Inilah 7 Perusahaan E-Commerce yang Telah Resmi Menutup Layanannya di Indonesia

ecommerce Indonesia tutup

Image dari Theodysseyonline.com

Bicara tentang bisnis e-commerce saat ini memang selalu membawa kita pada sebuah pencapaian yang luar biasa. Bagaimana tidak, tren belanja online yang kemudian didukung oleh munculnya beragam perusahaan e-commerce membuat usaha jual-beli berkonsep daring ini selalu menjadi topik pembicaraan. Meski booming dalam tiga tahun terakhir, bisnis e-commerce di Indonesia ternyata tak semuanya mencapai sukses.

Sama seperti bisnis lainnya, karena ada persaingan maka kemudian ada beberapa bisnis lemah yang terpuruk dan mengalami gulung tikar. Nah dalam bisnis berbasis elektronik (e-commerce) ini sekarang juga sudah mulai nampak fenomena terpuruk beberapa perusahaan. Dari kurangnya pendaaan, kalahnya persaingan produk hingga bisnis model yang tak jelas membuat beberapa perusahaan e-commerce ini harus gulung tikar.

Kabar terbaru yang mungkin sudah kita ketahui bersama bahwa perusahaan e-commerce Rakuten telah memutuskan untuk menutup usahanya di Indonesia. Namun ternyata Rakuten bukanlah satu-satunya nama perusahaan e-commerce yang gugur, sebab dalam beberapa tahun terakhir sudah ada beberapa bisnis e-commerce yang telah menutup layanan operasinya di Indonesia. Dan berikut adalah beberapa perusahaan e-commerce yang telah mengalami gulung tikar tersebut.



1. Lamido Indonesia

Perusahaan e-commerce pertama yang gulung tikar dan resmi telah menutup usahanya adalah Lamido. Perusahaan e-commerce yang diluncurkan sejak tahun 2013 yang lalu ini memang sudah  lama terlihat tak mampu bersaing dengan perusahaan e-commerce.  Maka pada tanggal 18 Maret 2015 karena semakin lesunya operasional #ecommerce Lamido Indonesia, Rocket Internet sebagai penggerak Lamido akhrinya menutup usahanya dan memindahkannya ke Lazada Indonesia.

Artikel lain: Tak Cukup Potensial, Ecommerce Lamido Dikabarkan Akan Segera Tutup

2. Valadoo

Situs layanan situs jual beli paket wisata dan hotel Valadoo juga tak luput dari ketatnya persaingan bisnis berbasis elektronik. Meski pernah mendapat investasi dari Wego namun karena tak mampu lagi menemukan arah yang belum jelas sejak awal serta tidak juga menemukan model bisnis yang tidak matang, maka Valadoo pun akhirnya harus memutuskan menghentikan operasinya pada akhir April 2015 yang lalu.

3. Sedapur

Situs marketplace Sedapur yang didirikan tahun 2011 dan bergerak pada layanan pemesanan makanan dan bahan makanan juga harus bernasib sama dengan Lamido dan Valadoo. Dalam menjalankan bisnisnya Sedapur juga menggandeng para pengusaha UKM sebagai rekanan merchant. Namun karena terlalu fokus menggandeng merchant dibanding pembeli inilah yang kemudian membuat Sedapur akhirnya harus gulung tikar dan menutup layanannya pada Agustus 2013.

4. Paraplou

Sempat mendapat pendanaan Seri A sebesar US$1,5 juta dari Majuven, namun toh hal ini ternyata tak membuat situs e-commerce fesyen Paraplou bisa sukses. Alih-alih sukses, perusahaan e-commerce yang didirikan tahun 2011 ini terpaksa harus menutup layanannya pada Oktober 2015 lalu. Beberapa faktor penyebab gulung tikarnya Paraplou yaitu persaingan pasar, finansial internal dan kesulitan mendapat sokongan dana.

5. Wearfable

Dengan menawarkan berbagai produk pakaian dan aksesoris untuk pria dan wanita dari para brand lokal, perusahaan e-commerce Wearfable juga mengalami hal yang sama dengan nasib keempat situs e-commerce sebelumnya. Namun berbeda dengan yang lain yang diketahui waktu penutupan layanannya, penutupan Wearfable ini tidak banyak yang mengetahui. Jika kita akses situsnya yaitu wearfable.com maka kita akan mendapatkan postingan terakhir yang terjadi  pada Januari 2014.

6. Scallope

Meski memiliki satu induk yaitu Suit Media yang telah sukses meluncurkan dan menjalankan Bukalapak dan HijUp, namun ternyata tak membuat Scallope juga bisa sukses. Situs e-commerce fesyen yang didirikan tahun 2013 dan menghadirkan beragam produk brand lokal ini ternyata gulung tikar dan membuat beberapa merchant-nya kini bergabung di HijUp.

Baca juga: Tak Mampu Bertahan, Rakuten Indonesia Pastikan Gulung Tikar 1 Maret Mendatang

7. Rakuten Indonesia

Terakhir, perusahaan e-commerce yang telah resmi menutup layanannya di Indonesia adalah Rakuten. Rakuten yang akan menutup layanan operasinya tepat pada 1 Maret 2016 nanti memang telah menjadi banyak pembicaraan saat ini. Perusahaan e-commerce yang awalnya didirikan oleh Hiroshi Mikitani tahun 1997 sebenarnya sempat berkembang.

Bahkan pada pertengahan tahun 2011, Rakuten Indonesia sempat menggandeng MNC Group sebagai mitra lokal. Namun sayangnya karena sebuah sebab yang masih dirahasiakan manajemen Rakuten Indonesia harus menutup layanannya nanti pada 1 Maret 2016.





1 comment on this postSubmit yours
  1. Inilah tantangan membuat bisnis online, kalau strateginya tidak baik, maka akan terancam gulung tikar

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud