Reed Hastings ~ CEO Netflix yang Perlakuan Istimewa Karyawannya

Image dari Techcrunch.com

Image dari Techcrunch.com

Nama Netflix saat ini semakin populer di tanah air, pasalnya beberapa hari yang lalu Netflix telah resmi beroperasi di Indonesia. Netflix sendiri adalah pionir dalam bisnis di bidang streaming konten #video berbayar, selain itu juga merupakan rental DVD dan Bluray secara online.

Sambutan hangat datang dari para pengguna internet tanah air, terutama bagi mereka yang hobi menonton film. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan Netflix sangat memanjakan para pecinta film di Indonesia.

Kesuksesan Netflix dalam mengembangkan bisnisnya tidak terlepas dari peran Reed Hastings sebagai CEO. Pria yang kini berusia 55 tahun itu kini diperkirakan memiliki kekayaan USD 1,72 miliar karena keberhasilan mengelola Netflix. Menarik memang membicarakan bagaimana Netflix mengalami perkembangan yang signifikan, namun bagaimana cara Reed Hastings memperlakukan karyawan juga tak kalah menariknya.

Perjalanan Karir Reed Hastings

Reed Hastings adalah seorang yang dibesarkan di lingkungan keluarga berada, Ayahnya adalah seorang pengacara populer. Ia memiliki ketertarikan pada bidang matematika yang kemudian membawanya masuk pada Bowdoin College di Maine. Bahkan ia juga pernah memenangkan kompetisi matematika yang cukup bergengsi di sana.

Setelah lulus dari kuliah, sebenarnya ia sempat masuk tentara. Namun itu tidak bertahan lama, ia hanya betah bertahan selama dua tahun. Setelah itu, ia kemudian lebih tertarik menjadi seorang relawan pengajar matematika yang berkeliling sampai ke negara Swaziland, Afrika.

Sepulang dari Afrika, ia kembali ke Amerika dan menempuh S2 di Stanford University dan lulus dengan gelar Ilmu Komputer. Baru setelah itu kemudian ia bekerja di Adaptive Technology sebelum mendirikan perusahaan sendiri yang bernama Pure Software.

Artikel lain: Michael Dell, Penjual Koran yg Sukses Menjadi Miliader Bisnis Teknologi

Perusahaan itu sebenarnya menuai kesuksesan besar, namun Hastings memutuskan pergi setelah perushaan itu merger dengan perusahaan lain yang kemudian diakuisisi oleh Rational Software. Setelah keluar, kemudian ia bersama temannya Marc Randolph mendirikan Netflix pada tahun 1998.

Awal Mula Berdirinya Netflix

Itulah awal mula berdirinya Netflix yang kemudian sampai saat ini menjadi raksasa media #streaming online. Bahkan pada bulan Oktober 2015 yang lalu, Netflix melaporkan jumlah pelanggan sudah tembus sampai 68,17 juta di seluruh dunia. Kini Netflix bahkan sudah tersedia sampai 190 negara, ini tentu akan membuat pelanggan juga semakin melonjak.

Saat ini, Hastings sudah menikah dengan dikaruniai dua orang anak dan tinggal di San Fransisco. Ia juga termasuk salah satu orang yang menandatangani Giving Pledge yang diinisiasi oleh Waren Buffet dan Bill Gates. Dimana program tersebut adalah komitmen orang kaya yang menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kemanusiaan.




Hastings sendiri juga menegaskan bahwa tidak ingin Netflix diakuisisi oleh perusahaan lain. Ia sudah merasa sangat nyaman dengan keadaannya saat ini, meski sudah bertahun-tahun mengembangkan Netflix, ia masih merasa bahwa semuanya masih permulaan.

Baca juga: Susan Wojcicki ~ Wanita Tangguh Sang CEO Youtube yang Baru

Praktek Netflix Dalam Memperlakukan Karyawan

Saat ini tak bisa dipungkiri memang Netflix adalah salah satu perusahaan besar dan akan semakin berkembang ke depan. Sisi lebih perusahaan dalam memperlakukan karyawan nampak sangat kental di dalam Perusahaan Netflix. Bahkan Netflix di Amerika Serikat sendiri banyak menuai pujian dalam hal memperlakukan karyawan yang sangat baik. Gaji pegawai Netflix terkenal sangat tinggi. Para karyawan pun juga memiliki opsi yang sangat menarik yaitu apakah gaji mereka dibayar dalam bentuk yang lebih besar saham atau uang.

Waktu cuti juga sangat fleksibel, mereka bisa bebas memilih kapan waktu cuti untuk mereka, tidak ada batasan tertentu dari perusahaan. Bahkan, karyawan pun bisa bisa liburan selama waktu yang mereka mau asal pekerjaan mereka beres. Untuk karyawan yang dikaruniai bayi, mereka mendapatkan cuti setahun dan tetap mendapatkan gaji penuh.

Budaya seperti itu adalah gagasan Hastings yang disebut dengan Freedom & Responsibility. Namun perlu diketahui, meski para karyawan memiliki fasilitas istimewa, mereka tetap dituntut untuk bekerja yang luar biasa. Untuk yang bekerja biasa-biasa saja, bisa dikeluarkan sewaktu-waktu, namun juga tetap mendapatkan pesangon dalam jumlah besar.




Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud