Trust, Kunci Utama Kesuksesan Bisnis E-Commerce

kepercayaan

Sebagai sebuah kegiatan yang terjadi diantara insan manusia, sebuah bisnis tentu akan seringkali melibatkan faktor perasaan atau emosi didalamnya. Maka kemudian banyak para pelaku usaha yang kemudian juga mempelajari psikologi atau ragam tingkah laku manusia guna mensukseskan bisnis yang dikelolanya.

Salah satu unsur keterlibatan perasaan manusia dalam kegiatan bisnis adalah trust atau kepercayaan. Dewasa ini, dengan banyaknya terjadi kasus buruknya pelayanan, mal praktek hingga penipuan membuat tingkat kepercayaan atau trust dari konsumen terhadap layanan bisnis mengalami penurunan.

Trust atau kepercayaan memang merupakan faktor paling penting dalam membangun bisnis yang sukses. Dengan tingkat trust atau kepercayaan yang tinggi dari konsumen maka  peluang Anda mendapatkan pelanggan setia akan semakin besar. Dan itu artinya keuntungan besar yang akan menuntun pertumbuhan bisnis akan cepat Anda peroleh.

Di dunia perdagangan elektronik (e-commerce) faktor trust ini malah menjadi sesuatu yang paling krusial. Hal ini dikarenakan sistem jual-bei di ranah dunia maya ini yang tidak mempertemukan pihak penjual dan pembeli secara langsung. Barang atau produk yang dijual pun tidak bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh calon pembeli.

Dari sinilah kemudian muncul problematika yang dialami para pelaku bisnis #e-commerce untuk mengembangkan usahanya. Lalu sejauh apakah faktor trust ini berlaku dan berdampak pada bisnis e-commerce di Indonesia? berikut ulasannya.

Artikel lain: 5 Strategi Memaksimalkan Bisnis eCommerce Anda

Konsumen Indonesia Masih Tidak Percaya

Sebuah data dari riset APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) telah menggambarkan bahwa ternyata masih banyak konsumen Indonesia yang masih tidak percaya dengan belanja online. Di tengah bisnis e-commerce yang sedang terus bertumbuh pesat, tentu hal ini menjadi sesuatu yang bertolakbelakang. Dari sini maka para pelaku bisnis e-commerce seharusnya lebih mengerti dan menjadikan hal ini sebagai tantangan untuk lebih bisa mengutamakan tingkat kepuasan konsumen.

Menurut Head of Marketing PT. Multiply Indonesia, Edward K. Suwignyo, tingkat kepercayaan konsumen online masyarakat Indonesia saat ini masih dalam tahap ‘I Click, I Pray’, sebuah level yang jauh lebih rendah dari level ‘I Trust I Buy’ yang semestinya dicapai. Jadi, secara umum masyarakat Indonesia disini saat ini masih belum percaya pada transkasi online yang telah ada.

Membangun Circle of Trust

Dalam e-commerce yang dibangun Multiply, Edward K. Suwignyo, menuturkan bahwa timnya telah menerapkan dua circle of trust guna membangun tingkat kepercayaan konsumennya. Dua Circle of Trust di Multiply tersebut adalah bagaimana membangun kredibilitas dan bagaimana men-deliver yang namanya assurance (jaminan).

Bagi Multiply sendiri, membangun kredibilitas konsumen memang harus terus menerus dilakukan dan dijaga setiap waktu, karena memang kredibilitas itu adalah proses jangka panjang, bukan sesuatu yang instan.




Masih menurut Edward K. Suwignyo, menurutnya dalam konsep #belanja online, yang dicari oleh konsumen sebenarnya sederhana, yaitu sesuatu yang praktis, cepat, dan aman. Dan di Indonesia saat ini sedang mengarah ke arah sana.

Baca juga: 5 Tips Sederhana Agar Situs eCommerce Tetap Eksis dan Berkembang

Program Return dan Refund

Setali tiga uang, Rolf Monteiro, CEO LivingSocial Indonesia juga menyatakan bahwa faktor ‘trust’ adalah sesuatu yang penting dalam #bisnis online. Dalam hal ini, LivingSocial sendiri telah menjalankan program Return and Refund Policy guna membangun dan menjaga ‘trust’ konsumennya. Dengan program ini, LivingSocial berharap bahwa konsumennya bisa merasakan pengalaman berbelanja yang aman, nyaman dan menyenangkan. Sehingga konsumen bisa terus mengunjungi LivingSocial dan tak berpaling dengan yang lainnya.

Keseriusan LivingSocial dalam menjalankan program ini terbukti saat ada konsumennya yang mendapatkan pelayanan atau service yang kurang baik saat liburan ke Korea. Maka saat itu pulalah, pihak LivingSocial merefund biaya dan dana yang telah dikeluarkannya. Meski perusahaan kemudian harus mengeluarkan uang yang cukup besar, namun menurut Rolf karena orientasi LivingSocial adalah memberikan pengalaman berbelanja yang baik maka hal tersebut mau tak mau harus dilakukan.

Dalam hal ini Rolf menyatakan dirinya ingin menciptakan kesan positif pada konsumen bahwa LivingSocial menjadi perusahaan yang memiliki komitmen melebihi dari sekedar yang tertulis di kertas. Mereka percaya dengan hal ini, konsumen akan terus mempercayai  LivingSocial dan akan terus kembali ke kami.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud