Pegang Uang Tunai Ternyata Bisa Bikin Kita Boros Lho, Ini Penjelasannya

pegang-uang-tunai-ternyata-bisa-bikin-kita-boros

Salah satu metode pembayaran yang sering kita jumpai dan kita gunakan dalam transaksi jual beli sehari-hari adalah dengan uang tunai. Namun seiring perkembangan zaman, penggunaan uang tunai baik itu berupa uang kertas maupun koin semakin berkurang. Mengapa demikian? Sebab saat ini semakin banyak dijumpai metode pembayaran eletronik atau digital seperti kartu debit, kartu kredit, e-toll, dan lain sebagainya.

Penggunaan pembayaran elektronik atau uang digital yang semakin jamak memang merupakan hal yang sudah diprediksi sejak lama. Pasalnya, dengan semakin canggihnya teknologi dan juga penggunaan uang tunai yang kurang praktis membuat fenomena pembayaran digital ini muncul dan kemudian banyak dipergunakan.

Selain kurang praktis, ternyata penggunaan uang tunai bisa membuat kita lebih boros lho. Tapi benarkah demikian? Dilansir dari situs HaloMoney, berikut ini adalah penjelasan mengapa uang tunai bisa membuat kita lebih boros.

1. Mudah Tergoda Beli Jajanan

Hal pertama yang membuat uang tunai disebutkan sebagai alat pembayaran yang boros adalah karena uang tunai bisa membuat kita mudah tergoda untuk membeli jajanan. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, jajanan memang akan sangat mudah kita beli dengan menggunakan uang tunai. Jika Anda sangat suka jajan, maka hal ini jelas akan membuat uang tunai di dompet cepat habis.



Para pecinta kuliner seringkali tak bisa menahan keinginan untuk jajan. Apalagi saat sedang jalan-jalan di tempat yang dipenuhi menu kuliner, maka sudah pasti uang tunai yang dibawa akan cepat habis. Karena itu, bagi Anda yang suka jajan usahakan untuk membawa uang secukupnya saja atau kalau bisa tidak usah membawa uang tunai ketika bepergian keluar. Ini untuk membantu mengurangi kebiasaan jajan yang membuat boros.

Artikel lain: Daftar Kode Bank Indonesia untuk Transfer Antar Bank

2. Kembalian Belanja Tidak Sesuai

Berikutnya, uang tunai membuat kita lebih boros saat menerima kembalian uang belanja yang tidak sesuai. Jika Anda melakukan pembelian di sebuah minimarket maka Anda akan sering mendapati harga barang yang dijual dengan nominal yang tidak bulat, seperti Rp 25.548 atau Rp 55.899. Ini sering terjadi, apalagi bila kita membeli barang diskon.

Nah, dari nominal yang tidak ‘bulat’ ini tentu saja akan sangat sulit bagi kita mendapatkan kembalian persis seperti yang seharusnya kita terima. Tidak sedikit swalayan atau minimarket yang melakukan pembulatan harga ke atas dari harga nominal. Atau jika pun ada kembalian, ada saja toko yang memberikan kembalian dengan permen. Sama saja seperti dipaksa untuk beli permen, bener ga?

Hal ini tidak akan terjadi bila kita menggunakan pembayaran elektronik seperti kartu debit atau kartu credit. Mengapa? Sebab ketika kita menggunakan alat pembayaran elektronik maka saldo debit di rekening kita akan dipotong persis sebesar nominal harga barang yang kita beli.

3. Uang Rusak/ Hilang dan Tak Bernilai

Uang kertas rusak memang bisa saja terjadi, dan Anda pasti kesal bila menerima uang kertas yang rusak, baik itu kondisi uang luntur atau robek. Bila kondisi uang sudah rusak/ cacat parah, maka tidak akan ada nilainya lagi sehingga tidak bisa digunakan untuk transaksi.

Selain uang tunai mudah rusak, potensi uang tunai hilang dari dompet atau kantung pakaian juga sering terjadi. Walaupun nominal uang tunai yang hilang tersebut tidak besar, tapi ini bisa saja terjadi berkali-kali dan hal tersebut membuat seseorang menjadi lebih boros. Berbeda dengan uang elektronik yang tidak bisa rusak dan hilang karena bentuknya tidak berupa fisik tapi digital.

Baca juga: Kenali Dengan Cermat Lima Manfaat Penting Kartu Kredit, BACA!

5. Resiko Menerima Uang Palsu

Terakhir, uang tunai bisa membuat kita lebih boros karena faktor keberadaan uang palsu. Ya, uang tunai memang bisa dipalsukan oleh oknum, dan kasus pemalsuan uang sudah sering kita dengar di Indonesia. Sebenarnya kita bisa memeriksa keaslian uang dengan cara 3D (dilihat, diraba, diterawang), tapi bila jumlah uang tunai yang kita bawa jumlahnya banyak tentu sangat merepotkan bukan.

Nah, ketika Anda menerima uang palsu dan tidak menyadarinya, maka saat itu Anda sudah mengalami kerugian. Bukan hanya kerugian uang, tapi juga bisa menyebabkan Anda bermasalah dengan pihak berwajib bila tertangkap tangan menggunakan uang palsu tersebut untuk bertransaksi. Hal ini tidak akan terjadi bila Anda menggunakan alat pembayaran digital.

Kesimpulan:

Artikel ini tidak ingin mengatakan bahwa alat pembayaran digital membuat kita lebih hemat, karena yang mengatur pengeluaran seseorang adalah dirinya sendiri. Metode pembayaran apapun itu, baik pembayaran digital maupun uang tunai, tetap akan boros bila kita tidak bisa mengendalikan diri dalam pemakaian uang. Anda lah yang paling mengetahui kondisi #keuangan Anda sendiri dan yang bisa mengaturnya.





1 comment on this postSubmit yours
  1. apa yang sobat urai ada benarnya, tapi saya pikir itu banyak berlaku di kota besar. bagaimana seandainya orang itu hidup di pedesaan yang jaud dari sentuhan teknologi serta memiliki gaya hidup sederhana

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud