Pipiltin Cocoa ~ Bisnis Kuliner Cokelat Dengan Kualitas Asli Alam Indonesia

Pipiltin Cocoa

Cokelat menurut saya sepertinya telah menjadi tren sajian kuliner di Indonesia dewasa ini. Beragam kreasi cokelat yang dipasarkan oleh anak negeri telah sukses membuat konsumen jatuh hati. Bukan hanya pembeli dalam negeri, kesuksesan cokelat tersebut bahkan mampu mencapai pasar luar negeri.

Sebut saja beberapa produk olahan cokelat seperti Chocodot, Suoklat, cokelat Kocok dan cokelat nDalem yang pernah dibahas sebelumnya. Semua produk ini adalah contoh nyata bahwa cokelat memiliki prospek dan peluang besar untuk dikembangkan sebagai bisnis.

Satu lagi produk olahan cokelat dalam negeri yang juga perlu diperhitungkan yaitu Pipiltin Cocoa. Cokelat kreasi dari Tissa Aunila ini kini telah mampu dipasarkan ke hotel bintang lima dan luxury hotel di Jakarta dan beberapa kafe serta ke luar negeri seperti Prancis, Hong Kong, dan Singapura. Seperti apakah kisah perjalanan Tissas Aunila merintis dan mengembangkan Pipiltin Cocoa? Berikut ulasannya.

Berawal Dari Sebuah Keprihatinan Terhadap Cokelat Lokal

Pipiltin Cocoa sendiri lahir dari sebuah keprihatinan dari sang pemilik Tissa Aulina. Saat itu Tissa yang sedang menjalani studi master hukumnya di Swiss menyaksikan cokelat dari Indonesia yang dipajang di butik cokelat di Zurich, Swiss. Perasaannya pun campur aduk antara bangga, geram dan prihatin saat Tissa mengetahui bahwa cokelat di Indonesia sangat digemari di Eropa namun disisi lain di negerinya sendiri Indonesia, cokelat seolah tak berdaya dan tak bernama.



Keprihatinan Tissa semakin menjadi-jadi saat dirinya mengetahui bahwa Indonesia ternyata menjadi negara produsen cokelat terbesar nomor tiga di dunia. Dari sinilah, kemudian muncul keinginan Tissa untuk membuat produk cokelat khas Indonesia yang mampu mendunia.

Artikel lain: Cokelat nDalem ~ Bisnis Cokelat Khas Yogyakarta Berkonsep Kearifan Lokal

Selain dari rasa keprihatinan, lahirnya Pipiltin Cocoa juga muncul dari kecintaannya pada buah kakao dan cokelat. Meski tak memiliki latar belakang sebagai pengrajin cokelat, perempuan yang awalnya berprofesi sebagai pengacara di Hamzah & Partners ini memiliki pengetahuan yang luas seputar cokelat. Saat di Swiss, Tissa telah mampu membedakan jenis-jenis cokelat. Ia juga tahu tentang cara dan teknik pembuatan cokelat.

Mendirikan Pipiltin Cocoa Untuk Majukan Cokelat Indonesia

Setelah semua persiapan dirasa cukup, pada bulan Maret 2013, Tissa bersama adiknya, Irvan Helmi, kemudian mendirikan Pipiltin Cocoa. Seperti dijelaskan sebelumnya, Pipiltin Cocoa sangat berambisi untuk menjadikan cokelat dalam negeri memiliki nilai tambah. Untuk itu saat Pipiltin Cocoa berdiri, Tissa membeli bahan baku biji coklat langsung dari petani di daerah Tabanan Bali, Pidie Jaya Aceh, Glenmore Banyuwangi, dan Tanazozo di Flores. Dari sini, Tissa berharap petani lokal Indonesia bisa semakin berdaya.

Selain bahan baku cokelat, kacang yang digunakan untuk campuran cokelatnya juga diambil Tissa dari Indonesia. Untuk kacang mete Pipiltin mengambilnya dari petani di Flores dan untuk macadamia dari Jember. Hampir semua bahan baku Pipiltin Cocoa berasl dari dalam negeri, kecuali almond yang harus diimpor, karena Indonesia memang tidak memproduksi kacang ini.

Lakukan Kurasi Biji Cokelat

Untuk menjadikan produk olahan cokelatnya tetap terjaga kualitas terbaiknya, dalam proses produksi Tissa selalu melakukan kurasi biji cokelat. Kurasi itu bahkan berlangsung hingga tiga kali, yakni saat bijinya masih basah di petani, kemudian setelah dikeringkan, dan ketika sampai di Pipiltin.

Pipiltin Cocoa yang mempunyai pusat produksi di Jalan Barito, Jakarta terus mengalami perkembangan. Selain telah memiliki gerai penjualan yang dinamakan Chocolate Boutique Pipiltin Cocoa di Jakarta, pemasaran Pipiltin juga telah merambah beberapa kafe dan hotel bintang lima dan luxury hotel di Jakarta.

Baca juga: Bisnis Suoklat, Kafe dengan Menu Serba Cokelat di Surabaya

Sasaran dan target pasar Pipiltin Cocoa yang mengarah konsumen menengah atas memang sedikit banyak membantu pemasarannya masuk ke hotel dan kafe ternama. Selain pelanggan dalam negeri, Pipiltin Cocoa juga dipasarkan secara online ke luar negeri. Hasilnya pesanan pun juga datang dari pembeli di Prancis, Hong Kong, dan Singapura.

Dari sini, Tissa mampu memasok hingga puluhan kilogram cokelat dalam satu bulan untuk diolah. Pembelian bahan baku untuk Pipiltin Cocoa sendiri bisa mencapai 500 kilogram (kg) biji cokelat dalam sekali beli. Setelah diolah beratnya bisa menyusut 60% atau sekitar 250 kg cokelat olahan. Bila musim Valentine tiba, stok cokelat sebanyak itu langsung ludes terjual di bulan itu juga.






1 comment on this postSubmit yours
  1. Bisnis yang bagus, cocok untuk penggemar coklat, apalagi menjelang lebaran banyak yang mencari dan berburu kuliner seperti ini…

    Makasih atas informasinya

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud