Potensi Besar Pengembangan Printer 3D Untuk Kampanye Pemasaran

Image dari Google.com

Bagi yang belum mengetahui, saat ini sudah diciptakan teknologi printer yang mana bisa mencetak objek dalam bentuk tiga dimensi. Seperti diketahui, printer yang ada dan diketahui oleh banyak orang digunakan untuk mencetak di atas media kertas. Oleh karena itu, hasilnyapun merupakan objek dua dimensi saja.

Namun dengan perkembangan teknologi, para ahli di beberapa negara sudah mampu mengembangkan teknologi printer khusus yang mampu mencetak objek tiga dimensi. Selain dapat membuat sesuatu yang terasa nyata, #teknologi ini juga menawarkan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dalam berbagai bidang lain.

Artikel lain: Kacamata Kardus 3D Google yang Unik dan Canggih

Salah satunya dalam bidang bisnis. Sudah cukup banyak perusahaan yang mulai menggunakan printer 3 dimensi untuk mencetak berbagai materi promosi maupun untuk membuat media yang diharapkan dapat menarik minat konsumen lebih baik.

Seperti apa pemanfaatanya? Berikut ulasan potensi pengembangan printer 3D dalam upaya kampanye pemasaran.

Teknologi Mutakhir

Teknologi printer 3D masih dikategorikan sebagai teknologi terbatas karena baik dalam hal kualitas maupun kuantitas belum terlalu besar. Mungkin di beberapa negara besar seperti Amerika, printer 3 dimensi sudah mulai di kembangkan dengan tahap yang lebih tinggi.

Tidak hanya diperuntukkan mencetak objek mini dengan lebih mudah dan cepat, teknologi ini juga sudah dilengkapi dengan material yang beragam sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Bahkan, di Jepang, ada perusahaan teknologi yang khusus mengembangkan printer 3 dimensi yang dapat mencetak makanan dengan bentuk aneka rupa.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melihat perkembangan teknologi yang ada serta penerapannya dalam bidang bisnis, nampaknya printer 3D belum begitu diminati. Bisa dibilang, saat ini Indonesia masih berada pada tahap pengenalan dari teknologi terapan tersebut.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Hongkong dan Singapura, kedua negara tersebut sudah mulai mampu membuat produk dari printer 3D untuk kebutuhan marketing usaha.

“Indonesia saat ini masih menjadi pusat produksi, belum menjadi pusat pengembangan produk bila dibandingkan dengan Hong Kong dan Singapura. Banyak desain produk dari dua negara ini yang selanjutnya diproduksi masal di Indonesia,” kata Harry Liong, Founder SugaCube 3D Studio.




Permasalahan Biaya

Lalu apa yang menjadi masalah utama sulitnya  adaptasi teknologi printer 3D Indonesia? Jawabnya adalah masalah dana.

Hingga saat ini, mayoritas dari teknologi printer 3D memiliki harga yang cukup tinggi. Tidak hanya dari mesin, bahan serta peralatan pendukung lain juga memiliki harga yang tidak murah. Sebagai perbandingan, untuk membuat model 3D dengan ukuran hanya sekitar 10 cm, dibutuhkan biaya mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp19 juta. Angka tersebut mungkin bertambah jika objek yang dibuat juga semakin besar.

Selain itu, saat ini mayoritas printer 3D menggunakan bahan baku printing (atau dalam printer biasa yakni tintanya) berupa bahan khusus yang diberi nama sandstone. Bahan sandstone ini merupakan bahan khusus yang terbuat dari sedimen mineral pasir atau kerikil. Bahan inilah yang masih sulit untuk dikembangkan secara mandiri. Jadi untuk bisa mengakses bahan ini harus didatangkan langsung dari negara besar seperti Amerika.

Bergeser pada mesin printernya, untuk model yang paling murah dihargai Rp10 juta rupiah hingga Rp150 juta, namun ada pula printer 3D profesional yang harganya jauh lebih mahal lagi mencapai ratusan juta.

Menurut Harry, ia pernah menemui beberapa produk printer 3D di Indonesia. Namun permasalahannya adalah, dari sisi kualitas bahan dasar masih jauh jika dibanding bahan buatan Amerika.

“Kami pernah menemukan printer 3D buatan lokal di beberapa pameran, namun memang belum sebaik buatan Amerika,” ujarnya.

Baca juga: Bioskop Mini 3D Goes To School – Bisnis Franchise Berkonsep Edukasi yang Menghibur

Jika hanya untuk membuat objek dengan jumlah kecil sudah membutuhkan biaya yang sangat besar, bentuk bisa dibayangkan pembuatan produk secara masal akan menyedot dana yang kurang masuk akal jika dialokasikan dari upaya marketing.

Namun hal tersebut tentu akan menyesuaikan dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan saja, setelah ditemukan mulai sekitar 4 tahun lalu, informasi yang masuk ke Indonesia tentang penggunaan printer 3 dimensi sudah lebih berkembang. Oleh karena itu, mungkin dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk nantinya printer 3D bisa benar-benar awam dijumpai di pasar lokal.




2 total comments on this postSubmit yours
  1. Mau nanyak Mas manurung, mlenceng dari topik. Itu nama widget recent post disidebar namanya apa ya, kok kenceng banget? hehe

    • Itu pakai plugin WP Tab Widget dari MyThemeShop. Silahkan diterapkan di blog mas :)

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud