Menangkap Sinyal Positif Menkominfo Pada Teknologi OpenBTS

Menangkap Sinyal Positif Menkominfo Pada Teknologi OpenBTS

Teknologi OpenBTS
Image dari Ciptamedia.org

Beberapa hari yang lalu, Menkominfo Rudiantara ngobrol bareng dengan pegiat OpenBTS tanah air dan juga sejumlah dosen. Dalam obrolan yang terjalin santai tersebut terlihat Menkominfo berbincang santai dengan para pegiat internet tanah air, para dosen TI, termasuk salah satunya Pakar Teknologi Informasi Komunikasi Ono W Purbo. Dalam perbincangan yang nampak begitu akrab tersebut, ternyata Menkominfo membahas mengenai OpenBTS selain beberapa hal lain terkait dengan perkembangan #teknologi di Indonesia.

Terkait dengan OpenBTS, kabar gembira yang bisa disampaikan adalah para pegiat OpenBTS boleh bergembira karena akan mendapat fasilitas dari Menkominfo Rudiantara untuk memanfaatkan dan mengembangkan penelitian OpenBTS. Dalam kunjungannya ke basecamp ICT Watch di kawasan Tebet Dalam, Jakarta Selatan tersebut, Menkominfo berjanji akan memfasilitasi teknologi OpenBTS agar bisa dimanfaatkan untuk pemancar sinyal telekomunikasi seluler di Indonesia.

Tiga Hal yang Ditekankan Rudiantara Pada Komunitas OpenBTS

Dalam pertemuan tersebut, Menkominfo juga menekankan tiga hal kepada para komunitas OpenBTS Indonesia. Pertama, teknologi OpenBTS akan mendapatkan saluran frekuensi dengan memanfaatkan 900 MHz. Ini dimaksudkan agar teknologi OpenBTS bisa beroperasi secara legal tanpa harus mencuri frekuensi. Ia juga berjanji tidak akan mengenakan pajak frekuensi terhadap komunitas yang memanfaatkan teknologi OpenBTS.

Selanjutnya, teknologi OpenBTS tidak boleh dikomersilkan. Yang perlu diperhatikan bagi para pegiat teknologi OpenBTS adalah, pegiat OpenBTS boleh menawarkan layanan telekomunikasi seluler tetapi dilarang untuk memungut biaya. Ketentuan berikutnya adalah, tidak ada nya jaminan pada layanan OpenBTS  karena tidak ada komersialisasi dari pihak yang menawarkan.

Artikel lain: OpenBTS vs Project Loon ~ Tujuan Sama, Sayang Beda Nasibnya

Teknologi ini bisa jadi akan ditawarkan oleh pegiat, warga setempat, atau bisa juga oleh komunitas. Jadi, para pengguna tidak bisa komplain jika misalnya layanannya buruk, karena memang tidak dipungut bayaran. “Pengguna tidak bisa komplain kalau layanan jelek karena memang tidak dipungut bayaran, gratis,” kata Rudiantara.

Pegiat OpenBTS Menyambut Baik Janji Rudiantara

Dengan adanya statement dari Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara terkait teknologi OpenBTS, para pegiat teknologi OpenBTS menyambut dengan antusias. Mereka, para pegiat teknologi OpenBTS berjanji akan membuat jaringan telekomunikasi seluler yang tertutup. Artinya jalur komunikasi ini hanya tersedia bagi warga masyarakat yang terjangkau oleh sinyal OpenBTS saja. Sehingga, layanan komunikasi telepon dan SMS OpenBTS ini tidak bisa keluar area jangkauan sinyal, tidak seperti layanan yang ditawarkan operator seluler komersial.

Ono W Purbo, salah satu ahli Teknologi Informasi Komunikasi juga memberikan saran kepada Menkominfo Rudiantara agar memberi penomoran atau numbering untuk pelanggan OpenBTS. Namun, nampaknya penomoran ini sulit direalisasikan Rudiantara, karena penomoran ini terkait dengan standar internasional. Para pegiat teknologi OpenBTS sendiri berharap bahwa fasilitas yang diberikan oleh Menkominfo Rudiantara ini nantinya bisa memperkuat penelitian mereka dalam rangka mengembangkan teknologi OpenBTS.

“Kita coba satu tahun atau enam bulan dulu, sambil jalan nanti,” tutur Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Baca juga: Dilema OpenBTS, Inilah Tanggapan Pihak Terkait

Tentang Teknologi OpenBTS

Teknologi OpenBTS sendiri adalah base transceiver station (BTS) GSM berbasis pada software yang dihubungkan dengan peranti keras #komputer dengan antena penerima dan pemancar. Dengan teknologi seperti ini, para pengguna ponsel dan kartu SIM GSM yang terhubung dengan OpenBTS dimungkinkan untuk saling berhubungan melalui panggilan telepon maupun dengan berkirim SMS. Sehingga tentu saja tidak memerlukan lagi jaringan operator seluler komersial.

Sejauh ini, kata Onno W Purbo, teknologi OpenBTS ini sudah dimanfaatkan oleh kelompok warga di sebuah desa yang ada di Papua. Teknologi ini sangat bermanfaat sebagai sarana bagi mereka untuk berkomunikasi dengan ponsel melalui komunitas OpenBTS. Onno kemudian mengatakan bahwa teknologi OpenBTS di desa yang ada di Papua ini dikelola oleh salah seorang warga yang berprofesi sebagi guru.

Semoga saja jika memang teknologi ini sangat berguna bagi masyarakat dan mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah, OpenBTS bisa menjadi pilihan yang tepat untuk berkomunikasi. Terpenting adalah ketergunaan teknologi itu sendiri, apakah benar-benar bisa mencukupi dan mempermudah kebutuhan masyarakat atau justru malah membuat jadi ribet.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan