Bintaro Peoples Market ~ Menyulap Resto Menjadi Tempat Nongkrong Populer

Bintaro Peoples Market (BPM)

Nongkrong merupakan sebuah aktivitas yang kini semakin menggeliat di kalangan kaum muda. Dan menariknya tempat-tempat nongkrong favorit itu bukan ada di mal, namun di tempat-tempat seperti cafe, resto ataupun kios. Tempat nongkrong yang banyak dimanfaatkan oleh para pemuda ini tentu sangat prospektif jika dikembangkan sebagai sebuah bisnis atau usaha.

Dengan modal kreativitas, tempat yang biasa bisa dijadikan tempat nongkrong yang luar biasa dan menarik pengunjung. Inilah yang dilakukan oleh Muchlis Yusuf yang merenovasi resto Burger ‘n Grill miliknya menjadi tempat nongkrong Bintaro Peoples Market (BPM).

Saat ini Bintaro Peoples Market (BPM) telah menjadi pilihan banyak orang untuk mengisi waktunya berkumpul, menikmati makanan atau hanya sekedar melepas penat. Lalu seperti apa kisah sukses Muchlis Yusuf membangun Bintaro Peoples Market yang telah menghasilkan omzet Rp 200 juta per bulan ini? Berikut ulasannya.

Artikel lain: Es Teler 77 ~ Peluang Usaha Resto Kuliner Indonesia

Mengubah Resto Menjadi Tempat Nongkrong

Bintaro Peoples Market berawal dari kegelisahan Muchlis melihat tingkat persaingan yang semakin ketat di pusat perbelanjaan Bintaro dan melihat ketenaran Pasar Santa sebagai tempat nongkrong yang populer. Maka ia pun mengubah resto miliknya menjadi sebuah tempat nongkrong baru dengan tetap mempertahakan restonya meski dengan ukuran yang lebih kecil. Sisa ruangnya ia buat beberapa kios untuk disewakan bagi pengusaha yang ingin membuka usahanya di Bintaro Peoples Market.

Namun, kehadiran beberapa pusat perbelanjaan di Bintaro membuat tempat ini seperti terkepung. Angin persaingan semakin kencang. “Di mal yang satu ada 30 tempat makan, sementara di mal yang lain lagi ada 50 tempat makan, jadi kami merasa tak boleh kalah saing,” kata Muchlis.

Saat merenovasi resto miliknya menjadi tempat nongkrong, Muchlis mengaku merogoh kocek Rp 2 miliar. Pembangunan kios sendiri berlangsung selama tiga minggu. 14 kios yang dibangunnya pun cukup unik, hingga kemudian memancing banyak orang untuk datang.

Bahkan beberapa kios di luar ruangan Muchlis kreasikan dari kontainer yang disulapnya menjadi tempat usaha yang unik dan berwarna-warni. Dari segi desain interior, Muchlis sangat concern seperti dengan penataan kursi yang menarik dan tidak saling mengganggu privasi pengujung.

Proses Seleksi

Satu hal yang dilakukan Muchlis untuk membuat Bintaro Peoples Market ini semakin menarik adalah dengan menyeleksi para pengusaha yang mau bergabung. Kriteria utama dari Muchlis dari proses seleksi ini adalah produk yang telah memiliki brand kuat. Dengan keberadaan brand-brand ternama ini Muchlis berharap akan terbantu secara lansung dalam promosi Bintaro Peoples Market yang tergolong baru ini.

Syarat berikutnya yang diberlakukan Muchlis adalah masing-masing penyewa kios tak boleh memiliki produk yang sama atau bahkan mirip. Tujuan yang diharapkan Muchlis adalah agar pengujung punya banyak pilihan. Saat ini, BPM telah menampung beberapa merek usaha, seperti Martabak Boss, Cheese Chicken, Pasta Counter, Nachos Letta’s Chicken, sate ayam RSPP, Breadpop, Cliff Noodl Bar, Barade Jajanan Bandung, Bintaro Stocks Concept Store, dan Kedai Biji Kopi.




Biaya Sewa dan Bagi Hasil

Untuk dapat membuka usaha di Bintaro Peoples Market, penyewa dikenakan biaya sewa Rp 4 juta– Rp 12 juta per bulan. Selain biaya sewa, Muchlis sebenarnya juga menerima tawaran bagi hasil untuk usaha yang memang belum bisa bayar sewa tempat. Asal usaha mereka memenuhi persyaratan yang diminta, maka Muchlis memberikan kesempatan kepada mereka yang dananya terbatas untuk bisa membuat kiosnya di Bintaro Peoples Market.

Untuk biaya listrik sendiri akan dibebankan pada penyewa. BPM sendiri akan menyediakan karyawan untuk membersihkan tempat serta pelayan tambahan untuk membantu karyawan penyewa jika dibutuhkan.

Baca juga: Bebek Kaleyo, Bisnis Kuliner Olahan Bebek Terkenal di Jabodetabek

Prospek Bintaro Peoples Market

Untuk prospek kedepan, Muchlis menilai bahwa konsep tempat nongkrong seperti BPM atau mungkin yang lainnya akan semakin cerah dan populer. Apalagi pemerintah DKI Jakarta kini mengeluarkan moratorium pembangunan mal. Jadi, masyarakat akan lebih tertarik untuk berkumpul di tempat-tempat nongkrong baru karena rata-rata orang-orang kota sudah bosan pergi ke mal. Dengan sasaran dan target kaum muda yang memiliki jumlah populasi yang cukup besar, maka prospek tempat nongkrong seperti BPM dan yang lainnya dirasa beberapa pihak akan tetap terus meningkat dan cerah.



Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

© 2018 Maxmanroe.com - All Rights Reserved. Server by GoCloud