Advertisement

Pengertian Devaluasi: Penyebab, Tujuan, Dampak, dan Contohnya

Pengertian Devaluasi
Ilustrasi Devaluasi

Pengertian Devaluasi – Bagi kamu yang belum tahu, devaluasi adalah suatu bentuk kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang lokal suatu negara terhadap nilai mata uang asing.

Ini berarti bahwa mata uang negara tersebut secara resmi ditetapkan memiliki nilai yang lebih rendah dalam hubungannya dengan mata uang asing.

Artikel ini akan mengulas secara ringkas materi tentang devaluasi, mulai dari pengertian devaluasi, penyebab, tujuan, dampak, hingga contohnya. Yuk simak artikel ini sampai akhir.

Pengertian Devaluasi

Apa itu devaluasi mata uang? Pengertian devaluasi adalah proses penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain atau standar tertentu. Devaluasi terjadi ketika pemerintah atau otoritas moneter sengaja mengurangi nilai tukar mata uang nasional terhadap mata uang asing atau standar tertentu, seperti emas.

Ada beberapa alasan mengapa sebuah negara mungkin memutuskan untuk melakukan devaluasi mata uangnya:

  1. Meningkatkan daya saing ekspor: Dengan melakukan devaluasi, harga ekspor dari negara tersebut menjadi lebih murah dalam mata uang asing. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekspor, karena produk dari negara tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional.
  2. Mendorong sektor pariwisata: Devaluasi dapat membuat negara menjadi tujuan wisata yang lebih terjangkau bagi wisatawan asing, karena nilai mata uang mereka lebih rendah. Ini dapat membantu meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata.
  3. Mengatasi defisit perdagangan: Jika negara mengalami defisit perdagangan yang tinggi, devaluasi dapat membantu mengurangi defisit tersebut. Dengan menurunkan nilai tukar mata uang, harga impor menjadi lebih mahal dan harga ekspor menjadi lebih murah, yang dapat mendorong ekspor dan mengurangi impor.

Namun, devaluasi juga dapat memiliki beberapa konsekuensi negatif, antara lain:

  1. Meningkatkan harga impor: Devaluasi dapat menyebabkan harga impor menjadi lebih mahal dalam mata uang nasional. Jika negara tersebut sangat bergantung pada impor, ini dapat mengakibatkan inflasi dan memperburuk daya beli konsumen.
  2. Meningkatkan utang luar negeri: Jika negara memiliki utang dalam mata uang asing, devaluasi dapat membuat jumlah utang tersebut meningkat dalam mata uang nasional. Ini dapat menyulitkan negara untuk membayar utang dan mempengaruhi kredibilitas keuangan negara.
  3. Ketidakpastian ekonomi: Devaluasi dapat menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan dan mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Investor mungkin kehilangan kepercayaan dan menarik investasi mereka, yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.

Singkatnya, devaluasi adalah keadaan dimana mata uang lokal memiliki kurs (baca: pengertian kurs) atau harga yang semakin murah secara internasional. Keadaan devaluasi ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian suatu negara, terutama pada kegiatan perdagangan internasional.

Devaluasi adalah kebijakan ekonomi yang kompleks dan dapat memiliki konsekuensi yang signifikan tergantung pada kondisi ekonomi negara yang bersangkutan. Keputusan untuk melakukan devaluasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati oleh otoritas moneter atau pemerintah yang terlibat.

Baca juga: Pengertian Revaluasi

Tujuan Devaluasi Mata Uang

Mengacu pada pengertian devaluasi, tujuan devaluasi dapat bervariasi tergantung pada kebijakan ekonomi dan kondisi negara yang menerapkannya. Berikut ini adalah beberapa tujuan umum dari devaluasi:

1. Meningkatkan Daya Saing Ekspor

Salah satu tujuan utama devaluasi adalah meningkatkan daya saing produk ekspor suatu negara. Dengan menurunkan nilai mata uang domestik, harga ekspor menjadi lebih murah bagi negara-negara yang menggunakan mata uang asing. Hal ini dapat mendorong peningkatan volume ekspor, membantu mengurangi defisit neraca perdagangan, dan meningkatkan pendapatan devisa negara.

2. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Devaluasi dapat digunakan sebagai langkah stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dengan meningkatkan daya saing ekspor, negara dapat meningkatkan produksi dan menarik investasi asing. Hal ini dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan, dan merangsang sektor-sektor ekonomi yang terkait dengan ekspor.

3. Mengurangi Defisit Neraca Perdagangan

Jika suatu negara mengalami defisit neraca perdagangan yang signifikan (impor lebih besar dari ekspor), devaluasi dapat membantu mengurangi defisit tersebut. Dengan menurunkan nilai mata uang domestik, impor menjadi lebih mahal dan ekspor menjadi lebih murah, sehingga dapat mengurangi jumlah impor dan meningkatkan ekspor.

4. Mengatasi Krisis Ekonomi

Devaluasi dapat digunakan sebagai langkah darurat untuk mengatasi krisis ekonomi. Ketika negara menghadapi tekanan ekonomi yang serius, seperti penurunan produksi, inflasi tinggi, atau kelangkaan devisa, devaluasi dapat membantu memulihkan stabilitas dan mengatasi masalah tersebut. Devaluasi dapat meningkatkan daya saing ekspor, memperbaiki neraca pembayaran, dan mengurangi defisit anggaran.

5. Meningkatkan Penerimaan dari Remitansi

Devaluasi dapat meningkatkan penerimaan dari remitansi, yaitu uang yang dikirim oleh pekerja migran ke negara asal mereka. Dengan menurunkan nilai mata uang domestik, pekerja migran akan mendapatkan lebih banyak mata uang domestik ketika mereka menukar mata uang asing yang mereka kirimkan. Hal ini dapat meningkatkan penerimaan devisa negara dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Perlu dicatat bahwa devaluasi juga memiliki dampak negatif, seperti meningkatnya harga impor, inflasi, dan beban utang negara yang memiliki hutang dalam mata uang asing. Oleh karena itu, kebijakan devaluasi harus dipertimbangkan secara hati-hati dan disertai dengan langkah-langkah kebijakan lainnya untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan manfaatnya.

Baca juga:

Faktor Penyebab Devaluasi

Seperti yang telah dibahas secara singkat terkait pengertian devaluasi di atas, bahwasannya keadaan tersebut akan menyebabkan nilai tukar mata uang lokal menjadi lebih kecil. Kondisi ini dapat mempengaruhi kondisi perekonomian nasional dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Ada beberapa faktor penyebab devaluasi mata uang. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Ketidakseimbangan Neraca Perdagangan

Jika suatu negara mengalami defisit neraca perdagangan yang signifikan (impor lebih besar dari ekspor), permintaan terhadap mata uang negara tersebut menurun. Hal ini dapat menyebabkan penurunan nilai mata uang dalam pasar valuta asing.

2. Intervensi Pemerintah

Pemerintah atau bank sentral suatu negara dapat melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing dengan menjual mata uang mereka dalam jumlah besar. Langkah ini dilakukan untuk menurunkan nilai mata uang secara sengaja guna meningkatkan daya saing ekspor atau mengurangi defisit neraca perdagangan.

3. Perbedaan Suku Bunga

Perbedaan suku bunga antara dua negara dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Jika suku bunga suatu negara lebih rendah dibandingkan dengan negara lain, hal itu dapat menyebabkan investor menarik modal mereka dari negara tersebut dan menukarnya dengan mata uang yang menawarkan suku bunga yang lebih tinggi. Ini dapat menyebabkan penurunan nilai mata uang negara dengan suku bunga lebih rendah.

4. Ketidakstabilan Ekonomi

Ketidakstabilan ekonomi, seperti inflasi yang tinggi, defisit anggaran yang besar, atau ketidakpastian politik, dapat menyebabkan penurunan kepercayaan terhadap mata uang negara tersebut. Investor dapat menarik investasi mereka atau menjual mata uang negara tersebut, yang menyebabkan penurunan nilai mata uang.

5. Spekulasi Pasar Valuta Asing

Aktivitas spekulatif di pasar valuta asing dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Jika para spekulan percaya bahwa mata uang suatu negara akan mengalami penurunan nilai di masa depan, mereka dapat menjual mata uang tersebut dalam jumlah besar, yang menyebabkan penurunan nilai tukar.

6. Kondisi Ekonomi Global

Faktor-faktor ekonomi global seperti ketidakstabilan geopolitik, krisis keuangan, atau fluktuasi harga komoditas juga dapat mempengaruhi nilai mata uang. Ketika ada ketidakpastian atau kekhawatiran di pasar global, investor cenderung menghindari mata uang yang dianggap lebih berisiko, yang dapat menyebabkan penurunan nilai mata uang tersebut.

Perlu diingat bahwa faktor-faktor di atas dapat saling terkait dan berinteraksi satu sama lain. Kombinasi dari beberapa faktor ini dapat mempengaruhi pergerakan nilai mata uang di pasar valuta asing.

Baca juga: Pengertian Inflasi

Dampak Devaluasi Terhadap Ekspor-Impor

Perdangangan internasional merupakan bidang yang memiliki hubungan paling erat terhadap nilai mata uang. Penurunan atau kenaikan nilai mata uang suatu negara akan berdampak pada sedikit banyaknya volume ekspor-impor.

Adapun dampak devaluasi terhadap bisnis ekspor maupun impor yaitu:

1. Berkurangnya Volume Impor

Devaluasi menyebabkan harga barang luar negeri semakin mahal sehingga masyarakat akan semakin kesulitan dan terbebani untuk membelinya. Hal tersebut secara bertahap akan mengubah pola pikir masyarakat untuk membeli barang dalam negeri sehingga volume impor semakin berkurang.

Di sisi lain, penggunaan barang lokal akan semakin meningkat yang nantinya dapat mempengaruhi pendapatan perkapita suatu negara.

2. Bertambahnya Volume Ekspor

Jika nilai mata uang lokal rendah di dunia internasional, harga barang lokal juga akan dirasa murah oleh warga asing. Hal ini akan mendorong permintaan barang oleh masyarakat luar negeri sehingga volume ekpor dapat bertambah.

Peningkatan ekspor dapat meningkatkan jumlah peredaran mata uang asing seperti dollar dalam suatu negara sehingga dapat memperbaiki posisi BOP (balance of payment) dan BOT (balance of trade).

3. Barang Lokal semakin Bersaing

Kondisi devaluasi dapat menjadi salah satu batu loncatan pengusaha lokal untuk bersaing di pasar internasional. Barang lokal yang ditawarkan kepada masyarakat luar negeri akan semakin beragam.

Bahkan harga barang lokal yang dianggap murah di luar negeri mengubah pola pikir masyarakat asing sehingga mereka lebih memilih barang impor yang murah daripada barang lokal mereka yang cenderung lebih mahal. Selain itu, keadaan tersebut juga akan menyebabkan pengusaha lokal di luar negeri menurunkan harganya.

4. Meningkatnya Devisa

Ketidakseimbangan kegiatan ekspor-impor dimana volume ekspor lebih tinggi dibandingkan volume impor akan memberi keuntungan dalam perdagangan internasional sehingga cadangan devisa meningkat.

Cadangan devisa tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan maupun mendirikan suatu perusahaan yang dapat mennyediakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran.

Contoh Devaluasi di Indonesia

Pemerintah Indonesia sendiri pernah melakukan kebijakan devaluasi mata uang beberapa kali. Seperti pada penjelasan di atas, devaluasi dilakukan pemerintah sebagai salah satu upaya untuk menstabilkan perekonomian negara.

Namun, perlu diketahui bahwa kondisi ini juga memiliki dampak negatif dalam jangka pendek seperti adanya peningkatan harga barang lokal karena semakin banyaknya permintaan. Selain itu, warga lokal yang memiliki hutang luar negeri akan semakin bertambah nilainya.

Berikut ini adalah beberapa contoh kebijakan devaluasi yang pernah dilakukan pemerintah Indonesia:

1. Kebijakan Devaluasi Pada 30 Maret 1950

Pemerintahan Presiden Sukarno, melalui menkeu Syafrudin Prawiranegara (Masyumi, Kabinet Hatta RIS) pada 30 Maret 1950 melakukan devaluasi dengan penggutingan uang. Syafrudin Prawiranegara menggunting uang kertas bernilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya berkurang separuh. Tindakan ini dikenal sebagai “Gunting Syafrudin”.  sumber Wikipedia

2. Kebijakan Devaluasi Pada 24 Agustus 1959

Pemerintahan Presiden Sukarno melalui Menteri Keuangan yang dirangkap oleh Menteri Pertama Djuanda menurunkan nilai mata uang Rp 10.000 yang bergambar gajah dan Rp 5.000 yang bergambar macan, diturunkan nilainya hanya jadi Rp 100 dan Rp 50. sumber Wikipedia

3. Kebijakan Devaluasi 21 Agustus 1971

Masa pemerintahan Presiden Suharto (Orde Baru) melalui Menkeu Ali Wardhana. AS pada 15 Agustus 1971 harus menghentikan pertukaran dollar dengan emas. Presiden Nixon cemas dengan terkurasnya cadangan emas AS jika dollar dibolehkan terus ditukar emas, sedang nilai waktu itu US$ 34.00 sudah bisa membeli 1 onz emas. Soeharto tidak bisa mengelak dari dampak gebrakan Nixon dan Indonesia mendevaluasi Rupiah pada 21 Agustus 1971 dari Rp. 378 menjadi Rp. 415 per 1 US$. sumber Wikipedia

4. Kebijakan Devaluasi 15 November 1978

Masa Pemerintahan Presiden Suharto melalui Menkeu Ali Wardhana. Walaupun Indonesia mendapat rezeki kenaikan harga minyak akibat Perang Arab – Israel 1973, tetapi Pertamina justru nyaris bangkrut dengan utang US$ 10 milyar dan Ibnu Sutowo dipecat pada 1976. Tetap tidak bisa dihindari devaluasi kedua oleh Soeharto pada 15 November 1978 dari Rp. 415 menjadi Rp. 625 per 1 US$. sumber Wikipedia

5. Kebijakan Devaluasi 30 Maret 1983

Masa Pemerintahan Presiden Suharto melalui Menkeu Radius Prawiro. Pada saat itu Menkeu Radius Prawiro mendevaluasi rupiah 48% jadi hampir sama dengan menggunting nilai separuh. Kurs 1 dolar AS naik dari Rp 702,50 menjadi Rp 970. sumber Wikipedia

Baca juga: Pengertian Insentif

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian devaluasi, tujuan devaluasi, faktor penyebab devaluasi, dan contoh kebijakan devaluasi di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.