Di Tengah Banyak Keterbatasan, Semangat Bisnis Pria Inspiratif Ini Tetap Berkobar

Image dari Tribunnews.com

Image dari Tribunnews.com

Hidup ini kadang terasa amat keras bagi beberapa orang yang kurang beruntung. Bahkan untuk sekedar mencari makan sehari-hari pun sulit karena keadaan yang memang sangat berat. Keadaan tidak sempurna anggota tubuh nya sering kali membuat nasib mereka semakin sulit untuk mencari nafkah. Ada yang cacat sejak dari lahir, ada juga cacat karena kecelakaan atau penyebab yang lain. Namun demikian, meski keadaan yang sangat sulit karena ketidaksempurnaan anggota tubuh, tapi bagi orang yang hidup dengan penuh optimisme dan tekad kuat, maka keadaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk terus berjuang.

Hal ini seperti apa yang dialami oleh Panut, seorang pria berusia 42 tahun berasal dari Dusun Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Bantul. Ia adalah seorang yang cacat yang bahkan untuk berdiripun sulit sekali. Namun keadaannya yang begitu tragis tidak membuatnya lantas patah arang dan menjadi peminta-minta. Ia tetap berjuang dengan penuh semangat mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya dengan berdagang. Lalu bagaimana cerita selengkapnya, simak ulasan lengkap di bawah ini.

Tidak Bisa Berjalan Karena Kecelakaan Ditabrak Motor

Panut menceritakan awal mula ia tidak bisa berjalan adalah karena kecelakaan yang menimpanya pada tahun 2007. Ketika itu ia ditabrak motor yang kemudian membuatnya tidak bisa berjalan selama satu tahun. Sebenarnya ia pernah mendapatkan tawaran dari Jepang untuk dioperasi, untuk memulihkan kondisi kakinya yang cidera. Jika Panut dioperasi, risiko yang akan didapatkan adalah kebisuan meski nantinya operasi berhasil dan membuat Panut bisa berjalan. Namun tingkat keberhasilan operasi tersebut hanya 50%, yang kemudian membuat Panut tidak menerima tawaran tersebut.

Setelah menolak tawaran operasi tersebut, Panut dan keluarga berusaha mencari pengobatan alternatif, dari pengobatan modern sampai pengobatan tradisional. Nampaknya nasib baik masih menaungi Panut, setahun setelah menjalani berbagai terapi dan latihan di rumah sendiri, Panut pun bisa berdiri dan berjalan meski sangat lambat.

Artikel lain: Monang Siagian ~ Meski Tubuh Tak Sempurna Namun Berhasil Menjadi Pengusaha dan Atlet Sukses

Saat itu ia belajar berjalan masih menggunakan alat pembantu. Kemudian pada awal 2010, ia masuk pada balai pelatihan disabilitas untuk diberikan beragam pelatihan ketrampilan. Sebenarnya pada saat itu Panut tidak memiliki minat untuk bergabung, namun karena desakan dari petugas akhirnya ia pun turut dalam pelatihan itu.

Mulai Berwirausaha Jualan Angkringan Dan Berjualan Es Krim

Setelah mengikuti berbagai pelatihan, Panut kemudian memutuskan untuk berjualalan angkringan pada tahun 2011. Awalnya Panut tidak bersedia membuka wirausaha dengan berjalan makanan dengan angkringan. Namun karena didesak oleh simbok-nya, akhirnya Panut pun bersedia membuka usaha angkringan bersama sang istri Nanik Dwi Rahayu.

Ada banyak profesi sebenarnya yang pernah digeluti oleh Panut, mulai dari berjualan balon sampai bekerja packing peyek sampai pada akhirnya sekarang Panut berjualan es krim keliling. Dalam menjalankan bisnis berjualan es krim ini, Panut berkeliling ke sekolah-sekolah menggunakan motor.

Ia menjelaskan bahwa dalam berjualan es krim ini ia hanya bermodalkan motor dan tenaga saja. Meski kini untuk berjalan tidak begitu kuat, namun Panut tetap berjualan es krim untuk menafkahi keluarganya. Dari hasil jualan es krim itu, Panut mengaku keuntungan bersih yang bisa ia dapatkan setiap hari mencapai 40-70 ribu. Paling berat yang ia rasakan saat bekerja adalah rasa pegal yang teramat di kaki yang pernah cidera waktu kecelakaan dulu. Selain berjualan es krim, Panut juga berjualan di angkringan yang sema makanannya dibuatkan oleh istrinya Nanik.

Baca juga: Angkie Yudistia, Wanita Tuna Rungu Inspiratif Pendobrak Keterbatasan




Perjuangan Bersama Sang Pasangan

Dari hasilnya berjualanan makanan di angkringan Panut mengaku bisa membeli motor. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Panut dibantu oleh istri nya yang setia Nanik. Nanik sendiri adalah seorang disabilitas juga yang merupakan teman Panut sewaktu mengikuti pelatihan di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas dulu. Biasanya, angkringannya mulai buka pada pukul 16.30 sampai jam 22.00. Panut dan Nanik yang menunggu sendiri angkringannya, namun ketika sudah larut malam, istrinya pulang terlebih dahulu untuk menemani anaknya tidur di rumah.

Kegigihan Panut dan istrinya ini patut kita jadikan sebagai motivasi kita. Apalagi bagi kita-kita yang memiliki anggota tubuh yang sempurna, tidak layak kiranya jika kita hanya mengeluh saja pada keadaan tanpa mau bekerja keras dan berusaha.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud