Stewart Butterfield ~ Sukses Di Usia Muda Bersama Flickr dan Slack

Stewart Butterfield ~ Sukses Di Usia Muda Bersama Flickr dan Slack

Image dari Flickr.com
Image dari Flickr.com

Pernahkah kita mendengar tentang Flickr?

Situs yang satu ini memang memiliki popularitas yang tak kalah hebat dengan para raksasa teknologi lainnya. Begitu populer sebagai salah satu sarana bagi blogger untuk menyimpan dan berbagi foto dan video pribadi, popularitas Flickr kian bertambah seiring dengan meningkatnya antusiasme pengguna teknologi terhadap hobi blogging.

Dibalik kesuksesan Flickr, kepiawaian Stewart Butterfields sebagai salah satu pendiri Flickr tentu sangat menarik untuk kita simak dan teladani.

Kiprah Stewart Butterfield Membangun Flickr

Stewart Butterfield adalah seorang pria kelahiran berkebangsaan Kanada kelahiran tahun 1973. Menempuh pendidikan tinggi di University of Victoria, Stewart berhasil menamatkan pendidikannya di bidang filosofi pada tahun 1996. Selang 2 tahun kemudian Stewart pun berhasil memperoleh gelar master untuk jurusan yang sama dari University of Cambridge.

Pada tahun 2002, Stewart bersama kedua rekannya Caterine Fake dan Jason Classon, sepakat untuk mulai merintis sebuah startup bernama Ludicorp. Kala itu Ludicorp menargetkan pengembangan game online dengan konsep mulitplayer yang rencananya akan diberinama Game Neverending.

Meski impian untuk menciptakan game online yang hebat kandas, namun rupanya Stewart bersama timnya di Ludicorp berhasil mengembangkan Flickr. Awalnya Flickr dikembangkan dengan konsep chat room agar para penggunanya bisa berbagi foto secara real time. Namun pada perjalanannya, ternyata Flickr justru berhasil dengan konsep mengunggah foto atau video yang praktis dan malah menghilangkan fitur chat room yang semula menjadi andalannya.

Artikel lain: Kevin Systrom ~ Pendiri Instagram, Aplikasi Photo Sharing Terpopuler Di Dunia

Pada tahun 2005, Flickr mulai diakuisisi oleh Yahoo. Namun akuisisi tersebut tetap membuat Stewart bertahan di Flickr hingga tahun 2008. Setelah hengkang dari kepemimpinannya, Stewart kemudian berkarya bersama perusahaan barunya yang bernama Tiny Speck.

Kesuksesan Bersama Slack

Berusaha mewujudkan mimpi untuk merilis game online, Stewart dan Tiny Speck akhirnya berhasil merilis game online yang besar dengan nama Glitch. Namun sayangnya kiprah Glitch di dunia online justru harus terhenti karena kegagalannya dalam meraih hati para penggemar game online.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh Stewart tak membuatnya patah semangat untuk berkarya di bidang teknologi. Selain memanfaatkan situs peninggalan Glitch untuk dialihfungsikan menjadi situs Creative Common License, Tiny Speck akhirnya meluncurkan sebuah perangkat komunikasi dengan sistem pesan instan. Perangkat tersebut kemudian dikenal dengan nama Slack.

Tak disangka ternyata Slack yang resmi diluncurkan pada awal Agustus 2014 mampu meraih popularitas yang sangat hebat. Bahkan di minggu pertama peluncurannya, Slack mampu memikat hati 120.000 pengguna terdaftar. Keuntungan awal yang mencapai nilai US$ 1 juta terus meningkat secara drastis hingga menyentuh angka US$ 60 juta hingga akhir tahun 2014.

Keistimewaan yang Ditawarkan Oleh Slack

Lebih dari sekadar aplikasi chat pada umumnya, Slack memiliki keunggulan yang dapat mendukung kinerja sebuah tim. Dengan memanfaatkan Slack, kita dapat memperkuat kerjasama tim kapanpun dan dimanapun. Baik tim kecil maupun tim besar, Slack bisa digunakan secara efektif untuk mendukung segala kebutuhan dalam proses penyelesaian proyek.

Untuk setiap masing-masing proyek yang kita tangani, kita bisa membuat spesifikasinya melalui pengelolaan channel khusus pada aplikasi Slack. Melalui Slack, kita juga bisa menambahkan daftar agenda kegiatan, mencatat ide-ide secara praktis, serta menyimpan dokumen dengan mudah melalui sejumlah format dokumen yang di-support oleh Slack.

Karena memiliki sejumlah keunggulan yang belum bisa disediakan oleh aplikasi pesan instan lainnya, tentu tak mengherankan jika Slack mampu menarik minat para investor untuk menanamkan modal. Namun hal ini tidak membuat Stewart lantas jadi berapi-api untuk membuat pengembangan baru pada Slack. Sebab pada dasarnya Slack tetaplah menjadi aplikasi yang ditujukan untuk kepentingan bisnis bagi para penggunanya.

Baca juga: Kevin Rose – Pendiri Digg.com

Sudah mencoba kecanggihan aplikasi Slack dari smartphone Android?

Aplikasi besutan Stewart Butterfield bersama tim Tiny Speck ini memang patut untuk dicoba. Segala fitur lengkapnya bisa membuat kita menjadi lebih up to date dan mudah melakukan proses kerjasama tim sesuai kebutuhan kita. Ini adalah waktu yang tepat untuk belajar kesuksesan dari sosok Stewart Butterfield sambil mencoba keistimewaan aplikasi Slack yang fenomenal.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan