Mengulik Kemunduran Industri Smartphone Tiongkok, Akankah Era Ponsel “Kelas Dua” Punah?

smartphone tiongkok

Image dari Dingkeji.com

Dalam beberapa tahun belakangan salah satu produk teknologi yang setelah mengalami peningkatan luar biasa baik dalam hal produksi maupun penjualan, adalah perangkat smartphone. Ponsel pintar ini menjadi barang yang pada awalnya memang dirasa eksklusif. Namun seiring perkembangan, semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk menekuni industri ini.

Dampaknya, produk smartphone semakin variatif tidak hanya dalam hal fitur yang ditanamkan namun juga harga. Inilah yang kemudian membuat banyak orang bisa dengan mudah mempunyai perangkat ponsel pintar-nya sendiri.

Dan salah satu negara yang paling getol mengikuti perkembangan industri #smartphone ini adalah Tiongkok. Pada sekitaran tahun 2014, pasar smartphone Tiongkok berhasil meraup untung yang luar biasa besar berkat keahlian menciptakan produk smartphone yang mirip dengan brand besar namun mempunyai harga yang jauh lebih ringan.  Tapi, bagaimanakah kondisi industri smartphone Tiongkok saat ini? Jawabnya sudah mulai banyak produsen smartphone Tiongkok yang berguguran akibat berbagai alasan.

Berkaca Pada Bangkrutnya Produsen Ponsel Pintar “Kembaran” iPhone

Belum lama berselang muncul kabar bahwa ada salah satu produsen ponsel Tiongkok yang lagi lagi harus memutuskan gulung tikar karena tidak mampu bertahan. Produsen tersebut adalah Dakele, yang selama ini dikenal sebagai produsen penghasil smartphone “kembaran” iPhone. Bagaimana tidak produk Dakele memang mempunyai kemiripan yang besar dengan produk iPhone.

Tidak hanya dalam hal tampilan, fitur yang diusung dalam seri ponsel Dakele 3 nyatanya sangat serupa dengan yang dimiliki perangkat iPhone 6. Yang membuat pabrikan ini semakin dilirik adalah, meskipun dilabeli dengan istilah “produk KW”, Dakele tetap memperhatikan spesifikasi smartphone yang ia kembangkan. Dengan jeroan yang cukup canggih tersebut, harga yang ditawarkan jauh lebih ringan ketimbang iPhone 6 yang asli, yakni sekitar US$240 di pasaran Tiongkok.

Artikel lain: Inilah 5 Smartphone Android Asal Tiongkok yang Bisa Jadi Pilihan Anda di Awal Tahun 2016

Sehubungan dengan roda perputaran industri smartphone Tiongkok, kebangkrutan Dakele bisa menjadi lampu pertanda bahwa perlambatan pada sektor industri tersebut bisa terjadi dalam waktu dekat. Tanpa mengesampingkan ide pembuatan Dakele yang meniru produk brand besar, tetap saja perusahaan tersebut tidak mampu mempertahankan kinerja bisnisnya meski mempunyai kelebihan pada sisi harga.

Disampaikan oleh pemilik perusahaan Dakele, Ding Xiuhong penyebab utama diambilnya keputusan pahit tersebut adalah banyak investor yang tidak lagi berminat untuk menanamkan dananya. Ditambah lagi dengan industri smartphone Tiongkok yang memang sudah semakin jenuh, akhirnya pihak pengembang merasa tidak mampu untuk menyelamatkan bisnisnya.

Pertarungan Vendor Besar Berdampak Global

Jika ditanya beberapa merk smartphone asal Tiongkok yang sudah dikenal khalayak luas saat ini, mungkin beberapa brand yang akan disebut antara lain Xiaomi, Oppo, Vivo serta Huawei. Beberapa vendor tersebut memang telah menguasai pasar Tiongkok sejak awal tren kemunculan produk ponsel pintar. Terlebih untuk nama pertama yang disebut yakni Xiaomi, hingga saat ini pabrikan yang telah menelurkan berbagai macam produk #teknologi tersebut, merupakan salah satu yang bisa bersaing tidak hanya di kancah lokal namun hingga international.

Disampaikan oleh Wakil Presiden ZTE Mai Donghia, ada beberapa hal yang menjadi penyebab melambatnya sektor industri smartphone di Tiongkok. Pada tahun 2014, ia menyebut Tiongkok menjadi pasar subur tumbuhnya vendor smartphone dengan jumlah tak kurang dari 500 brand. Namun apa yang terjadi di awal tahun 2016? Jumlahnya menyusut menjadi hanya 100an perusahaan.




Menilik ke belakang, Mai berujar bahwa awalnya produsen asal Tiongkok berani melirik pasar smartphone dikarenakan masih renggangnya industri tersebut di kawasan Asia. Dengan hanya beberapa brand besar yang bermain seperti, Samsung, #Apple serta BlackBerry kala itu, para produsen asal Tiongkok melihat hal ini sebagai peluang untuk mengisi kebutuhan konsumen akan smartphone berharga ringan. Dengan fasilitas infrastruktur yang bisa dibilang cukup memadai, bukan hal yang sulit bagi penggerak bisnis negara Tiongkok untuk mulai bermain dalam industri tersebut. Dampaknya, ledakan jumlah vendor pun mulai terjadi.

Baca juga: Inilah Beberapa Produk Xiaomi Selain Smartphone dan Tablet

Masih menurut Mai, namun saat ini ketika kondisi finansial masyarakat dunia yang sudah mulai toleran terhadap harga yang ditawarkan brand besar, maka konsumen cenderung lebih nyaman untuk memilih brain yang sudah mapan tersebut.  Ditambah lagi dengan semakin luasnya pemasaran lewat media digital, membuat konsumen dunia lebih melek terhadap berbagai informasi seputar produk smartphone. Dengan menimang berbagai spesifikasi dan layanan yang ditawarkan, tantu mayoritas konsumen bakal lebih melirik vendor besar yang sudah mempunyai nama dan pelayanan fasilitas yang lengkap.

Akankah ini menjadi pertanda mundurnya pengembangan smartphone Tiongkok? Nampaknya masih terlalu prematur untuk memastikan. Kita masih bisa melihat bagaimana Xiaomi mulai menunjukkan taji-nya dan mampu bersaing dengan banyak pabrikan besar dunia. So, we’ll see what happen next.



3 total comments on this postSubmit yours
  1. 100 brand tingkok itu juga masih kelewat banyak, korea saja cuma punya dua samsung dan lg, income perkapita china terus melonjak akibatnya rakyat di sana sudah ga tertarik beli smartphone murah, smartphone flagship xiaomi oppo zte huawei sekarang merajai pasar dalam negri mereka. untuk pasar eropa huawei itu terkenal disana dengan range harga berkisar 6-7 jutaan rupiah. sayang untuk samsung dan iphone penjualan mereka di pasar china tiap tahun terus merosot, sepertinya akan bernasib seperti nokia erricson, sony, sharp dan black berry

  2. pangsa pasar smartphone Tiongkok sudah semakin jenuh. Selama ini orang beranggapan Tiongkok sebagai pasar berkembang. Tapi kenyataannya adalah Kondisinya sama mature-nya dengan pasar di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Jepang,

    Indonesia memiliki pangsa pasar lebih subur dibandingkan dengan Tiongkok untuk smartphone kelas low end..

  3. tampaknya brand-brand kelas dua perlahan memang akan lenyap. selain brand-brand gede yg mulai berani memainkan harga, gengsi konsumen juga menjadi salah satu penyebab kemunduran si kelas dua. fenomena wajarlah, gerus-menggerus di bidang perekonomian dan industri. nokia saja keok, apalagi si kelas dua.
    salam kenal.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud