Belajar Dari Ahlinya, 8 Startup Asal Indonesia ‘Menimba Ilmu’ di Markas Besar Google

Belajar Dari Ahlinya, 8 Startup Asal Indonesia ‘Menimba Ilmu’ di Markas Besar Google

startup launchpad accelerator
Image dari Suara.com

Bisnis #startup merupakan salah satu bentuk usaha yang paling populer saat ini. Karena telah banyak berdiri perusahaan tersebut baik itu di Indonesia maupun di segala penjuru dunia. Di samping itu dalam pengaplikasiannya cukup mudah, apalagi bila usaha tersebut di bangun secara tim maka akan terasa ringan untuk di jalankan.

Jika kita membicarakan mengenai seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan nantinya? Ya, jawabanya pasti besar alasannya ialah karena pangsa pasar pada saat ini yang terus mengalami grafik peningkatan yang tinggi, dan berbagai kebutuhan yang makin ke sini makin beragam.

Berkat Event Launchpad Accelerator

Sebanyak 24 perusahaan rintisan atau startup dari berbagai belahan dunia seperti India, Brazil, dan juga termasuk Indonesia singgah ke markas #Google. Di sana mereka ambil bagian untuk program Launchpad Accelerator yang telah di selenggarakan oleh pihak Google pada waktu lalu. Adapun perusahaan startup dari Indonesia yang ikut serta di event tersebut antara lain eFishery, HarukaEdu, Jojonomic, Kakatu, Kerjabilitas, Kurio, Setipe dan juga Seekmi.

Momen penting ini nyatanya tidak disia-siakan oleh perusahaan startup di Indonesia, dibuktikan dengan mengutus 8 perusahaan yang bergerak di bidang startup untuk bisa menimba ilmu langsung di markas besar Google. Karena banyak di sadari peluang penting tersebut tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Artikel lain: Launchpad Accelerator, Upaya Google Kembangkan Startup Indonesia

Menggali Pengalaman Bernilai Tinggi

Untuk diketahui sebelumnya, dalam pertemuan yang terjadi pada waktu lalu antara Presiden RI Joko Widodo dan CEO dari Google yaitu Sundar Pichai di Mountain View, California, Google memang telah berencana untuk membantu melatih 100.000 pengembang Startup untuk di proyeksikan pada tahun 2020 nanti. Dalam sebuah sesi wawancara, para perwakilan dari setiap startup tersebut di atas pun menceritakan pelajaran paling berharga yang telah mereka dapatkan saat menjalani proses pembelajaran di Mountain View.

Ini merupakan sebauh pengalaman hidup yang berharga, semua hal harus kami perhatikan kami diajarakan untuk membuat sebuah aplikasi harus melihat dari sisi user interface dan juga user experience, tutur Noviastar Rustandi, CEO dari Haruka Edu. Haruka Edu merupakan salah satu startup pendidikan yang membantu universitas juga lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, memiliki misi mengubah program kuliah tatap muka langsung menjadi program kuliah e-Learning. Jadi proses belajar mengajar bisa dilakukan lebih efisien dan efektif.

Sementara itu, Ruby Emir, CEO sekaligus founder dari perusahaan startup Kerjabilitas, yang memiliki tujuan penghubung penyandang disabilitas pencari kerja dan penyedia kerja. Menuturkan bahwa kami memiliki pengalaman dari LSM, sehingga kami tahu lapangan tapi itu tadi keterbatasan ilmu yang kami miliki di bidang produk. Jadi menurut Saya pengalaman ini betul-betul berharga bagi kami dan karyawan dalam membuat aplikasi.

Selain dari mentoring dan juga resource, perwakilan dari setiap startup tersebut mendapat bantuan dana masing-masing senilai US$ 50.000. Saat ditanya terkait dana tersebut, Erica Hanson selaku utusan dari Google memberi penjelasan bahwa untuk hal itu dikembalikan lagi ke setiap startup yang bersangkutan.

Menanggapi hal ini, David Wayne Ika, founder sekaligus CEO Kurio, startup dengan produk #aplikasi berita pintar, menuturkan kalau kami ingin memakainya untuk dialokasikan di marketing. Kalau rekan lain mungkin akan digunakan untuk meningkatkan user experience dan user interface, intinya kembali lagi kepada kebijakan masing-masing perusahaan tuturnya.

Program Berkelanjutan

Dalam kurun waktu 4 tahun ke depan, Google akan menjalin kerjasama dengan mitra perusahaan startup yang ada di seluruh Indonesia melalui tiga tahapan utama, untuk bisa mencapai target yang telah ditentukan yaitu 100.000 pengembang.

Tahap pertama Google sendiri akan bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi untuk bisa merangkul mahasiswa ilmu komputer pada semester terakhir mereka. Juga menerapkan kurikulum baru selama satu semester mengenai cara untuk mengembangkan aplikasi #Android di samping punya kualitas juga bisa bermanfaat bagi penggunanya.

Baca juga: Google Berencana Melatih 100 Ribu Pengembang Indonesia

Tahap kedua, Google tengah berusaha menerjemahkan semua kursus Udacity ke dalam bahasa Indonesia untuk menjangkau siapapun yang ingin mewujudkan ide membuat aplikasi. Nantinya kursus yang diselenggarakan ini akan diajarkan oleh utusan ahli langsung dari Google sendiri dari tim divisi Developer Relations Google. Tak kalah penting juga pengajaran ini bisa diakses secara gratis bagi Anda yang ingin ambil bagian, di mana saja dan menggunakan perangkat apa saja. Nantinya konten yang telah di terjemahkan tadi, diharapkan akan lebih mempermudah calon pengembang di Indonesia untuk bisa mulai berkarya.

Tahap ketiga, Google akan memperpanjang sesi komunitas studi yang telah sukses, dan nantinya akan diberi nama dengan Indonesia Android Academy. Ini merupakan sebuah wadah bagi setiap orang yang memiliki passion khususnya di bidang pembuatan aplikasi berbasis Android. Nantinya akan dibimbing oleh fasilitator yang juga menyediakan program bimbingan untuk semua tingkatan. Kelompok belajar ini akan diproyeksikan di beberapa kota antara lain Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan juga Yogyakarta, dan paling penting bisa menjangkau berbagai kalangan seluas-luasnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan