Qajoo, Startup Aplikasi Dongeng Dan Game Tradisional Asal Yogyakarta

Qajoo-Startup-Aplikasi-Dongeng-Dan-Game

Semakin modernnya sebuah kehidupan saat ini membuat hal-hal lama dari masa lalu semakin menghilang tergerus oleh zaman. Padahal ada banyak hal positif yang bisa didapat dari hal-hal dari masa lalu tersebut. Salah satu dari masa lalu yang kini mulai tergerus modernisasi zaman adalah dongeng dan mainan tradisional. Dongeng yang merupakan seni bercerita dalam bentuk tradisi sastra lisan ini dahulu banyak dilakukan orangtua pada anaknya sesaat sebelum tidur.

Meski hanya sebuah kisah fiktif, namun dalam kisah donggeng tersebut anak-anak dapat memetik pelajaran yang baik untuk kehidupannya. Permainan tradisional sendiri menurut beberapa pakar memiliki segudang manfaat seperti budaya kerjasama, sportifitas dan perkembangan fisik anak.

Yogyakarta yang kita ketahui bersama adalah kota dengan aksentuasi budaya yang sangat kental ini tentu sangat konsen pada perkembangan dongeng dan permainan tradisional. Seiring globalisasi dan modernisasi yang juga melanda Yogyakarta inilah kemudian anak-anak setempat di jogja mengembangkan sebuah proyek untuk melestatarikan dua warisan masa lalu tersebut.

Dibawah payung Qajoo Studio, mereka kemudian berkreasi dan bekerja keras untuk membuat #game tradisional dan dongeng lestari. Setelah sukses dengan game, kini Qajoo sedang mengerjakan proyek Cerri, sebuah proyek yang berakronim Cerita Rakyat Indonesia. Kini proyek yang berjalan sejak tahun 2013 ini telah berhasil mengeluarkan beberapa produknya kepada rakyat yang bisa diunduh melalui play store dan Apple store.



Lalu seperti apakah proyek Cerri dan aplikasi dongeng dan permainan tradisional kreasi anak bangsa ini? Berikut ulasannya.

Artikel lain: Game Tegar, Kreasi Agate Jogja yang Kreatif, Lucu Nan Konyol

Asal Nama Qajoo

Nama Qajoo sendiri dibaca dengan ‘kayu’. Menurut Anggoro Dewanto sekalu co-founder Qajoo, nama Qajoo atau kayu tersebut terinspirasi dari kayu yang sangat bermanfaat bagi manusia setelah kayu tersebut diolah dan didesain sedemikian rupa. Maka berangkat dari inspirasi inilah, semua tim Qajoo menerapkannya dalam pembuatan karya-karyanya. Dan untuk mempertegas simbolisasi dari dunia kayu ini, semua tim yang bekerja dalam Qajoo disebut pengrajin.

Sebelum bernama Qajoo, developer ini menggunakan nama Imaginarium Game dan sudah berdiri sejak tahun 2010. Dengan didukung oleh investor PT Varnion Technology Semesta pada tahun 2012, Imaginarium Game kemudian bermetamorfosa menjadi Qajoo. Saat itu mereka langsung menggarap game kreasi mereka yang langsung laris dan populer di pasaran yaitu Run Princess Run.

Karya Dari Qajoo

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa proyek Cerri dalam manajemen Qajoo ini telah berhasil menelurkan produknya seperti aplikasi dongeng dan game tradisional. Aplikasi dongeng yang telah dihasilkan Qajoo sendiri ada empat cerita yakni Bawang Merah dan Bawang Putih, Lutung Kasarung dan Purbasari, Kancil dan Buaya, serta Tupai dan Ikan Gabus.

Selain aplikasi dongeng, Qajoo juga telah menghasilkan #aplikasi permainan tradisional seperti Capture The Box, Cak Durae, Fahombo Nias Jump Stone, dan Run Princess Run. Bahkan untuk game Run Princess Run yang begitu populer saat itu, beberapa oknum tak bertanggungjawab pernah melakukan pembajakan pada game tersebut. Jika Anda tertarik dengan aplikasi-aplikasi karya Qajoo Studio ini Anda bisa langsung mengunduhnya di Play Store dan Aplle Store.

Monetisasi Dan Rencana Kedepan

Seperti kebanyakan aplikasi dan game gratis atau tidak berbayar, Qajoo melakukan monetisasi dengan menambahkan in-app purchase atau pilihan berbayar atau dengan iklan yang terdapat pada aplikasinya. Dengan hal ini Qajoo bisa tetap beroperasi dan bertahan.

Pihak Qajoo melalui co-founder-nya Anggoro Dewanto menilai bahwa bila aplikasi didukung dengan grafis yang baik, maka hal ini akan mudah menarik pengguna untuk tidak akan segan memilih aplikasi berbayar. Saat ini Qajoo sendiri sedang berfokus untuk mengerjakan proyek Cerri. Untuk rencana kedepan, Qajoo akan berusaha menambah kategori dongeng dan juga  menambah para ‘pengrajin’ bagi timnya.

Baca juga: Luminov, Startup Game Indonesia yg Peduli Pendidikan Anak

Kompetitor Qajoo

Qajoo memang bukanlah satu-satunya pemain dalam pengembangan aplikasi dongeng dan game tradisonal ini. Tercatat sudah ada beberapa pengembang yang juga bermain di wilayah ini. Sebut saja Educa Studio dan Sabda Drupadi yang mengembangkan konten cerita anak serta Mechanimotion sebagai pengemban game lokal.

Meski bukan pemain tunggal, Qajoo masih optimis dengan konsep budaya Indonesia yang dibawanya. Mereka merasa sangat yakin dengan strategi temanya yang sering diabaikan pengembang lain dan produk yang membawa pesan positif di dalamnya.






Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud