Tetap Ngotot Tolak FBI, Inilah Langkah “Gila” Para Insinyur Apple

kisruh Apple dan FBI

Image dari Techcrunch.com

Jika rekan-rekan menyimak beberapa artikel terakhir yang membahas tentang pabrikan smartphone populer Apple, tentu sudah tahu bahwa belum lama ini Apple sedang menghadapi sebuah kasus dilematis dengan lembaga keamanan nasional Amerika, FBI. Dan kabar terakhir menyebut bahwa kisruh Apple dengan FBI masih belum juga meredam, bahkan makin menjadi.

Disebutkan bahwa sejumlah insinyur #Apple akan melakukan aksi boikot yang terbilang cukup ekstrim. Mereka berencana akan keluar dari perusahaan Apple jika nantinya pihak FBI tetap bersikukuh untuk melakukan akses backdoor terhadap perangkat iPhone. Namun kabarnya juga, ini merupakan sebuah siasat dari pihak pengembang Apple untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi perusahaan besutan mendiang Steve Job tersebut.

Selengkapnya pembahasan tentang kabar terbaru kisruh Apple dan FPI, telah kami rangkum dalam artikel di bawah ini.

Aksi Boikot Insinyur Apple

Beberapa waktu yang lalu tempat muncul kabar bahwa sejumlah Insinyur Apple menyatakan lebih pilih untuk hengkang dari perusahaan daripada harus memenuhi permintaan FBI untuk melakukan akses backdor perangkat Apple. Keputusan tersebut tentu bukan hal yang main-main. Pasalnya jika memang aksi tersebut jadi dijalankan, efeknya bisa sangat besar sekali.

Diinformasikan dari laman Engadget, rumor tersebut juga diamini oleh mantan Engineer Manager Apple Jean-Louis Gassee yang menyatakan bahwa serikat insinyur Apple memang mempunyai pandangan untuk menjalankan opsi boikot dengan jalan keluar dari perusahaan. Alasan yang memperkuat aksi tersebut adalah karena sudah mendarah dagingnya budaya kerja dalam tubuh perusahaan Apple. Itulah yang kemudian menimbulkan rasa ketidakinginan jika hasil kerja mereka “diumbar” begitu saja.

Artikel lain: Menilik Kronologi Kisruh yang Terjadi Antara Apple dan Juga FBI

Solidnya Budaya Kerja Apple

Jika rekan-rekan membaca satu artikel yang pernah dibahas yakni tentang budaya kerja pada perusahaan Apple, kita bisa mengetahui betapa kuatnya sistem yang telah dibangun dalam perusahaan tersebut. Salah satunya yakni dipisahkannya setiap tim pengembang yang akan membuat sebuah produk tertentu. Pemisahan tersebut tentunya Bukan Tanpa Alasan, karena dengan adanya sistem tersebut maka setiap tim bisa bekerja secara maksimal dan independen. Baru setelah itu, hasil kerja setiap tim disatukan oleh tim lain yang berbeda.

Yang menarik adalah kabarnya rencana keluarnya beberapa Insinyur apel tersebut, sebenarnya merupakan salah satu strategi dari pihak Apple untuk bisa menyelesaikan kisruh ini. Bagaimana bisa? Karena pada dasarnya untuk menyediakan akses back door pada perangkat Apple, tidak bisa dilakukan hanya oleh beberapa tenaga ahli saja.

Dibutuhkan kerjasama dari tim yang terdiri dari banyak ahli. Yang artinya, jika para Insinyur tersebut keluar maka akses back door yang diminta oleh pihak FBI tidak akan pernah bisa diwujudkan karena kekurangan tenaga ahli.

Langkah Keras Pemerintah

Namun strategi tersebut nampaknya masih bisa dipatahkan dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah. Dalam kasus ini memang sejak awal pemerintah mempunyai nilai tawar yang tinggi untuk bisa menentukan hasil akhir pertikaian. Penyelesaian tersebut yakni dengan jalan menjatuhi Apple denda khusus akibat adanya gangguan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan negara.




Hal seperti ini pernah dilakukan oleh pemerintah Amerika pada medio tahun 2013 lalu pada sebuah perusahaan digital penyedia layanan email bernama Lavabit. Kala itu Lavabit digunakan oleh seorang buronan Amerika Serikat bernama Edward Snowden yang membocorkan banyak informasi penting kenegaraan paska dirinya mendapat suaka dari negara Rusia.

Pendiri sekaligus pimpinan Lavabit Ladar Levison sempat mengeluarkan statemen bahwa dirinya mendapatkan paksaan dan desakan dari pihak pemerintah untuk mengambil keputusan yang sangat sulit. Kala itu Lavabit dipaksa untuk membuka akses email milik Edward Snowden, dengan dalih untuk menggali lebih dalam serta memutus jaringan informasi yang dilakukan oleh buronan negara tersebut.

Baca juga: Inilah Kronologis Alasan Google Bayar “Upeti” 14 Triliun Pada Apple

Karena bersikeras tidak mau bekerja sama, akhirnya pemerintah memutuskan untuk memberikan denda pada perusahaan Lavabit sebesar US$10.000 per hari. Angka tersebut tentunya sangat sulit untuk dipenuhi oleh pihak Lavabit, yang akhirnya dengan terpaksa harus mengakhiri layanannya.

Jika ditilik lebih lanjut, memang seakan perusahaan yang tidak sengaja terlibat dengan sebuah kasus besar, sebenarnya berada di posisi layaknya korban. Tanpa bisa memilah siapa yang akan menggunakan jasa layanannya, perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya harus kecipratan masalah yang dampaknya bisa sangat besar bagi keberlangsungan bisnisnya. Dan khusus untuk kisruh Apple dan FBI, semoga nasib serupa yakni penutupan paksa, tidak dialami oleh perusahaan perangkat telekomunikasi besar tersebut.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud