Cara Mengukur Kesiapan Brand Menerapkan Strategi Influencer Marketing

Influence Marketing

Seperti kita ketahui, influencer marketing sekarang bukanlah hal yang baru lagi. Strategi pemasaran dengan cara ini sangat banyak digunakan oleh para pebisnis karena dianggap efektif.

Menurut artikel di situs MarketingTechNews.net, industri ini (influencer marketing) diproyeksikan bisa mencapai $15 miliar secara global di tahun 2022. Sebelumnya di tahun 2019 pemasaran via influencer hanya mencapai angka $8 miliar.

Oleh karena itu, para manajer pemasaran sangat disarankan untuk terus menekankan strategi mereka pada influencer marketing.

Masih menurut laporan situs Marketing Tech News, 74% CMO (Chief Marketing Officer) yang disurvey tahun 2019-2020 oleh Gartner CMO Spend Survey mengatakan kalau mereka ingin meningkatkan budget untuk strategi social marketing (termasuk influencer marketing).

Sementara itu, 65%-nya digelontorkan untuk full atau pilot influencer campaign, yang kalau diestimasi angka ini bisa mencapai $6,5 miliar di tahun 2019. Walaupun data ini menunjukkan kalau influencer marketing itu penting, namun bukan berarti ini pekerjaan yang mudah.

Katalog yang digunakan di berbagai sosial media meningkatkan isu follower dan engagement yang tidak autentik. Selain itu, pemilihan influencer-nya saja sudah menjadi pekerjaan yang rumit.

Makanya, di sini seorang marketer ditantang dalam mengambil keputusan, apakah influencer yang dipilih cocok dengan strategi marketing yang lebih luas atau tidak.

Nah untuk menjawab tantangan ini, sangat penting bagi para marketer untuk melihat seberapa siap brand mereka bila ingin bekerjasama dengan seorang influencer. Berikut ini kami rangkumkan tipsnya.

Artikel terkait: Apa Itu Nano Influencer

1. Mengukur Hubungan Performa Brand dengan Influencer

Seorang marketer harus selalu memikirkan, apakah sebuah brand mampu meningkatkan engagement yang signifikan bila bekerjasama dengan influencer?

Menurut penelitian Gartner.com, marketer umumnya jauh lebih sukses dari pada para influencer dalam hal spesialitas retail, auto, konsumen elektroknik, dan activewear.

Sebaliknya, kebanyakan brand yang berhubungan dengan personal care, makanan dan minuman, kurang dikenal bila tidak menggunakan influencer. Oleh karena itu, kerjasama dengan seorang influencer untuk kategori ini dirasa perlu.

Karena brand bekerjasama dengan influencer untuk meningkatkan engagement dengan konsumen serta meningkatkan konversi penjualan, seorang marketer harus rajin memonitor faktor yang mengangkat sebuah brand seperti engagement rate dan pertumbuhan komunitas.

Dengan melakukan hal ini secara rutin, ini akan membantu Anda dalam menentukan apakah kerja sama dengan influencer itu perlu atau tidak.

2. Mengukur Hasrat Konsumen Terhadap Keinginan Melihat Konten dari  Influencer

Seorang marketer harus memikirkan apakah konsumennya ingin melihat berbagai konten dari influncer lainnya? Apakah konten yang sekarang tersedia sudah cukup?

Langkah ini sangat perlu karena ketika seorang konsumen ingin melihat lebih banyak konten dari influencer, karena ini akan menghilangkan berbagai kesalahpahaman yang mungkin tidak bisa disampaikan beberapa influencer lain di kategori tertentu.

Ada 79% orang yang disurvey pada bulan Oktober 2020 mengatakan kepada Gartner Consumer and Culture Panel bahwa mereka menikmati seluruh konten influencer, dan 43%-nya hanya ingin melihat di satu kategori saja.

Nah, ini bisa jadi jalan tengah bagi pemilik brand untuk mengeksplor produknya ke dalam beberapa kategori.

3. Evaluasi Relativitas Performa Brand Dengan Kompetitor

Perhatikan kompetitor di industri yang sama, apakah mereka menggunakan influencer sebagai salah satu strategi pemasaran?

Review penetrasinya dengan mengukur angka penggunaan influencer marketing atau aktifitas sponsored post dengan melihatnya di berbagai kanal sosial media.

Memahami marketplace lebih dalam akan membantu Anda dalam menentukan apakah perlu dan bagaiman Anda menggunakan strategi influencer marketing.

Hal ini mungkin saja menjadi bagian dari pengalaman konsumen dengan menggunakan konten influencer berjenis sponsored post atau berperan sebagai keunggulan kompetitif dan pembeda dalam kategori tertentu dengan low sponsored activity.

4. Petakan Pemilihan Influencer Dengan Pengalaman Konsumen

Setelah memutuskan kalau influencer marketing itu perlu, marketer harus menentukan influencer yang tepat.

Menurut penelitian Gartner.com, jika seorang influencer top mampu menjangkau audiens lebih besar, maka influencer kecil sangat membantu dalam meningkatkan engagement.

Nah, bila Anda masih berjelajah dengan influencer, mulailah dengan micro influencer yang jauh lebih murah dan potensi engagement-nya lebih tinggi. Pelajarilah hal ini sebagai stretegi efektif dalam membangun brand.

Iterasi influencer marketing membutuhkan strategi yang pas. Hal ini tidak hanya menentukan jenis influencer, tapi juga bagaimana sebuah brand bisa cocok dengan mereka.

Dan pendekatan yang paling pas adalah dengan menyelaraskannya dengan pengalaman konsumen.

Meskipun setiap brand memiliki pengalaman yang unik, konsumen cenderung akan melewatinya dan mereka lebih suka membeli langsung, agar bisa dimiliki, kemudian bisa mereferensikannya pada orang lain.

Para pemasar juga harus dapat mengidentifikasi di mana terjadinya friksi sepanjang pengalaman konsumen (misalnya proses pembelian, pertimbangan, pendaftaran), dan bagaimana kerja sama dengan influencer dapat menciptakan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi konsumen.

Formalisasi influencer ke dalam kerangka kerja ini akan memberikan tujuan yang jelas dengan hasil terukur bagi para pemasar untuk membantu menyelaraskan dan memetakan bentu kerjasama di masa depan.

Nanik Tri Widiyawati

Satu pemikiran pada “Cara Mengukur Kesiapan Brand Menerapkan Strategi Influencer Marketing”

  1. Bagaimana cara untuk menentukan micro influencer yang pas untuk merek produk kita?
    Adakah kiat-kiatnya?

    Artikelnya sangat bagus …

    Balas

Tinggalkan Balasan