Bagas Utomo Putro, Berbisnis Burung Paruh Bengkok dan Diganjar Rp72 Juta

Bagas Utomo Putro

Bagas Utomo Putro via SWA

Berbisnis adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang, termasuk dari kalangan anak muda. Salah satu dari anak muda tersebut adalah Bagas Utomo Putro, seorang mahasiswa semester 8 dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Anak muda ini memulai bisnis burung Paruh Bengkok sejak tahun 2014 silam. Dengan modal awal sebesar Rp500 ribu, Bagas membangun Philo Parrot, yaitu sebuah usaha budidaya burung Paruh Bengkok. Bagas menjual burung Paruh Bengkok tersebut dengan memanfaatkan media internet.

“Awalnya saya memelihara burung Paruh Bengkok dan saya latih, kemudian saya upload ketrampilan burung peliharaan tersebut di sosial media, ternyata respon dari teman-teman sangat positif dan saya mulai melihat peluang untuk dijadikan bisnis,” terang Bagas pada awak media kala itu.

Mulai Menekuni Budidaya Burung Parrot

Melihat cukup tingginya permintaan akan burung Paruh Bengkok, Bagas kemudian mulai menekuni usaha budidaya burung Parrot ini dengan menjinakkan dan melatih burung tersebut. Burung yang sudah jinak dan terlatih dengan baik, harganya akan meningkat hingga 10 kali dari harga normal.

Burung yang memiliki keterampilan biasanya sangat diminati oleh para konsumen. “Burung ini bisa dilatih bermacam ketrampilan seperti fly to me, free fly, frisbee game, menabung, berbicara, bermain basket dan lainnya. Jadi tidak seperti memelihara burung yang selama ini kita kenal yang hanya dinikmati dari segi suara dan warnanya, tetapi burung ini lebih interaktif karena bisa melakukan berbagai macam atraksi, bisa diajak  bermain di luar kandang sehingga bisa menjadi sahabat sekaligus hiburan bagi pemilik burung tersebut,” terang Bagas.

Philo Parrot memiliki beberapa macam jenis burung Paruh Bengkok dan produk pendukung yang digunakan untuk merawat burung Paruh Bengkok.




Menurut Bagas, burung Paruh Bengkok yang sudah terlatih sangat diminati oleh kalangan pecinta burung. Dari hasil penjualan burung Paruh Bengkok, usahanya tersebut bisa menghasilkan Rp 5 – 6 juta per bulan, dalam setahun mencapai Rp 72 juta.

Target market Philo Parrot adalah para pecinta burung. “Namun saya juga terus melakukan edukasi pasar agar tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang awam tentang burung pun tertarik untuk memelihara burung Paruh Bengkok yang pintar dan mempunyai tingkah yang lucu,” kata pria kelahiran Surakarta, 17 April 1993 ini.

Bermitra Dengan Peternak Burung

Tingginya permintaan konsumen akan burung Paruh Bengkok membuat Bagas memutar otak agar bisa memenuhi permintaan tersebut. Salah satu upaya dilakukan oleh Bagas adalah dengan cara bermitra dengan peternak burung di Surakarta, Jawa Tengah.

Salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh Bagas adalah dengan cara berpartisipasi dalam pameran dan bergabung dengan komunitas pecinta burung Paruh Bengkok. Selain itu, Bagas Utomo Putro juga memanfaatkan forum-forum pecinta burung Paruh Bengkok dan juga media sosial (Facebook, Instagram) untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Permintaan pun berdatangan, bahkan ada konsumen yang berasal dari luar negeri. Sayangnya, Bagas kesulitan memasok burung ke manca negara karena biaya untuk pengiriman burung Paruh Bengkok ke luar negeri cukup besar, bahkan mencapai 10 kali lipat dari harga jualnya. “Hal ini yang membuat calon konsumen di luar Indonesia keberatan. Selain itu, ada juga resiko kematian indukan atau anakan yang akan dipanen,” ungkap Bagas.

Bagas Utomo Putro yang telah menerima beasiswa wirausaha mahasiswa dari Mien R. Uno Foundation mengatakan bahwa ke depannya ia akan bersinergi dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam untuk menangkarkan burung-burung endemik Indonesia yang terancam punah.

“Agar burung-burung Paruh Bengkok khas Indonesia tersebut tidak punah, setelah itu dengan manajemen yang baik saya yakin burung-burung tersebut sangat berpotensi menjadi komoditas ekspor. Saya ingin menjadikan burung-burung ini sebagai sarana edukasi ke anak-anak untuk melatih rasa tanggung jawab, disiplin, empati, kecerdasan natural dan lainnya,” kata Bagas yang juga adalah seorang pecinta burung sejak masa kanak-kanak.






Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2017 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud