Apa Alasan Seseorang Resign Dari Pekerjaannya di Kantor?

Apa Alasan Seseorang Resign Dari Pekerjaannya di Kantor?

Image dari ronsho.com

Saya pernah membaca artikel di sebuah website yang membahas tentang karir dan #pengembangan diri. Di salah satu paragraf artikel itu disebutkan seperti ini “Apapun profesi Anda saat ini, asalkan profesi itu tidak merugikan orang lain dan bisa memberikan penghasilan yang layak bagi Anda dan keluarga, maka Anda patut bersyukur dan tetaplah bersungguh-sungguh menjalani profesi tersebut. Bila Anda seorang pemilik usaha, maka jadilah pengusaha yang jujur dan bermanfaat bagi orang-orang di perusahaan Anda. Dan bila Anda adalah seorang karyawan maka jadilah karyawan yang baik dan bermanfaat bagi perusahaan di mana tempat Anda bekerja.” Artikel ini mengingatkan saya tentang pengalaman saya sewaktu menjadi seorang karyawan kantoran beberapa tahun yang lalu.

Apa yang disebutkan di dalam artikel tersebut adalah sesuatu yang ideal, namun kenyataan seringkali tidak berjalan sesuai dengan teori. Beberapa karyawan yang baik dan potensial tidak mendapat kesempatan untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan dan memilih untuk resign/ mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Lalu apa alasan mereka resign dari pekerjaannya di kantor?

Mengapa seseorang memilih untuk resign dari pekerjaannya? Walaupun banyak orang yang cenderung punya alasan yang mirip, sebenarnya mereka punya alasan yang berbeda. Berdasarkan pengalaman saya dan dari pengakuan beberapa orang teman yang memutuskan untuk resign dari pekerjaan mereka, berikut ini adalah beberapa alasan seseorang resign dari pekerjaannya di kantor.

1. Gaji Yang Tidak Sesuai (Lagi)

Ini salah satu alasan yang sering menyebabkan seseorang mengundurkan diri dari tempat kerja mereka, termasuk saya dulu. Jujur, pekerjaan pertama saya sewaktu menjadi karyawan kantoran adalah sebesar Rp 1.250.000,- (satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Menurut Anda kecil? Memang kecil sekali, tapi gaji kecil ini adalah sesuatu yang sangat berarti buat saya yang waktu itu masih kuliah karena uang yang jumlahnya tidak seberapa itu bisa membantu saya untuk bisa terus survive kuliah dan menyelesaikan #pendidikan S1 saya.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan seseorang pasti bertambah ya. Yang dulunya merasa cukup dengan naik angkutan umum ke kantor dan rela berhimpit-himpitan diantara ketiak orang, sekarang lebih memilih menyicil sepeda motor. Yang dulunya tidak terlalu modis dalam berbusana kantor, sekarang sangat memperhatikan busana kantor walaupun harganya lebih mahal. Yang dulunya tidak memikirkan perlunya tabungan, sekarang mulai pusing menabung untuk biaya pernikahan dan biaya cicil rumah. Gaji kecil yang dulunya cukup, akhirnya menjadi tidak cukup. Inilah kemudian yang membuat seseorang (termasuk saya) memutuskan untuk mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar.

2. Suasana Kerja Yang Tidak Kondusif

Suasana kerja di kantor adalah salah satu faktor yang sering mempengaruhi kinerja seorang karyawan dan ‘atmosfer’ yang tidak kondusif di kantor sering menjadi pemicu seorang karyawan potensial mengundurkan diri. Lalu apa saja yang bisa mempengaruhi suasana kerja?

Ada banyak hal yang bisa membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif, misalnya teman kerja yang suka mengganggu, politik kantor, jam kerja yang tidak menentu, pembagian kerja yang tidak adil, ruang kerja yang tidak nyaman, atasan yang kaku, dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman pribadi, salah satu alasan saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di kantor adalah karena adanya politik kantor yang tidak sehat terjadi terus menerus dan membuat tidak nyaman selama bekerja.

Anda yang saat ini berprofesi sebagai karyawan kantoran pasti pernah merasakan adanya ‘politik’ di tempat kerja Anda, atau bahkan mungkin saja Anda adalah salah satu aktornya. Upaya saling menjatuhkan sering terjadi, bahkan ada saja oknum yang memanfaatkan hasil kerja orang lain untuk mendapatkan poin plus dari atasan mereka. Suasana kerja seperti ini seharusnya tidak dibiarkan terlalu lama karena sangat ‘berbahaya’ bagi perusahaan dan bisa mengakibatkan kehilangan karyawan yang sebenarnya punya potensi dan bermanfaat bagi perusahaan.

Artikel lain: Membangun Suasana Kerja Kondusif Ternyata Tidak Mahal

3. Jarak Lokasi Kantor dan Tempat Kerja Terlalu Jauh

Banyak dari antara kita rela menghabiskan waktu di perjalanan menuju kantor yang lokasinya terlalu jauh ketimbang menyewa sebuah tempat kost/ kontrakan yang lokasinya lebih dekat ke kantor. Menurut saya hal ini wajar-wajar saja, walaupun ini pilihan sulit tapi masing-masing orang punya alasan tertentu mau melakukannya. Dulu, saya adalah salah satu dari mereka para pengendara sepeda motor yang selalu memadati jalan raya di Jakarta. Macet, peluh, asap kendaraan, bunyi klakson, dan terkadang makian antar sesama pengendara, sudah menjadi ‘sarapan’ pagi saya sewaktu menjadi karyawan kantoran. Dan sesampainya di kantor kondisi badan sudah lelah dan cukup stress untuk bekerja hari itu.

Kondisi seperti ini lama-kelamaan pasti akan membuat seseorang menjadi terlalu lelah dan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Pengalaman saya dulu, setelah bertahan selama setahun rela menempuh perjalanan jarak jauh menuju tempat kerja, akhirnya saya memutuskan untuk kost di sekitar kantor. Sayangnya tidak semua orang bisa seperti itu, apalagi mereka yang tadinya bujangan akhirnya berkeluarga dan punya tanggungjawab di rumah. Walaupun beberapa orang rela berpisah dengan keluarga demi pekerjaan, sebagian orang lebih memilih resign dan mencari pekerjaan yang kantornya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

4. Tidak Ada Peningkatan Karir

Tidak perduli apa profesi Anda saat ini, apakah pengusaha ataupun karyawan, tentunya Anda ingin bisnis atau #karir Anda mengalami peningkatan setiap tahun. Peningkatan karir ini bisa berimbas pada banyak hal, misalnya meningkatnya salary/ gaji, meningkatnya fasilitas kerja, taraf hidup yang semakin baik, dan lain-lain. Seseorang yang telah bekerja dengan maksimal dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan, namun tidak mendapat kesempatan yang lebih baik dari perusahaan, kemungkinan besar orang tersebut akan jenuh dan kehilangan semangat kerjanya.

Ini yang terjadi pada seorang teman kerja saya dulu yang bekerja di divisi marketing sebuah perusahaan pemasaran unit kios mall. Pekerjaannya menuntut target penjualan yang cukup tinggi, dan dia selalu mampu memenuhi target tersebut setiap bulannya. Sayangnya, selama 2 tahun bekerja, dia sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk memiliki karir yang lebih baik. Selain itu, bonus penjualan yang dijanjikan perusahaan atas kerja kerasnya sering terlambat diberikan. Setelah dua tahun bekerja, akhirnya dia memutuskan untuk resign.

5. Masalah Keluarga

Ternyata masalah keluarga bisa berdampak besar bagi karir seseorang di dunia kerja. Salah satu contoh, ketika seorang wanita karir menikah dan si suami tidak menghendaki istrinya untuk terus bekerja, maka wanita tersebut terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya dan terpaksa meninggalkan karir cemerlang yang ada di depan mata. Pada beberapa kasus si suami tetap memperbolehkan si istri tetap bekerja, namun ketika mereka telah memiliki anak kemungkinan besar si istri lebih memilih untuk fokus merawat anak dan keluarganya ketimbang mencari nafkah.

Contoh lain, kisah seorang kenalan saya yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya karena dia harus mengurus orang tuanya yang sedang sakit-sakitan di kampung halamannya. Memang sangat disayangkan, saat karirnya semakin baik, dia dihadapkan dengan masalah keluarga yang cukup pelik dan memaksanya untuk meninggalkan pekerjaannya.

Baca juga: Inspirasi Bisnis Dari Tukang Sayur Keliling, Profesi Yang Dianggap Remeh

6. Alih Profesi Menjadi Pengusaha

Sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa didapatkan selama menjadi karyawan. Menurut saya dunia kerja itu cukup menyenangkan, kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, belajar karakter teman sekantor, belajar tentang karakter klien, belajar cara berkomunikasi dengan orang lain sesuai dengan karakter mereka, belajar tentang manajemen, belajar hal-hal teknis, dan masih banyak lagi. Namun, jika seseorang memiliki jiwa #entrepreneurship di dalam dirinya, pasti orang tersebut tidak akan betah menjalani profesinya sebagai karyawan.

Awalnya mungkin mereka dapat melakukan pekerjaannya di kantor dengan baik, namun seorang karyawan berjiwa wirausaha pada akhirnya tidak akan betah berlama-lama bekerja pada orang lain, dan hal ini seringkali mengakibatkan pekerjaan mereka tidak maksimal. Kalau terus dipaksakan bisa membuat orang tersebut semakin tertekan. Tidak ada cara lain, mereka harus memulai usaha sendiri secepatnya dan segera mengundurkan diri dari pekerjaan di kantor.

Selain yang disebutkan di atas, tentunya masih ada alasan lain mengapa seseorang memutuskan untuk resign dari pekerjaan mereka di kantor. Apapun alasan tersebut, sebaiknya kita melakukannya (resign) dengan cara yang ‘elegan’ dan tidak mencederai kepercayaan yang diberikan perusahaan. Semoga artikel ini bermanfaat.

7 KOMENTAR

  1. wah kalau ane dr dulu belom pernah resign wong menjalankan usaha sendiri :D …. tapi memang butuh pertimbangan masak dan kalkulasi

  2. bbrp point ada di saya…terutama no 2 & 7 hehehe…ga pernah betah lama2 di satu perusahaan.

  3. informasi ini bagus banget mas… nambah informasi untuk saya khususnya tentang pekerjaan. btw mau ngoreksi itu nomer 6 nya gak ada mas :D

  4. Bisa menjadi referensi bagi yang sudah matang dalam keputusanya resign…terutama point terakir

  5. Masa depan kita, kita yang menentukan, jangan takut untuk resing dan mencari pekerjaan baru atau pun menjadi seorang pengusaha, dimana ada kemauan pasti akan ada jalan.

    Saya pribadi tertarik untuk bisa jadi seorang pengusaha, mudah2an bisa cepat terrealisasi :D

  6. Kalau menurut ane sih, gak masalah resign kalau tekad buat wirausaha udah bulat, dan fokus berwirausaha sepenuh hati.

    Yang jadi masalah, udah resign, ternyata ngerjain usahanya juga malas-malasan.

    Kalau udah gini, berarti alasan resignnya bukan karena merasa pekerjaannya (dikantor yang lama) tidak ada peningkatan karir, tapi memang dasar aslinya malas kerja.

Tinggalkan Balasan