4 Penyebab Terpuruknya Pusat Perbelanjaan di Indonesia

Penyebab Terpuruknya Pusat Perbelanjaan

Kita telah melihat beberapa perusahaan ternama di Indonesia seperti 7-Eleven, Nyonya Meneer, dan yang terakhir adalah Matahari yang mengalami keterpurukan sehingga harus menutup gerai mereka. Untuk kasus Matahari, disebutkan mereka menutup 2 toko mereka di pusat perbelanjaan, tapi belum tahu bagaimana perkembangannya di masa mendatang.

Melihat hal ini tentunya kita bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi sehingga para pemain besar itu justru mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Tapi tidak hanya pemain besar, ada banyak toko di pusat-pusat perbelanjaan juga mengalami penurunan omset, bahkan ada yang sampai gulung tikar.

Dilansir dari Detik Finance, Menurut Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, fenomena tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah:

1. Turunnya Daya Beli Masyarakat

Menurut Sarman Simanjorang, daya beli masyarakat Indonesia mengalami penurunan. Sarman menyebutkan bahwa terjadi penurunan daya beli yang cukup signifikan di masyarakat, hal ini dikarenakan tidak stabilnya perekonomian Indonesia saat ini, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sekitar 5%.

“Dengan demikian pendapatan masyarakat juga tidak memiliki kenaikan sehingga masyarakat semakin selektif dan menghemat membelanjakan uangnya,” kata Sarman.

Namun, hal ini tidak senada dengan pendapat Frans Pekasa, seorang pelaku usaha Indonesia. Frans mengatakan bahwa fenomona yang terjadi saat ini adalah dikarenakan adanya polarisasi gaya hidup masyarakat Indonesia.

2. Persaingan Antar Pusat Perbelanjaan yang Semakin Ketat

Persaingan ketat antar pusat perbelanjaan di berbagai kota ternyata menimbulkan efek yang cukup besar bagi para pelaku usaha di dalamnya. Selain itu, perkembangan properti di wilayah baru juga memberikan dampak yang cukup besar pada pusat perbelanjaan di sekitarnya.

“Tumbuhnya pasar properti dengan pembangunan berbagai kawasan perumahan, kawasan perkantoran dan apartemen selalu dibarengi dengan adanya pusat perbelanjaan, mini market dan toko-toko, sehingga para penghuninya dalam memenuhi kebutuhannya tidak perlu keluar lagi berbelanja,” ujar Sarman.

Hal ini sangat masuk akal mengingat pertumbuhan pemukiman di berbagai kota juga diikuti dengan munculnya berbagai pusat perbelanjaan baru di sekitar pemukiman tersebut. Tentu saja pusat perbelanjaan yang lebih jauh dari pemukiman tersebut akan kehilangan cukup besar konsumen mereka karena sudah berpindah ke pusat perbelanjaan yang baru.

3. Produk Asing yang ‘Menginvasi’ Indonesia

Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang konsumtif dan mudah menerima berbagai produk yang masuk ke Indonesia. Produk dari luar negeri – apapun itu – cepat sekali diadaptasi dan diterima oleh masyarakat kita.

Banyaknya produk asing yang masuk ke Indonesia, baik legal maupun ilegal, dan dengan harga yang lebih murah ternyata memberikan dampak buruk bagi para pengusaha di Indonesia juga. Banyak sekali produk asing tersebut dibanderol dengan harga yang lebih murah, sehingga konsumen lebih memilih untuk membeli produk tersebut.




Walaupun beredarnya produk asing membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha baru di Indonesia, tapi faktanya hal tersebut membuat pengusaha lainnya mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan.

4. Gencarnya Bisnis E-Commerce di Indonesia

Bisnis e-commerce ini tentu bukanlah sesuatu yang bisa dibendung, karena pasti akan terjadi dan pasti menjadi tren jangka panjang di Indonesia. Menurut data yang ditemukan oleh Sarman saat ini ada sekitar 29% atau 26,3 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menjadi konsumen di market online.

Namun menurut Sarman, kebiasaan belanja online sebagian masyarakat Indonesia belum bisa dianggap sebagai penyebab atas fenomena yang terjadi sekarang ini, tapi tetap harus diantisipiasi karena kedepannya bisa sangat berpengaruh.

“Kepada para pedagang yang memiliki toko di pusat-pusat perbelanjaan agar lebih kreatif dan inovatif melihat perkembangan teknologi dan psikologi pasar dan konsumen yang harus dapat menyesuaikan atau beradaptasi sehingga mampu bertahan,” kata Sarman.

PENUTUP

Bagi para pengusaha, baik online maupun offline, tentu saja fenomena ini harus disikapi dengan bijak dan diantisipasi sesegera mungkin. Perubahan tren di Indonesia memang terjadi begitu cepat, yang dulunya sukses sebagai pionir ternyata bisa juga mengalami kemerosotan atau gulung tikar.

Hanya mereka yang mau berubah dan selalu melakukan berbagai inovasi lah yang bisa bertahan menghadapi perubahan dan perkembangan tren yang ada di Indonesia dan dunia.



2 total comments on this postSubmit yours
  1. Ada benarnya juga, saya melihat fenomena ini bukan hanya karna tren jualan online. Banyak yang terjadi di masyarakat Indonesia.

    Saya juga melihat semakin banyak orang Indonesia yg melek finansial sehingga mengurangi jatah belanja dan lebih memilih berinvestasi.

  2. Ya bisa dikatakan seperti itu mas, apalagi barang-barang produk luar negeri makin menginvasi ke Indonesia alhasil produk buatan Indonesia menurun. Pusat perbelenjaan mungkin sunyi karena faktor daya beli yang dilakukan secara online tanpa harus keluar rumah atau kantor. Apalagi ada toko online yang menyediakan ongkir gratis apa gak makin seru belanjanya hehe.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud