Wahyudin ~ Tak Menyerah Pada Nasib, Mantan Pemulung Ini Bersiap Masuk S3 Luar Negeri

Image dari Detik.com

Image dari Detik.com

“Tuhan telah menciptakan takdir sebagai buku kehidupan, dan tugas manusia menggerakkan nasibnya menuju kehidupan yang lebih baik.”

Sepetik kata-kata motivasi di atas merupakan pakem ilahi yang tiap orang harus meyakininya. Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, maka ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya. Bahkan dalam keadaan sesulit apapun, peluang keberhasilan tersebut tetap disediakan Tuhan untuk orang yang mau berusaha.

Hal tersebut kembali dibuktikan oleh seorang pemuda biasa bernama Wahyudin. Ia yang berasal dari keluarga sangat sederhana, harus menjalani kehidupan keras sebagai pemulung untuk mempertahankan api cita-citanya tetap menyala. Dan kini sebagai buah manis perjuangan, ia berhasil menggapai cita-cita yakni mendapatkan #pendidikan bahkan hingga berkesempatan menempuh studi doktoral S3 di universitas luar negeri.



Artikel lain: Sunny Kamengmau ~ Dari Tukang Kebun Kini Sukses Produksi Tas Sosialita Jepang

Perjuangan Sang Pemulung Ganteng

Belum lama ini ranah maya, mulai media online hingga #media sosial diramaikan munculnya sosok pria berparas menarik namun memiliki background kehidupan yang terterduga. Pria tampan bernama Wahyudin tersebut ternyata berprofesi sebagai pemulung.

Tak cukup itu saja, ternyata kisah hidup pria 24 tahun ini menyimpan cerita yang jauh lebih menarik. Ia yang lahir dari keluarga kurang mampu ini ternyata tengah menempuh pendidikan magister S2 nya di salah satu perguruan tinggi negeri prestisius di Indonesia. Bagaimana bisa?

Terlahir sebagai sulung dari 3 bersaudara, Wahyudin sempat hampir patah arang mengetahui kenyataan bahwa semua saudaranya tidak bisa meneruskan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar. Padahal dalam hati, menempuh pendidikan setinggi-tingginya merupakan cita-cita besar yang ingin ia kejar. Dengan motivasi besar tersebut, dimulailah perjuangan Wahyudin cilik.

Ketika pekerjaan sang orang tua sebagai buruh tani hanya cukup mengisi perut, Wahyudin sadar bahwa jalan satu-satunya untuk mengejar mimpi adalah dengan berusaha mencari pendapatan sendiri. Kala itu, ketika menginjak usia 10 tahun, ia mulai menjadi pemulung barang bekas untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-harinya.

“Saya putusin jalan ke tetangga untuk mulung. SD kebutuhan makin besar saya tambah mulung dan gembala kambing, udah SMP tambah jualan gorengan, SMA tambah mulung, gembala kambing, mengajar les disambi on air jadi penyiar, jualan susu murni, dagang asongan di pinggir rel, semua ada 7 profesi di luar sekolah,” ungkap Wahyudin.

Meski berat, beragam perkejaan tersebut ia jalani dengan sabar bahkan hingga saat ini. Dari hasil kerja kerasnya, Wahyudin akhrinya bisa menamatkan pendidikan dasar dan mendapat kesempatan untuk lanjut ke universitas.

Prinsip Tak Ingin Mengeluh Milik Wahyudin

Yang patut dicontoh, selama menjalani beragam pekerjaan kasar tersebut Wahyudin berusaha tidak mengeluh atau berbagi kesedihan dengan keluarganya. Ia hanya akan berbagi ketika ia mendapatkan kebahagiaan, ntah berhasil mengais rupiah dari kerja kerasnya atau  beragam title prestasi ketika ia menempuh pendidikan.

“Kalau kartu bayaran itu engga boleh kasih tahu orang tua, harus taruh di bawah bantal sendiri, bayaran saya harus pusing sendiri, nangis sendiri, laporan ke guru BP izin setiap semester itu sudah biasa waktu kuliah di Uhamka. Tapi kalau saya dapat ranking, juara, terpilih jadi pemuda pelopor kota Bekasi itu saya share saya kasih tau Emak. ‘Saya ranking loh, saya dapat juara ini loh Mak’,” detilnya saat mengenang perjuangan.

Dan nyatanya Wahyudin memang tergolong berotak encer. “Sekolah tetap dapat ranking, di S1 juga IPK saya 3,85,” ungkapnya.

Baca juga: Meski Penuh Keterbatasan, Pria Ini Mempunyai Cita-Cita Dan Semangat Bisnis Luar Biasa

Mendapat Kesempatan Menempuh Program Doktoral di Luar Negeri

Perjuangan Wahyudin terus berlanjut ketika ia masuk ke perguruan tinggi. Kala itu ia masuk menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan lulus pada tahun 2013.

Kisah hidup dan perjuangan Wahyudin akhrinya sampai juga ke telinga Kementerian Pendidikan yang kala itu langsung menawari ia untuk dapat melanjutkan pendidikan hingga program Doktoral S3. Tak cuma itu, Wahyudin bahkan bisa memilih universitas asing manapun dan masuk tanpa prasyarat tes. Menanggapi tawaran tersebut, satu negara yang terfikir olehnya adalah Arab Saudi. Mengapa? Karena dalam benaknya sembari menuntut ilmu, di sana ia juga bisa beribadah.

Gayung bersambut, sebagai langkah awal kementerian akhirnya memasukkan Wahyudin pada Program Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB kampus Jakarta sebagai tahap awal sebelum ia melanjutkan program doktoralnya.

Bagimanapun pendidikan memang menjadi hal yang wajib kita kejar sebagai bekal masa depan. Dan pendidikan hidup seperti yang dikisahkan Wahyudin semoga bisa menjadi pelecut semangat utamanya bagi kita para generasi muda. Get Inspired!






3 total comments on this postSubmit yours
  1. Artikelnya sangat bagus, dapat menjadikan sebuah inspirasi. Keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang bagi penikmat dan penjelajah pendidikan. Keterbatasan ekonomi tidak dapat mengulurkan impian dan masa depan yang lebih baik.
    Mohon di save artikelnya.

  2. Sangat inspiratif…. Memotivasi saya untuk segera ambil program Master juga nih

  3. Sangat menginpirasi bagi kita yang hanya bermalas-malasan

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud