly bisa Anda manfaatkan untuk menata konten feed Instagram. Anda juga bisa menggunakan Buffer untuk melakukan penjadwalan konten yang diupdate secara rutin.

Buffer

Kesimpulan

Mengelola sebuah bisnis adalah suatu tantangan yang akan selalu dihadapi para marketer. Walaupun Anda masih tergolong pemula, tidak ada salahnya untuk mencoba berbagai cara baru seperti strategi dan pengelolaan konten pemasaran yang dinilai efektif untuk mendongkrak penjualan produk Anda.

Namun, akan lebih baik lagi apabila Anda menghindari berbagai kesalahan klasik yang tidak jarang dilakukan oleh para marketer. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Hindari kesalahan-kesalahan tersebut dan terus upgrade diri Anda dengan pengetahuan-pengetahuan marketing terbaru. Selamat mencoba!

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan