Beranda Akuntansi Pengertian Depresiasi Dalam Akuntansi, Metode, dan Contoh Depresiasi

Pengertian Depresiasi Dalam Akuntansi, Metode, dan Contoh Depresiasi

Pengertian Depresiasi
Ilustrasi Depresiasi

Pengertian Depresiasi

Apa itu depresiasi? Pengertian Depresiasi adalah alokasi yang dibuat secara sistematis untuk menyusutkan atau mengurangi jumlah suatu aset selama umur manfaatnya.

Aktiva tetap tersebut adalah harta perusahaan guna menunjang aktivitas operasional. Setiap tahun muncul biaya penyusutan terhadap aktiva tetap tersebut sebagai penggunaanya dalam operasional perusahaan.

Secara umum penerapan depresiasi atau penyusutan  aktiva tetap pada keuangan perusahaan dapat mempengaruhi laporan keuangannya dan juga perubahan pajak penghasilan perusahaan. Depresiasi seringkali dianggap sebagai kerugian dalam perhitungan nilai, namun bagi seorang akuntan yang memahami laporan keuangan dapat memandang depresiasi sebagai alat untuk alokasi biaya.

Baca juga: Pengertian Aset

Pengertian Depresiasi Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami apa arti depresiasi atau penyusutan, maka kita bisa merujuk pada pendapat beberapa ahli tentang definisi depresiasi. Berikut ini adalah pengertian depresiasi atau penyusutan menurut para ahli:

1. Sofyan Harahap

Menurut Sofyan Harahap pengertian depresiasi adalah pengalokasian harga pokok aktiva tetap selama masa penggunaanya atau dapat juga kita sebut sebagai biaya dibebankan terhadap produksi akibat pengunaan aktiva tetap itu dalam proses produksi.

2. Kleso, Weygant dan Warfield

Menurut Kleso, Weygant dan Warfield pengertian depresiasi adalah proses akuntansi untuk mengalokasikan biaya aset berwujud menjadi biaya secara sistematis dan nasional terhadap periode yang diharapkan dapat memanfaatkan penggunaan aset tersebut.

3. Zaki Baridwan

Menurut Zaki Baridwan, definisi depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi biaya stai periode akuntansi.

4. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

Menurut PSAK No. 17 pengertian depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baca juga: Pengertian Modal

Metode Depresiasi dalam Akuntansi Bisnis

Dalam perusahaan terdapat beberapa metode depresiasi yang umum digunakan. Sesuai dengan pengertian depresiasi diatas, dimana mengharuskan seorang akuntan untuk menggunakan metode depresiasi yang rasional dan sistematis.

Misalnya dalam sebuah contoh studi kasus, perusahaan Anda ingin membeli mesin produksi baru untuk tujuan tertentu maka dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Biaya Mesin Produksi Baru = Rp500 juta
  • Estimasi Waktu Manfaat = 5 tahun
  • Estimasi Nilai Sisa = Rp50 juta
  • Umur Produktif = 30 ribu jam

Dari gambaran tersebut, maka ada beberapa metode depresiasi yang bisa Anda gunakan untuk menghitung beban penyusutan keuangan perusahaan Anda, diantaranya:

1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)

Metode ini disebut juga Straight-Line Method dan merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menghitung beban penyusutan. Metode ini fokus pada penyusutan sebagai fungsi dari waktu dan bukan dari fungsi penggunaan.

Rumus perhitungannya sebagai berikut:

  • Biaya Penyusutan = (Biaya Perolehan Aset – Nilai Residu) : (Masa Manfaat Aset)
  • Beban penyusutan = (Rp500 juta – Rp50 juta) : 5 = Rp 90 juta

Namun penggunaan metode ini dinilai kurang realistis karena kegunaan aktiva sama setiap tahunnya.

2. Metode Beban Menurun (Decreasing Charge Method)

Metode ini merupakan metode penyusutan dipercepat dimana menyediakan biaya penyusutan lebih tinggi pada tahun awal dan beban rendah pada periode selanjutnya. Fokus utama pada metode ini adalah beban penyusutan lebih banyak pada tahun awal karena aktiva mengalami penurunan pada tahun tersebut.

Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu

A. Metode Jumlah Angka Tahun

Perhitungan penyusutannya menggunakan pecahan dengan pembilang angka tahun (5+4+3+2+1=15) dan jumlah tahunnya menjadi penyebut. Pada metode ini, pembilang menurun tahun demi tahun dan penyebut tetap konstan (5/15, 4/15, 3/15, 2/15 dan 1/15). Berikut ilustrasinya:

TahunHarga Perolehan
(Rp)
Pecahan PenyusutanBeban Penyusutan (Rp)Akumulasi Penyusutan (Rp)Nilai Buku Akhir Tahun (Rp)
1450.000.0005/15150.000.000150.000.000350.000.000
2450.000.0004/15120.000.000270.000.000230.000.000
3450.000.0003/1590.000.000360.000.000140.000.000
4450.000.0002/1560.000.000420.000.00080.000.000
5450.000.0001/1530.000.000450.000.00050.000.000

B. Metode Saldo Menurun

Metode saldo menurun menggunakan biaya penyusutan (dalam persentase) berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus. Misalnya, tarif saldo menurun berganda untuk aktiva 10 tahun akan menjadi 20% (dua kali biaya garis lurus, yaitu 1/10 atau 10%). Berikut ilustrasinya:

TahunHarga Perolehan (Rp)Nilai Buku Awal Tahun (Rp)TarifPenyusutan (Rp)Akumulasi Penyusutan (Rp)Nilai Buku Akhir Tahun (Rp)
1500.000.000500.000.00040%200.000.000200.000.000300.000.000
2500.000.000300.000.00040%120.000.000380.000.000180.000.000
3500.000.000180.000.00040%72.000.000428.000.000108.000.000
4500.000.000108.000.00040%43.200.000456.800.00064.800.000
5500.000.00064.800.000-14.800.000485.200.00050.000.000

3. Metode Aktivitas (Unit Penggunaan atau Produksi)

Pada metode ini mengansumsikan penyusutan sebagai fungsi dari produktivitas atau penggunaan dan bukan dari segi berlalunya waktu. Dengan gambaran diatas, penentuan umur penyusutan mesin produsi tidak memiliki masalah tertentu karena penggunaan relatif mudah diukur.

Misalkan mesin produksi digunakan 4.000 jam di tahun pertama, maka beban penyusutannya dapat dihitung sebagai berikut:

Beban penyusutan = [(Rp 500 juta – Rp 50 juta) x 4.000]: 30 ribu = Rp60 juta.

Namun metode ini memiliki keterbatasan karena tidak tepat digunakan pada situasi penyusutan berdasarkan waktu dan bukan aktivitas.

4. Metode Depresiasi Khusus

Dalam pengertian depresiasi sudah dijelaskan bahwa tujuannya adalah untuk mengetahui penyusutan manfaat aset perusahaan. Namun pada beberapa khasus, perusahaan tidak bisa memilih salah satu metode depresiasi diatas karena aktiva yang terlibat memiliki karakteristik yang unik atau membutuhkan penerapa khusus.

Ada dua metode khusus yang bisa Anda terapkan pada kasus tersebut yaitu:

  • Metode kelompok dan gabungan; sering digunakan pada aktiva yang cukup homogen dan memiliki fungsi yang hampir sama.
  • Metode campuran dan kombinasi; diterapkan sesuai dengan keinginan akuntan.

Baca juga: Pengertian Akuntansi Menurut Para Ahli

Jadi, dari ulasan tentang pengertian depresiasi dan jenis-jenis metode perhitungan depresiasi di atas, metode mana yang paling baik? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tergantung dari kondisi aktiva perusahaan. Semoga bermanfaat.