Pengertian Radikalisme, Sejarah, Ciri-Ciri, Penyebab Radikalisme

Sebenarnya, apa arti radikalisme? Secara sederhana, pengertian radikalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian secara ekstrim terhadap suatu sistem masyarakat hingga ke akarnya.

Radikalisme adalah salah satu masalah sosial yang menghantui kehidupan masyarakat di Indonesia dan dunia. Adanya globalisasi menjadi salah satu pemicu munculnya paham atau ideologi radikalisme, baik dalam kehidupan sosial maupun politik.

Saat ini, radikalisme sering dikait-kaitkan dengan konsep terorisme dan ekstrimisme. Padahal sebenarnya ada banyak pengertian radikalisme, tergantung konteks yang dibicarakan.

Pengertian Radikalisme

Kata Radikalisme berasal dari bahasa Latin, yaitu Radix yang artinya akar. Istilah ini ditujukan untuk hal-hal yang mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok masalah, dan esensi dari berbagai gejala.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada tiga arti radikalisme. Pertama, radikalisme adalah aliran atau paham yang radikal dalam politik, kedua, radikalisme adalah aliran atau paham yang menghendaki adanya perubahan sosial dan politik secara drastis, dan yang ketiga, radikalisme adalah aliran politik yang bersikap ekstrim.

Sementara menurut kamus online Merriam Webster, radikalisme adalah perilaku atau opini orang yang menginginkan atau menyukai perubahan ekstrim dalam sistem pemerintahan atau politik.

Dalam konsep sosial politik, radikalisme adalah suatu ideologi yang menginginkan adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem masyarakat hingga ke akarnya.

Menurut situs Indonesia.go.id, istilah radikal tidak selalu bermakna negatif tetapi bisa juga bermakna positif, tergantung konteks ruang dan waktu yang melatarbelakangi penggunaan istilah tersebut. Jadi, pada dasarnya radikalisme itu mengacu pada doktrin politik yang dianut oleh pihak-pihak tertentu yang mendukung kebebasan individu dan kolektif.

Menurut para ahli, pengertian radikalisme adalah suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ ekstrim.

Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara ekstrim bahkan kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan.

Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis yang seringkali bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka.

Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Sejarah Radikalisme

Pengertian Radikalisme
Ilustrasi Radikalisme

Radikalisme sudah ada sejak jaman dahulu karena “bibitnya” sudah ada di dalam diri manusia. Menurut Ensiklopedia Britanica, istilah radikalisme dikenal pertamakali setelah Charles James Fox memaparkan tentang paham tersebut pada tahun 1797.

Saat itu, Charles James Fox menyerukan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan di Britania Raya (Inggris). Reformasi tersebut dipakai untuk menjelaskan pergerakan yang mendukung revolusi parlemen di negara tersebut. Pada akhirnya ideologi radikalisme tersebut mulai berkembang dan kemudian berbaur dengan ideologi liberalisme.

Di Prancis sebelum tahun 1848, penggunaan istilah radikal merujuk pada orang-orang yang mendukung hak pilih universal atau republik. Memasuki abad ke-19, istilah radikalisme berubah makna menjadi manusia yang dapat mengendalikan lingkungan sosial dengan tindakan kolektif.

Sedangkan di Amerika, pengertian radikalisme adalah ekstrimisme politik dalam bentuk apapun. Paham komunisme dianggap sebagai radikal kiri, dan fasisme dianggap sebagai radikal kanan. Gerakan-gerakan pemuda Amerika Serika yang mengecam nilai-nilai sosial dan politik tradisional pada saat itu disebut radikal.

Radikalisme seringkali dikaitkan dengan agama tertentu, khususnya Islam. Salah satu contohnya dapat kita lihat dari adanya kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang menginginkan perubahan tatanan dunia dengan cara kekerasan dan teror dengan membawa/ menyebutkan simbol-simbol agama Islam dalam setiap aksi mereka.

Tindakan ISIS dan dukungan dari sebagian kecil umat Islam terhadap ISIS kemudian dianggap sebagai bentuk radikalisme yang sesungguhnya. Hal ini pada akhirnya membuat sebagian masyarakat dunia menganggap ISIS merupakan gambaran dari ajaran Islam. Namun, tentu saja hal tersebut tidak benar adanya karena sebagian besar umat Islam justru mengutuk tindakan keji yang dilakukan oleh kelompok ISIS.

Radikalisme di Indonesia

Radikalisme tidak selalu bermakna negatif. Namun, istilah ini seringkali ditujukan pada pihak-pihak yang menginginkan perubahan sosial politik dengan cara kekerasan sehingga istilah radikalisme dianggap bermakna negatif.

Paham radikalisme dapat mengancam keberlangsungan suatu negara. Menurut situs Indonesia.go.id, penggunaan istilah radikalisme adalah:

  1. Radikalisme ditujukan pada kelompok-kelompok yang ingin mengubah ideologi negara, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
  2. Radikalisme juga digunakan untuk tindakan politik tertentu yang ekstrim dengan menggunakan cara-cara kekerasam, memaksakan kehendak, bahkan melakukan teror.
  3. Radikalisme juga merujuk pada tindakan kelompok-kelompok tertentu yang anti terhadap nilai-nilai demokrasi.

Baca juga: Pengertian Politik

Ciri-Ciri Radikalisme

Radikalisme sangat mudah kita kenali. Hal tersebut karena memang pada umumnya penganut ideologi ini ingin dikenal dan ingin mendapat dukungan lebih banyak orang. Itulah sebabnya radikalisme selalu menggunakan cara-cara yang ekstrim.

Berikut ini adalah ciri-ciri radikalisme:

  1. Radikalisme adalah tanggapan pada kondisi yang sedang terjadi, tanggapan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan dengan keras.
  2. Melakukan upaya penolakan secara terus-menerus dan menuntut perubahan drastis yang diinginkan terjadi.
  3. Orang-orang yang menganut paham radikalisme biasanya memiliki keyakinan yang kuat terhadap program yang ingin mereka jalankan.
  4. Penganut radikalisme tidak segan-segan menggunakan cara-cara kekerasan dalam mewujudkan keinginan mereka.
  5. Penganut radikalisme memiliki anggapan bahwa semua pihak yang berbeda pandangan dengannya adalah bersalah.

Faktor Penyebab Radikalisme

Mengacu pada pengertian radikalisme di atas, paham ini dapat terjadi karena adanya beberapa faktor penyebab, diantaranya:

  1. Faktor Pemikiran. Radikalisme dapat berkembang karena adanya pemikiran bahwa segala sesuatunya harus dikembalikan ke agama walaupun dengan cara yang kaku dan menggunakan kekerasan.

  2. Faktor Ekonomi. Masalah ekonomi juga berperan membuat paham radikalisme muncul di berbagai negara. Sudah menjadi kodrat manusia untuk bertahan hidup, dan ketika terdesak karena masalah ekonomi maka manusia dapat melakukan apa saja, termasuk meneror manusia lainnya.

  3. Faktor Politik. Adanya pemikiran sebagian masyarakat bahwa seorang pemimpin negara hanya berpihak pada pihak tertentu, mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang terlihat ingin menegakkan keadilan.Kelompok-kelompok tersebut bisa dari kelompok sosial, agama, maupun politik. Alih-alih menegakkan keadilan, kelompok-kelompok ini seringkali justru memperparah keadaan.

  4. Faktor Sosial. Masih erat hubungannya dengan faktor ekonomi. Sebagian masyarakat kelas ekonomi lemah umumnya berpikiran sempit sehingga mudah percaya kepada tokoh-tokoh yang radikal karena dianggap dapat membawa perubahan drastis pada hidup mereka.

  5. Faktor Psikologis.Peristiwa pahit dalam hidup seseorang juga dapat menjadi faktor penyebab radikalisme. Masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah percintaan, rasa benci dan dendam, semua ini berpotensi membuat seseorang menjadi radikalis.

  6. Faktor Pendidikan. Pendidikan yang salah merupakan faktor penyebab munculnya radikalis di berbagai tempat, khususnya pendidikan agama. Tenaga pendidik yang memberikan ajaran dengan cara yang salah dapat menimbulkan radikalisme di dalam diri seseorang.

Kelebihan dan Kekurangan Radikalisme

Jangan salah paham, sejak awal artikel ini menyebutkan bahwa radikalisme merupakan paham yang salah dan banyak menganggapnya sesat. Namun, di dalam radikalisme juga terdapat kelebihan.

1. Kelebihan

  • Penganut radikalisme punya tujuan yang jelas dan sangat yakin dengan tujuan tersebut.
  • Penganut radikalisme memiliki kesetiaan dan semangat juang yang sangat besar dalam mewujudkan tujuannya.

2. Kekurangan

  • Penganut radikalisme tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya karena beranggapan bahwa semua yang berseberangan pendapat adalah salah.
  • Umumnya memakai cara kekerasan dan cara negatif lainnya dalam upaya mewujudknya tujuannya.
  • Penganut radikalisme menganggap semua pihak yang berbeda pandangan dengannya adalah musuh yang harus disingkirkan.
  • Penganut radikalisme tidak perduli dengan HAM (Hak Asasi Manusia).

Baca juga: Kesenjangan Sosial

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai pengertian radikalisme, sejarah radikalisme, ciri-ciri radikalisme, serta penyebab radikalisme di berbagai tempat. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.

Tinggalkan Komentar Kamu